Oleh: H. Hasbiallah Ilyas, S.Ag.
Ketua DPW PKB DKI Jakarta dan Anggota Komisi III DPR RI
Politik tidak pernah berhenti berubah. Pemilih berubah, cara masyarakat mendapatkan informasi berubah, dan cara orang menentukan pilihan politik juga ikut berubah. Partai politik yang ingin bertahan tidak cukup hanya mengandalkan sejarah. Ia harus terus menemukan alasan mengapa rakyat masih membutuhkannya. PKB berada di persimpangan itu.
Setelah Muktamar dan berbagai dinamika yang mengikutinya, saya kira ada satu hal yang perlu dilakukan: PKB harus berhenti menjelaskan dirinya melalui identitas politik masa lalu dan mulai berbicara lebih tegas tentang dirinya sebagai partai Islam yang bekerja untuk rakyat. Ini bukan soal meninggalkan sejarah, apalagi mengingkari akar. Ini soal membaca zaman.
Ada masa ketika pembicaraan mengenai PKB hampir selalu membawa kita kepada identitas ke-NU-an. Itu bagian dari sejarah yang tidak mungkin dihapus. Namun dalam politik elektoral, sejarah tidak otomatis menjadi suara. Pemilih memiliki kebebasan menentukan pilihan. Karena itu, PKB tidak boleh berasumsi bahwa kedekatan kultural atau historis dengan kelompok tertentu akan otomatis menghasilkan dukungan politik. Realitasnya sederhana: tidak ada suara yang diwariskan. Suara rakyat harus diperjuangkan dan kepercayaan rakyat harus dibangun kembali setiap hari.
Di sinilah saya melihat pentingnya perubahan cara PKB berbicara kepada publik. Kita tidak perlu lagi terlalu sibuk menjelaskan siapa yang menjadi akar sejarah PKB. Publik perlu tahu sesuatu yang lebih konkret: PKB ini partai apa dan bekerja untuk siapa? Jawabannya harus terang. PKB adalah partai Islam.
Menjadi partai Islam tentu bukan sekadar menempelkan identitas keagamaan pada nama partai. Islam harus menjadi nilai yang bekerja dalam kebijakan dan keberpihakan. Islam berarti keadilan, membela mereka yang lemah, menjaga martabat manusia, menghadirkan kesejahteraan, dan memastikan negara tidak hanya hadir untuk mereka yang kuat. Karena itu, menjadi partai Islam tidak membuat PKB harus berbicara tentang isu agama sepanjang waktu. Justru sebaliknya, partai Islam harus mampu menunjukkan bagaimana nilai Islam menjawab persoalan kehidupan sehari-hari.
Ketika seorang buruh kesulitan memenuhi kebutuhan keluarganya, publik ingin tahu apa yang dilakukan PKB. Ketika pedagang kecil terdesak biaya dan aturan yang semakin berat, masyarakat ingin melihat di mana PKB berdiri. Ketika anak muda kesulitan mendapatkan pekerjaan, yang dibutuhkan bukan sekadar pidato, melainkan gagasan dan kebijakan yang membuka kesempatan. Ketika biaya pendidikan dan kesehatan menjadi beban keluarga, PKB harus mampu menawarkan keberpihakan yang konkret. Begitu pula ketika warga kecil kesulitan mendapatkan rumah yang layak. Di situlah identitas partai Islam diuji, bukan pada seberapa sering kita menyebut istilah agama, melainkan pada seberapa nyata nilai agama bekerja dalam kehidupan rakyat.
Wong Cilik sebagai Orientasi Politik
Saya kira PKB harus kembali menjadikan wong cilik sebagai pusat perhatian politiknya. Wong cilik bukan istilah untuk kampanye lima tahun sekali. Ia adalah kelompok masyarakat yang setiap hari berhadapan dengan persoalan konkret: harga kebutuhan pokok, pekerjaan, biaya pendidikan, kesehatan, transportasi, rumah, dan penghasilan. Mereka tidak membutuhkan politik yang terlalu rumit. Mereka membutuhkan negara yang bekerja, wakil rakyat yang mau mendengar, dan partai politik yang tidak hanya datang ketika membutuhkan suara.
Karena itu, PKB harus berani menegaskan dirinya sebagai partai Islam yang berpihak kepada wong cilik. Kalimat ini sederhana, tetapi konsekuensinya besar. Jika benar berpihak kepada wong cilik, setiap kebijakan yang diperjuangkan kader PKB harus diuji dengan satu pertanyaan: apakah kebijakan itu membuat hidup rakyat lebih baik atau justru semakin berat?
