Festival Jejak Jajanan Nusantara digelar 6–8 Maret 2026 di GBK Jakarta. Lebih dari 40 UMKM terkurasi hadir, lengkap dengan Klinik UMKM dan layanan HKI untuk memperkuat ekonomi rakyat.
HarianTanahAir | Jakarta ~ Aroma jajanan tradisional, hiruk pikuk pengunjung, hingga kreativitas para pelaku usaha lokal akan berpadu dalam Festival Jejak Jajanan Nusantara yang digelar di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Festival kuliner yang berlangsung pada 6–8 Maret 2026 ini tidak sekadar menjadi tempat berburu makanan khas dari berbagai daerah. Pemerintah merancangnya sebagai ruang pemberdayaan ekonomi rakyat sekaligus panggung bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk berkembang.
Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat menilai festival ini sebagai model baru penguatan ekonomi berbasis kolaborasi.
Deputi Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kemenko PM, Leontinus Alpha Edison, mengatakan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memperkuat ekosistem UMKM secara lebih terstruktur.
“Fokus utama Kemenko PM adalah memperkuat ekosistem UMKM dengan membuka akses pasar yang lebih luas melalui kurasi produk berkualitas dan berdaya saing tinggi,” ujarnya di Jakarta, Selasa.
Lebih dari 40 UMKM Terkurasi
Dalam festival ini, lebih dari 40 tenant UMKM terkurasi akan ambil bagian dengan membawa berbagai jajanan khas Nusantara.
Mulai dari kudapan tradisional hingga inovasi kuliner modern akan ditampilkan sebagai representasi kekayaan gastronomi Indonesia. Festival ini juga menjadi wadah bagi para pelaku usaha lokal untuk menunjukkan kreativitas mereka dalam mengolah makanan tradisional menjadi produk yang lebih kompetitif.
Bagi sebagian pelaku UMKM, festival ini bahkan menjadi pengalaman pertama mereka tampil di ajang bazar besar.
Leontinus menyebut kesempatan tersebut sangat penting untuk membuka akses pasar baru bagi para pelaku usaha kecil.
“Ini menjadi kesempatan bagi UMKM yang belum pernah terlibat dalam kegiatan seperti bazar atau festival untuk memasarkan dan memperkenalkan produknya secara langsung kepada masyarakat,” katanya.
Ada Klinik UMKM dan Konsultasi Hak Kekayaan Intelektual
Tidak hanya menghadirkan bazar kuliner, festival ini juga dilengkapi dengan berbagai program pendampingan usaha.
Kemenko PM menghadirkan Klinik UMKM, yakni pusat layanan konsultasi gratis bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas bisnis mereka.
Melalui klinik ini, pelaku UMKM dapat memperoleh pendampingan terkait manajemen usaha, legalitas bisnis, hingga strategi pengembangan produk.
“Klinik ini menjadi instrumen penting untuk memastikan UMKM memiliki fondasi usaha yang legal, profesional, dan berkelanjutan,” jelas Leontinus.
Selain itu, tersedia pula Klinik HKI (Hak Kekayaan Intelektual) yang memberikan layanan konsultasi dan fasilitasi pendaftaran berbagai bentuk kekayaan intelektual.
Mulai dari merek dagang, paten, hak cipta, hingga desain industri dapat didaftarkan oleh para pelaku UMKM agar produk mereka memiliki perlindungan hukum.
Perlindungan ini dinilai penting untuk mencegah pembajakan sekaligus meningkatkan nilai tambah produk lokal di pasar.
Kuliner Nusantara sebagai Kekuatan Ekonomi
Festival Jejak Jajanan Nusantara juga menjadi pengingat bahwa kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi juga potensi ekonomi yang besar.
Dengan jumlah pelaku UMKM yang mencapai puluhan juta di Indonesia, sektor kuliner menjadi salah satu tulang punggung ekonomi rakyat.
Melalui festival ini, pemerintah berharap UMKM tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga naik kelas—dari usaha kecil menjadi brand lokal yang memiliki daya saing lebih luas.
Jika berhasil, konsep festival seperti ini berpotensi menjadi model pengembangan ekonomi berbasis komunitas yang bisa diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. (AKH)





















