Hari Santri Bukan Cuma Peringatan, Garda Bangsa Punya Cara Merayakan
HARIANTANAHAIR I JAKARTA — Kalau mendengar kata santri, yang terbayang mungkin sarung, kitab kuning, dan suasana pesantren yang tenang. Padahal, dunia santri tidak sesempit itu. Ada kreativitas, prestasi, dan anak-anak muda yang punya banyak cara untuk ikut membangun negeri.
Semangat itulah yang terasa dalam Pekan Kreativitas Santri Nusantara bertajuk Dari Santri untuk Negeri yang digelar DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DKI Jakarta, Sabtu (31/10/2026).
Bertempat di kantor DPW PKB DKI Jakarta, kegiatan ini menjadi salah satu cara merayakan Hari Santri Nasional. Bukan sekadar mengingat sejarah, tetapi juga memberi ruang bagi santri untuk menunjukkan bahwa mereka punya potensi yang layak diperhitungkan
Di balik kegiatan ini, ada Garda Bangsa, organisasi kepemudaan yang menjadi sayap pemuda PKB. Garda Bangsa punya ruang untuk mempertemukan semangat anak muda dengan nilai-nilai kebangsaan yang selama ini lekat dengan tradisi pesantren.
Kalau selama ini santri kerap ditempatkan sebagai penjaga tradisi, Garda Bangsa ingin ikut menunjukkan sisi lainnya: santri juga bisa menjadi bagian dari perubahan. Tradisi tetap dijaga, kreativitas terus dikembangkan. Dua hal yang sebenarnya tidak perlu dipertentangkan.
Dari Pesantren, untuk Masa Depan
Sekretaris Wilayah PKB DKI Jakarta, H. Mohammad Fauzi, mengatakan bahwa Hari Santri bukan sekadar agenda seremonial tahunan.
“Bagi kami, Hari Santri bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi momentum untuk mengingat kembali kontribusi santri dan pesantren dalam perjuangan bangsa, sekaligus peran mereka dalam menjaga nilai-nilai keagamaan, kebangsaan, dan persatuan,” ujarnya.
Kedekatan PKB dengan pesantren dan kalangan santri, menurut Fauzi, juga membawa tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menggelar perayaan.
Di Jakarta, misalnya, masih ada pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian. Mulai dari legalitas dan status lahan pesantren, infrastruktur, akses pendidikan, hingga beasiswa bagi santri yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Sebab, semangat menuntut ilmu tentu perlu dibarengi kesempatan yang memadai. Jangan sampai cita-cita sudah setinggi langit, tetapi urusan fasilitas masih membuat langkah tersendat.
PKB, kata Fauzi, ingin memastikan pesantren mendapatkan perhatian yang layak melalui perjuangan kebijakan yang berpihak pada kebutuhan mereka.
“Santri bukan hanya bagian dari sejarah bangsa, tetapi juga bagian penting dari masa depan Indonesia. Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memastikan mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat,” tuturnya.
Garda Bangsa Ingin Hari Santri Tak Berhenti di Sini

Bagi Garda Bangsa DKI Jakarta, peringatan Hari Santri tahun ini diharapkan menjadi awal dari kegiatan yang lebih berkelanjutan.
Ketua Garda Bangsa DKI Jakarta, H. Ivan Kuswanto, berharap peringatan serupa dapat digelar rutin setiap tahun. Namun, ada rencana menarik untuk pelaksanaan berikutnya: jika tahun ini berlangsung di kantor DPW PKB, tahun depan kegiatan diharapkan bisa menyambangi pesantren-pesantren di Jakarta.
Dengan begitu, perayaan tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga bisa lebih dekat dengan lingkungan tempat para santri belajar dan bertumbuh.
Garda Bangsa juga berencana memberikan penghargaan kepada santri berprestasi sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi agar mereka semakin bersemangat menuntut ilmu.
“Harapan saya, ke depannya Garda Bangsa DKI Jakarta dapat rutin mengadakan peringatan Hari Santri setiap tahun. Jika tahun ini dilaksanakan di DPW, tahun depan kami berencana menyelenggarakannya di pesantren-pesantren yang ada di DKI Jakarta,” ujar Ivan.
Ia menambahkan, Garda Bangsa ingin memberikan apresiasi kepada para santri yang memiliki prestasi akademik dan hasil belajar yang baik.
Rencana ini tentu menarik. Sebab, perhatian kepada santri bukan cuma soal mengingat jasa mereka pada masa lalu, melainkan juga menghargai usaha mereka hari ini. Prestasi yang lahir dari ruang kelas, asrama, dan kesungguhan belajar layak mendapat panggung.
Di sinilah Garda Bangsa punya kesempatan untuk mengambil peran lebih jauh: menjadi ruang bagi anak muda untuk berkontribusi, sekaligus membangun kedekatan dengan komunitas pesantren.
Santri Punya Cerita, Anak Muda Punya Peran
Pekan Kreativitas Santri Nusantara membawa pesan sederhana: santri dan anak muda tidak harus memilih antara menjaga tradisi atau mengikuti perkembangan zaman.
Keduanya bisa berjalan beriringan. Nilai-nilai pesantren bisa menjadi bekal untuk menghadapi dunia yang terus berubah, sementara kreativitas membuka jalan bagi santri untuk mengambil peran lebih luas di tengah masyarakat.
Bagi PKB dan Garda Bangsa, Hari Santri menjadi pengingat bahwa dukungan terhadap pesantren tidak cukup berhenti pada ucapan selamat. Perlu ada ruang berkarya, perhatian terhadap kebutuhan pendidikan, serta kesempatan bagi santri untuk mengembangkan potensinya.
Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya dibangun dari ruang rapat atau gedung-gedung tinggi. Ia juga tumbuh dari pesantren, dari anak-anak muda yang tekun belajar, dan dari kesempatan yang terbuka bagi siapa saja untuk berkembang.
Hari Santri, dengan demikian, bukan cuma perayaan untuk mengenang masa lalu. Ini juga kesempatan untuk memastikan bahwa mereka yang kelak ikut menentukan masa depan negeri tidak berjalan sendirian.
Dan seperti tajuk kegiatan ini, Dari Santri untuk Negeri, kontribusi itu bisa dimulai dari hal sederhana: memberi ruang, menghargai prestasi, dan memastikan setiap anak muda punya kesempatan untuk tumbuh.




























