HARIANTANAHAIR.COM | JAKARTA — Sebuah lahan bekas kebakaran dan tempat pembuangan sampah di RW 08, Pademangan Timur, Jakarta Utara, kini punya cerita baru. Di tempat yang sebelumnya nyaris tak memiliki fungsi itu, warga kini memiliki ruang untuk membaca, bermain, berolahraga, bercocok tanam, atau sekadar duduk bersama.
Ruang tersebut bernama Taman Literasi RW 08. Taman ini diresmikan pada 2 Oktober 2026 dan dihadiri Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PKB, Hengky Wijaya, bersama Bank Jakarta dan sejumlah pihak yang terlibat dalam pembangunannya.
Hengky mengatakan keberadaan taman tersebut bermula dari aspirasi warga. Keinginan masyarakat untuk memiliki ruang publik kemudian dikawal melalui kolaborasi hingga akhirnya menjadi fasilitas yang dapat digunakan bersama.
“Pembangunan taman ini berawal dari aspirasi masyarakat. Ketika aspirasi itu dikawal dan berbagai pihak mau berkolaborasi, akhirnya terwujud ruang publik yang bisa dinikmati bersama,” ujar Hengky.
Taman itu dilengkapi area bermain anak, gazebo, sarana olahraga, dan kebun hidroponik. Hengky juga menyerahkan bantuan tong sampah pilah secara simbolis kepada pengurus setempat.
Bukan Sekadar Mempercantik Lingkungan
Bagi kota sepadat Jakarta, ruang publik bukan perkara kecil. Di antara rumah yang berhimpitan dan aktivitas warga yang tak pernah benar-benar berhenti, ruang untuk sekadar berhenti, bermain dan bertemu menjadi kebutuhan yang kerap luput dari perhatian.
Karena itu, perubahan lahan di Pademangan Timur bukan semata soal mengubah tempat kumuh menjadi taman. Yang berubah adalah fungsi sebuah ruang: dari tempat yang sebelumnya menampung sampah menjadi tempat yang menampung aktivitas warga.
Anak-anak memperoleh ruang bermain. Warga memiliki tempat berolahraga. Gazebo menjadi ruang bertemu. Kebun hidroponik membuka aktivitas produktif. Sementara taman literasi memberi kemungkinan bagi warga untuk menjadikan ruang publik sebagai tempat belajar.
Di titik itu, pembangunan tidak lagi sekadar dihitung dari berapa meter persegi lahan yang dibangun atau berapa fasilitas yang tersedia. Ukurannya adalah apakah ruang tersebut benar-benar hidup setelah peresmian selesai.
Menghidupkan Jakarta dari Tingkat RW
Hengky menilai pembangunan taman tersebut memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara warga, pemerintah dan pihak swasta dalam menjawab kebutuhan lingkungan.
“Yang paling penting setelah taman ini selesai adalah bagaimana warga ikut menjaga dan menghidupkannya. Jangan sampai hanya bagus ketika diresmikan,” kata dia.
Pesan itu menjadi penting karena keberhasilan sebuah ruang publik justru dimulai setelah seremoni berakhir. Taman akan memiliki arti jika anak-anak datang bermain, warga berolahraga, keluarga berkumpul dan masyarakat bersama-sama merawatnya.
Dari lahan bekas kebakaran dan tempat pembuangan sampah, warga RW 08 kini memiliki ruang bersama. Perubahannya mungkin hanya terjadi di satu sudut Pademangan. Namun gagasannya lebih besar: Jakarta tidak hanya dibangun dari pusat kota dan proyek-proyek besar.
Jakarta juga dihidupkan dari gang, kampung dan lingkungan tempat warganya tinggal.
Bersama menghidupkan Jakarta, pada akhirnya, berarti memastikan setiap sudut kota punya ruang bagi manusia untuk hidup, bertemu dan tumbuh bersama.




