Ketika membahas APBD, misalnya, kita harus melihat dampaknya kepada masyarakat kecil. Ketika membahas transportasi, kita harus melihat pekerja yang setiap hari menggunakan angkutan umum. Ketika membahas pendidikan, kita harus melihat anak dari keluarga berpenghasilan rendah. Ketika membahas kesehatan, kita harus melihat warga yang paling rentan. Ketika membahas ekonomi, kita harus melihat pedagang kecil dan pekerja informal. Dengan cara berpikir seperti itu, PKB tidak perlu setiap hari mengatakan dirinya partai wong cilik. Kerja politiknya yang akan berbicara.
Partai Islam yang Terbuka
Menjadi partai Islam tidak berarti PKB hanya untuk kelompok tertentu. Indonesia terlalu besar untuk politik yang dibangun dari sekat-sekat sempit. PKB harus menjadi rumah politik bagi siapa saja yang percaya pada keadilan sosial, kemanusiaan, demokrasi, kesejahteraan, dan kehidupan berbangsa yang damai. Identitas Islam justru harus menjadi sumber energi untuk membuka ruang, bukan menutupnya.
Kita tidak perlu takut menjadi partai Islam. Yang perlu kita pastikan adalah bagaimana wajah Islam yang ditampilkan PKB kepada masyarakat. Islam yang teduh, Islam yang bekerja, Islam yang membela, Islam yang tidak sibuk mencari perbedaan, dan Islam yang hadir ketika rakyat membutuhkan. Dengan begitu, PKB tidak harus memilih antara menjadi partai Islam atau menjadi partai yang terbuka. Keduanya bisa berjalan bersama. Identitasnya Islam, sedangkan orientasinya adalah rakyat.
Jangan Menunggu Pemilih
Ada kesalahan yang sering terjadi dalam politik: partai sibuk menghitung berapa banyak suara yang akan diperoleh, tetapi lupa menghitung berapa banyak masalah rakyat yang sudah diselesaikan. PKB harus membalik cara berpikir itu. Jangan menunggu pemilu untuk turun ke masyarakat, jangan menunggu survei untuk mendengar keluhan, dan jangan menunggu baliho dipasang untuk berbicara tentang wong cilik. Politik harus hadir sebelum suara dibutuhkan.
Kehadiran itu harus terasa di kampung-kampung, pasar, sekolah, tempat kerja, ruang-ruang komunitas, di tengah anak muda, pekerja informal, dan keluarga yang sedang berjuang mempertahankan kehidupan yang layak. Di sanalah kepercayaan dibangun. Bukan melalui slogan dan bukan melalui pencitraan, melainkan melalui kehadiran dan kerja yang konsisten.
Saatnya PKB Bicara dengan Bahasanya Sendiri
Saya kira sudah waktunya PKB memiliki keberanian untuk membangun identitas politiknya sendiri. Tidak perlu terlalu sibuk menjelaskan siapa yang berada di belakangnya. Tidak perlu menjadikan sejarah sebagai satu-satunya modal. PKB juga tidak perlu terus-menerus menggunakan simbol yang membuat publik hanya mengenal partai ini dari masa lalunya. PKB harus berbicara tentang masa depan: ekonomi rakyat, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, perumahan, transportasi, anak muda, perempuan, kelompok rentan, dan bagaimana negara hadir secara adil.
Semua itu dapat dibicarakan dari perspektif Islam. Sebab Islam bukan hanya urusan ibadah personal. Islam juga memiliki pandangan tentang keadilan sosial, kemanusiaan, ekonomi, pendidikan, perlindungan terhadap kelompok lemah, dan tanggung jawab kekuasaan. Di situlah PKB menemukan ruang politiknya. Kita tidak perlu banyak menjelaskan identitas jika nilai-nilainya dapat ditunjukkan melalui kerja.
Tidak perlu terlalu sering mengatakan peduli wong cilik jika keberpihakan itu memang hadir dalam kebijakan dan tindakan. Tidak perlu memaksa rakyat percaya jika kerja politik kita memberikan mereka alasan untuk percaya. Pada akhirnya, partai politik tidak hidup dari nostalgia, melainkan dari relevansi. Sejarah menjelaskan dari mana PKB berasal, tetapi kerja politik menentukan untuk apa PKB masih dibutuhkan.
Karena itu, setelah Muktamar dan segala dinamika yang menyertainya, saya kira saatnya PKB menatap ke depan. Kita adalah partai Islam dan kita berpihak kepada wong cilik. Tugas kita adalah membuat identitas dan keberpihakan itu terasa dalam kehidupan rakyat. Sebab politik yang baik bukan politik yang paling banyak berbicara tentang dirinya sendiri, melainkan politik yang membuat rakyat merasa bahwa mereka tidak sendirian menghadapi hidup.

























