“Bangsa ini membutuhkan penguatan spiritual dan empati, terutama ketika masyarakat sedang diuji oleh bencana di berbagai daerah,” ujar Nusron yang kini memimpin Bidang Penanggulangan Bencana MUI.
HarianTanahAir | Jakarta Presiden Prabowo Subianto menghadiri pengukuhan dan ta’aruf pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2025–2030 di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (7/2). Namun di balik ramainya kehadiran lebih dari 58 ribu jamaah, momen ini memperlihatkan arah baru hubungan negara dan ulama. Selain itu juta penguatan institusi keislaman sebagai fondasi pembangunan bangsa.
Acara bertema “Bersatu dalam Munajat untuk Keselamatan Bangsa” tersebut menjadi simbol konsolidasi moral di tengah berbagai persoalan nasional, mulai dari bencana hidrometeorologi hingga kebutuhan penguatan karakter kebangsaan. Ribuan pengurus MUI daerah, pimpinan pesantren, hingga majelis taklim memadati Istiqlal sejak pagi, menegaskan besarnya ekspektasi publik terhadap peran keagamaan di ranah sosial dan kemasyarakatan.
Momentum Penegasan Peran Ulama dalam Arah Kebijakan Negara
Kehadiran sejumlah pejabat tinggi seperti Mensesneg Prasetyo Hadi, Seskab Teddy Indra Wijaya, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, serta mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menguatkan makna strategis acara ini. Ketua Panitia Nusron Wahid bahkan menekankan bahwa pengukuhan ini berlangsung di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap solidaritas sosial.
“Bangsa ini membutuhkan penguatan spiritual dan empati, terutama ketika masyarakat sedang diuji oleh bencana di berbagai daerah,” ujar Nusron yang kini memimpin Bidang Penanggulangan Bencana MUI.
Salah satu pengumuman paling krusial dari Presiden Prabowo adalah penyediaan lahan seluas 4.000 meter persegi di kawasan Bundaran HI untuk pembangunan gedung baru MUI serta lembaga-lembaga Islam lainnya. Langkah ini bukan sekadar pemenuhan kebutuhan fisik, melainkan strategi mengokohkan institusi umat di pusat ibu kota.
“Saya sudah menyediakan lahan sekitar 4.000 meter di depan Bundaran HI untuk gedung MUI dan badan-badan umat Islam,” ujar Prabowo yang disambut riuh jamaah. Gedung yang direncanakan setinggi 40 lantai itu akan menjadi pusat aktivitas keumatan modern—mulai dari MUI, Baznas, hingga lembaga keagamaan lain yang membutuhkan kantor representatif.
Keputusan ini merupakan tindak lanjut permintaan Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus Menteri Agama, Nasaruddin Umar, yang mendorong agar institusi Islam berada di lokasi strategis, sejajar dengan pusat ekonomi dan pemerintahan di jantung Jakarta.
Penguatan Dana Umat sebagai Pilar Kemandirian
Dalam pidatonya, Prabowo juga menyoroti potensi dana umat yang selama ini tersebar dan belum dikelola secara terintegrasi. Dengan tata kelola yang baik, ia memperkirakan potensi penghimpunan dana umat dapat mencapai Rp500 triliun per tahun. Langkah ini sejalan dengan rencana pembentukan lembaga pengelola dana umat yang menyatukan berbagai potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf ke dalam sistem yang lebih efektif untuk pendidikan, ekonomi, serta pengentasan kemiskinan.
Prabowo menutup sambutannya dengan menegaskan pentingnya kolaborasi ulama dan pemerintah sebagai fondasi stabilitas nasional. “Persatuan ulama dan umara adalah fondasi kebangkitan Indonesia. Setiap perbedaan harus kita selesaikan dengan musyawarah dan mufakat,” tegasnya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada pengurus baru MUI yang akan mengemban amanah dalam lima tahun ke depan, seraya berharap lembaga tersebut terus menjadi rujukan moral publik. Dengan berbagai pengumuman strategis tersebut, pengukuhan MUI periode 2025–2030 bukan hanya ritual organisasi.
Acara ini mengisyaratkan arah baru pembangunan peradaban Islam Indonesia yang lebih modern, terstruktur, dan berpengaruh.Penyediaan lahan di Bundaran HI dan dorongan untuk penguatan dana umat menjadi sinyal bahwa pemerintah menempatkan institusi Islam sebagai pilar penting pembangunan manusia sekaligus instrumen penguatan solidaritas bangsa. Acara yang berlangsung khidmat di Masjid Istiqlal ini pun mengukuhkan kembali MUI sebagai mitra strategis negara dalam menjaga kesatuan, kesejahteraan, dan masa depan umat.




















