HARIANTANAHAIR.COM | JAKARTA — Transportasi publik Jakarta terus berkembang. Armada bertambah, rute diperluas, dan sejumlah titik transit dibangun untuk mempertemukan berbagai moda. Namun bagi warga, ukuran keberhasilan transportasi publik sebenarnya sederhana: seberapa mudah perjalanan dimulai dan seberapa mulus perjalanan itu berakhir.
Persoalan akses menjadi penting karena warga tidak selalu tinggal tepat di depan halte atau stasiun. Ada yang harus berjalan cukup jauh, berpindah kendaraan pengumpan, menyeberang jalan, atau berganti moda sebelum mencapai tujuan.
Karena itu, pembangunan transportasi publik tidak cukup berhenti pada penyediaan armada. Konektivitas dari permukiman menuju halte, integrasi antarmoda, kenyamanan fasilitas, hingga kemudahan bagi kelompok rentan harus menjadi bagian dari satu sistem.
Anggota DPRD DKI Jakarta Muhammad Lefy mendorong agar kemudahan akses menjadi perhatian dalam pengembangan transportasi publik Jakarta. Menurut dia, transportasi umum harus semakin dekat dengan kebutuhan sehari-hari warga.
Pandangan tersebut menempatkan transportasi publik bukan semata sebagai proyek infrastruktur, melainkan sebagai bagian dari pelayanan dasar perkotaan.
Sebab bagi pekerja yang setiap hari berangkat ke pusat kota, pelajar yang menuju sekolah atau kampus, maupun warga yang membutuhkan layanan kesehatan, satu titik transit yang sulit dijangkau bisa membuat perjalanan menjadi jauh lebih panjang.
Masalahnya bukan selalu tidak ada transportasi. Kadang transportasinya ada, tetapi akses menuju transportasi itulah yang masih menyulitkan.
Jakarta sendiri telah memiliki jaringan transportasi publik yang semakin terintegrasi. Transjakarta, MRT Jakarta, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, KRL Commuter Line, hingga layanan mikrotrans membentuk jaringan mobilitas yang semakin luas.
Tantangannya kini adalah memastikan jaringan tersebut benar-benar terasa sebagai satu sistem oleh warga.
Integrasi juga berarti memastikan perpindahan moda tidak menjadi “biaya tersembunyi” dalam perjalanan. Warga seharusnya tidak dipaksa menghadapi jarak berjalan yang tidak nyaman, informasi yang membingungkan, atau akses yang tidak ramah bagi penyandang disabilitas dan kelompok lanjut usia.
Di titik inilah perhatian terhadap akses menjadi penting.
Muhammad Lefy melihat penguatan transportasi publik perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelayanan. Semakin mudah masyarakat menjangkau transportasi umum, semakin besar pula peluang kendaraan pribadi tidak menjadi satu-satunya pilihan untuk bepergian di Jakarta.
Gagasan itu juga sejalan dengan kebutuhan Jakarta sebagai kota metropolitan yang terus menghadapi persoalan kemacetan dan kepadatan mobilitas.
Transportasi publik pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak bus yang beroperasi atau berapa panjang jalur kereta dibangun. Ukurannya juga tentang apakah seorang warga dari rumahnya dapat mencapai halte dengan aman, mengetahui kapan kendaraan datang, berpindah moda dengan mudah, lalu tiba di tujuan tanpa perjalanan terasa seperti rangkaian hambatan.
Karena itu, dorongan agar akses transportasi semakin mudah bukan perkara teknis semata. Ia menyangkut bagaimana Jakarta memperlakukan waktu warganya.
Muhammad Lefy mendorong agar pembangunan transportasi publik terus bergerak ke arah itu: lebih mudah dijangkau, lebih terhubung, dan semakin dekat dengan kebutuhan warga.
Sebab transportasi publik yang baik bukan yang sekadar tersedia di peta.
Transportasi publik yang baik adalah yang benar-benar bisa digunakan warga dalam kehidupan sehari-hari.

























