Menjelang Muktamar ke-35 NU, Gus Lilur mengungkap dinamika internal yang kian mengerucut. Istilah “paslon” hingga manuver elite jadi sorotan panas.
HarianTanahAir | Jakarta ~ Menjelang gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, suhu politik organisasi mulai terasa hangat. Dinamika tak lagi sekadar wacana, tetapi sudah menjelma menjadi peta kekuatan yang kian terang—meski tetap bergerak cair.
Tokoh Nahdliyin yang juga dikenal sebagai kiai kampung, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, secara terbuka membedah situasi ini. Ia bahkan menggunakan istilah tak lazim dalam tradisi NU: “paslon” alias pasangan calon.
“Istilah ini memang tidak dikenal secara formal dalam struktur NU, tapi dalam praktik politik organisasi, ini membantu membaca realitas yang sedang terjadi,” ujar Gus Lilur, Rabu (29/4/2026).
AHWA: Arena Sunyi yang Tak Sepi Kepentingan
Secara aturan, posisi Rais Aam di NU dipilih melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Namun, menurut Gus Lilur, ruang ini tidak sepenuhnya steril dari pengaruh.
“Komposisi AHWA sering kali sudah ‘dikondisikan’ sejak awal. Di situlah arah pemilihan sebenarnya mulai ditentukan,” tegasnya.
Isu terbaru bahkan menyebut adanya manuver dari Sekjen PBNU, Saifullah Yusuf, yang disebut tidak menginginkan dua kiai masuk dalam AHWA: KH. Nurul Huda Jazuli dan KH. Kafabihi Makhrus.
Meski masih sebatas informasi yang berkembang, Gus Lilur melihat ini sebagai sinyal bahwa pertarungan Muktamar tidak terjadi di arena voting semata, tetapi sudah berlangsung sejak tahap penentuan “siapa yang berhak memilih”.
Peta ‘Paslon’ Mulai Mengkristal
Dari pembacaan Gus Lilur, setidaknya ada beberapa poros yang mulai terlihat:
- Yahya Cholil Staquf tetap berada di jalur Ketua Umum, namun masih mencari pasangan ideal untuk Rais Aam.
- Saifullah Yusuf cenderung mempertahankan posisi Sekjen, sembari mendorong Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam.
- Poros yang beririsan dengan Partai Kebangkitan Bangsa mendorong skema tertentu dengan Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam.
- Jaringan yang dekat dengan Kementerian Agama Republik Indonesia mulai melirik Nazaruddin Umar sebagai kandidat Ketua Umum.
- Skenario “paslon alternatif” tetap terbuka, biasanya muncul di detik-detik akhir saat tak ada poros dominan.
Menurut Gus Lilur, dinamika ini bahkan bisa mengarah pada koalisi besar jika figur seperti Muhaimin Iskandar, Nusron Wahid, dan Nazaruddin Umar bertemu dalam satu konfigurasi.
“Kalau itu terjadi, bukan tidak mungkin hasil Muktamar sudah ‘selesai’ sebelum forum resmi digelar,” ujarnya.
Faktor Kiai Pesantren: Penentu Tak Tertulis
Namun seperti tradisi NU, semua kalkulasi politik itu tetap harus melewati satu variabel kunci: kiai pesantren.
Mereka kerap menjadi penentu akhir yang tidak selalu bisa dibaca dengan pendekatan politik formal.
Di sisi lain, muncul pula pertanyaan soal tidak berlanjutnya “paket lama” antara Yahya Cholil Staquf dan Miftachul Akhyar. Menurut Gus Lilur, perubahan konfigurasi biasanya mencerminkan adanya perbedaan strategi hingga perebutan pengaruh.
“Bisa karena beda arah, beda jaringan, atau beda cara membaca masa depan NU,” katanya.
Masih Cair, Tapi Arah Sudah Terlihat
Sejumlah komunikasi politik juga terus berlangsung. Disebutkan, Gus Yahya telah menjalin komunikasi dengan Said Aqil Siradj untuk posisi Rais Aam, meski belum mendapat jawaban pasti.
Ia juga disebut memiliki modal awal sekitar 40 persen dukungan—angka yang cukup signifikan, namun belum menjamin kemenangan.
Jika skenario berubah, nama seperti Ma’ruf Amin hingga Asep Saifuddin Halim bisa masuk dalam bursa Rais Aam.
Bagi Gus Lilur, istilah “paslon” bukan sekadar istilah teknis. Ia adalah cara membaca bahwa kepemimpinan NU selalu lahir dari konfigurasi dua poros: Rais Aam dan Ketua Umum.
“Di balik itu, selalu ada pertarungan yang lebih dalam—tentang arah NU ke depan,” pungkasnya. (AKH)























