HARIANTANAHAIR.COM | JAKARTA — Partai politik kerap sibuk ketika panggung politik dibuka. Namun bagi Ketua DPC PKB Jakarta Utara Tri Waluyo, ukuran keberadaan kader justru diuji ketika tidak ada pemilu, kampanye, atau agenda partai.
Tri meminta kader PKB di Jakarta Utara memperkuat kepedulian dan pelayanan kepada masyarakat. Ia ingin kader hadir sebagai penghubung warga dengan berbagai layanan pemerintah, mulai dari kesehatan, pendidikan, kesejahteraan hingga bantuan sosial.
Pesan itu disampaikan Tri dalam pengantar Musyawarah Anak Cabang (Musancab) PKB se-Jakarta Utara di Hotel Swiss-Belhotel Kemayoran, Jakarta, Sabtu, 19 September 2026.
“Kita harus hadir di masyarakat. Minimal kita itu bermanfaat untuk tetangga sekitar kita.”
Bagi Tri, kerja politik tidak berhenti pada struktur organisasi. Kader di tingkat kecamatan hingga ranting justru memiliki posisi paling dekat dengan persoalan warga. Mereka bisa mengetahui persoalan administrasi, kesulitan mengakses program pemerintah, hingga kebutuhan masyarakat yang sering luput dari perhatian.
Persoalannya, tidak semua warga memahami cara mengakses berbagai program pemerintah daerah. Informasi mengenai layanan kesehatan, pendidikan, bantuan sosial, dan program kesejahteraan kerap terhenti pada persoalan administratif.
Di titik itulah Tri mendorong kader PKB mengambil peran.
Ia mengatakan kader perlu dibekali pemahaman mengenai administrasi dan pendataan agar dapat membantu masyarakat memperoleh informasi serta mengakses program yang sesuai dengan kebutuhannya.
“Pelayanan masyarakat harus menjadi bagian dari kerja organisasi sehari-hari. Kader tidak cukup hanya hadir ketika ada agenda politik,” kata Tri.
Pernyataan itu sekaligus menempatkan kerja pelayanan sebagai bagian dari kehidupan organisasi, bukan sekadar kegiatan tambahan menjelang momentum politik.
Tri meminta komunikasi antara kader dan masyarakat dibangun secara berkelanjutan. Dengan komunikasi yang lebih dekat, persoalan warga diharapkan dapat diketahui lebih awal sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Semangat tersebut, kata dia, harus berjalan berjenjang dari DPC, pimpinan anak cabang (PAC), hingga ranting.
Targetnya sederhana: organisasi tidak berjarak dengan masyarakat.
“Minimal kita bermanfaat dan kita hadir untuk masyarakat,” ujar Tri.
Pada akhirnya, keberadaan sebuah partai di tengah masyarakat memang tidak hanya diukur dari seberapa ramai struktur organisasinya atau seberapa sering kader tampil di panggung politik.
Ukuran yang lebih dekat dengan kehidupan warga justru sederhana: ketika seorang warga menghadapi persoalan, apakah ada orang yang bisa membantu menunjukkan jalan?
Bagi PKB Jakarta Utara, Tri ingin jawaban atas pertanyaan itu datang dari kader-kadernya sendiri.

























