HARIANTANAHAIR.COM | CIREBON — Pesantren menghadapi persoalan yang tak selalu datang dari luar pagar lembaga pendidikan Islam. Perubahan zaman, pola pendidikan, hingga pergeseran minat masyarakat ikut menguji kemampuan pesantren mempertahankan kepercayaan publik.
Persoalan itu menjadi salah satu sorotan dalam Workshop Pesantren Rintisan angkatan ke-4 yang digelar Imam Jazuli Foundation di Hotel Aston Cirebon, Jawa Barat, Ahad, 20 September 2026.
Sebanyak 680 pengasuh pesantren rintisan asal Jawa Tengah yang lolos seleksi mengikuti kegiatan tersebut. Workshop berlangsung sekitar tiga setengah jam, dari pukul 13.30 hingga 17.00 WIB.
Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, mengatakan perubahan tidak bisa dihadapi dengan cara lama. Menurut dia, kemampuan membaca perubahan dan mengambil keputusan secara cepat menjadi salah satu penentu keberlangsungan sebuah lembaga pendidikan.
“Bayangkan, korporasi besar saja bisa tumbang oleh perubahan. Bukan mereka tidak ahli, tetapi terlambat atau menolak untuk merespons perubahan dengan cepat dan tepat,” kata Imam Jazuli.
Menurut Imam, persoalan serupa dapat terjadi di dunia pendidikan. Ada lembaga baru yang tumbuh cepat, sementara lembaga yang telah lama berdiri justru mengalami kemunduran.
Karena itu, perubahan, kata dia, harus dimulai dari pengasuh pesantren. Keputusan yang cepat, jelas, dan otoritatif diperlukan ketika pesantren harus beradaptasi dengan perubahan.
“Kepemimpinan menentukan faktor sukses dan gagal dari sebuah perubahan,” ujarnya.
Pesantren Rintisan dan Pesantren Warisan
Imam juga membandingkan perkembangan pesantren rintisan dengan sejumlah pesantren warisan. Menurut dia, sebagian pesantren baru mampu berkembang dalam waktu relatif singkat karena merespons perubahan dengan cepat.
Ia menyebut ada pesantren rintisan yang baru berusia sekitar satu dekade tetapi telah memiliki ribuan santri. Sebaliknya, terdapat pesantren warisan yang mengalami penurunan jumlah pendaftar.
“Dulu yang daftar ribuan, kini pendaftarnya hanya ratusan,” kata Imam.
Namun, ia mengingatkan pengasuh pesantren agar tidak melihat sesama pesantren sebagai kompetitor yang harus dikalahkan. Pasar pendidikan pesantren, menurut dia, masih sangat luas.
Imam menyebut jumlah penduduk Indonesia usia sekolah hampir mencapai 54 juta orang. Sementara jumlah anak yang belajar di pesantren sekitar 2,7 juta atau belum mencapai 10 persen.
Angka itu, menurut dia, menunjukkan ruang pertumbuhan pesantren masih terbuka. Tantangannya adalah bagaimana pesantren mampu menawarkan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan karakter dasarnya.
Workshop tersebut membahas persoalan yang lebih teknis: pengelolaan kelembagaan, status organisasi, sumber daya manusia, hubungan dengan santri dan wali santri, hingga pembangunan merek pesantren.
Program ini menargetkan 10 ribu pengasuh pesantren di seluruh Indonesia. Hingga angkatan ke-4, penyelenggara menyebut lebih dari 2.000 pengasuh telah mengikuti rangkaian lokakarya tersebut.
Kiai Anwar: Jangan Pisahkan Ilmu Agama dan Ilmu Umum
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Anwar Iskandar, yang menjadi keynote speaker, membawa pembahasan ke arah yang lebih mendasar: untuk apa pesantren mendidik santri?
Menurut Anwar, pesantren tidak cukup hanya menghasilkan orang yang menguasai ilmu agama. Pesantren juga harus mampu melahirkan pemimpin yang sanggup menjawab kebutuhan masyarakat.
Ia mengingatkan pengasuh agar membekali santri dengan ilmu yang sesuai dengan perkembangan zaman. Ilmu itu tidak harus berhenti pada bidang keagamaan, tetapi dapat mencakup hukum, teknik, pertanian, dan disiplin lainnya.
“Semua ilmu milik Allah SWT dan akan menghasilkan manfaat bagi yang mempelajarinya,” kata Anwar.
Ia juga mengkritik pemisahan yang terlalu kaku antara ilmu agama dan ilmu umum. Menurut Anwar, pendidikan pesantren perlu melihat ilmu secara lebih luas agar santri mempunyai kemampuan menghadapi persoalan masyarakat.
“Dikotomi ilmu yang melahirkan pemisahan sempit antara ilmu agama dan ilmu umum itu warisan kaum penjajah,” ujarnya.
Bagi Anwar, kemampuan menghadapi tantangan merupakan bagian dari proses pendidikan itu sendiri. Ia mengingatkan para pengasuh pesantren bahwa merintis dan mengembangkan lembaga pendidikan membutuhkan kemauan kuat.
“Hidup adalah tantangan, dalam menghadapinya akan mendapatkan ilmu dan ilmu adalah modal sukses,” kata dia.
Pada akhirnya, pesantren dihadapkan pada dua kebutuhan yang berjalan beriringan: menjaga akar tradisi sekaligus membaca perubahan. Workshop itu menempatkan kepemimpinan pengasuh, relevansi pendidikan, dan kemampuan mengelola lembaga sebagai bagian dari pekerjaan rumah tersebut.
Agenda kemudian ditutup dengan pengijazahan Dalailul Khairat. Tokoh NU Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur menyebut aspek spiritual sebagai bagian lain yang diperlukan dalam merintis pesantren.
Menurut dia, pengembangan pesantren membutuhkan perpaduan antara ikhtiar pengelolaan lembaga dan kekuatan spiritual.
Dengan begitu, pesantren rintisan tidak hanya dituntut untuk bertahan. Tantangannya lebih besar: bagaimana tumbuh tanpa tercerabut dari akar, dan berubah tanpa kehilangan alasan mengapa pesantren didirikan.

























