HarianTanahAir | Jakarta Gerakan bersih-bersih bertajuk “Jaga Jakarta Bersih” pada Minggu (8/2) bukan sekadar aksi rutin mengangkut sampah atau menertibkan saluran air. Dengan mengerahkan lebih dari 171 ribu personel gabungan, Pemprov DKI tengah membangun pola kolaborasi baru yang dirancang untuk meningkatkan ketahanan kota menghadapi musim pancaroba dan potensi wabah penyakit.
Dalam aksi serentak tersebut, aparatur pemerintah, tenaga PJLP, TNI-Polri, hingga warga dari berbagai komunitas turun langsung di ratusan titik di seluruh wilayah Jakarta. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa mitigasi bencana kini tidak lagi semata urusan teknis, tetapi gerakan kolektif yang mengandalkan partisipasi publik.
Model Kolaborasi Skala Besar
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyebut gerakan ini sebagai langkah strategis memperkuat kesiapan kota menghadapi risiko banjir dan penyebaran demam berdarah. Menurutnya, penguatan ekosistem kebersihan menjadi pondasi Jakarta yang lebih stabil menghadapi perubahan iklim ekstrem. “Kerja bakti melibatkan 171.134 personel lintas instansi, didukung 60 ekskavator dan 144 dump truck di 66 titik prioritas,” ujarnya. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah kawasan Cipinang Melayu yang rentan genangan dan penyumbatan saluran air.
Pemprov DKI juga menggandeng PMI se-DKI Jakarta untuk memastikan ketersediaan alat pendukung: 5.000 cangkul, 5.000 sekop, 10.000 gerobak dorong, dan 3.000 karung sampah. Pembagian dilakukan proporsional di tiap wilayah administratif untuk menjaga efektivitas kerja. Kolaborasi masif ini sekaligus menjadi bentuk nyata implementasi Instruksi Sekda Nomor 2 Tahun 2026.
Bersih-Bersih sebagai Strategi Mitigasi Kesehatan Publik
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menegaskan bahwa gerakan ini bukan hanya urusan estetika kota. Kebersihan lingkungan berperan langsung pada menurunnya risiko jentik nyamuk dan penyebaran DBD—ancaman tahunan saat pancaroba.
“Fogging itu hanya mematikan nyamuk dewasa. Pencegahan paling efektif tetap pada kebersihan menyeluruh dan prinsip 3M,” jelasnya ketika meninjau Cempaka Putih. Dengan membersihkan semak-semak, mengeringkan genangan, dan memperbaiki aliran air, pemerintah ingin mengajak warga memahami bahwa mitigasi kesehatan harus dimulai dari lingkungan terdekat.
Sekda DKI Jakarta, Uus Kuswanto, menggambarkan kebersihan sebagai bagian integral dari mitigasi bencana. “Kebersihan adalah pondasi pencegahan banjir dan penyebaran penyakit. Menjaga Jakarta itu kewajiban bersama,” ujarnya saat memimpin aksi di Waduk Cincin. Ia berharap gerakan Jaga Jakarta Bersih tidak berhenti menjadi kegiatan seremonial, melainkan berubah menjadi kebiasaan warga.
Peran TNI-Polri Perkuat Kewaspadaan Bencana
Instruksi penguatan kebersihan wilayah ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai pembangunan lingkungan yang bersih dan tangguh. Pangdam Jaya, Mayjen TNI Deddy Suryadi, menyebut kegiatan bersih-bersih lintas wilayah sebagai bagian dari edukasi publik terkait bahaya sampah. “Di Tangerang saja, satu hari bisa terkumpul 60 ton sampah. Ini menunjukkan betapa besar dampaknya terhadap potensi bencana,” katanya. Sementara Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Asep Edi Suheri, menekankan agenda ini sebagai bagian dari manajemen risiko banjir. Ia membuka peluang menjadikan kegiatan semacam ini sebagai program rutin, misalnya melalui Jumat Bersih.
Melalui kerja bakti terbesar sepanjang awal 2026 ini, Pemprov DKI ingin menumbuhkan kedisiplinan publik terhadap kebersihan dan pengelolaan lingkungan. Gerakan ini menjadi momentum memperkuat kota menuju Jakarta yang aman, sehat, dan berketahanan, di mana mitigasi bencana dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan bersama-sama.




















