“Jangan menganggap kalian hanya pasukan tempur di media. Kalian adalah pasukan politik, karena medan pertempuran sekarang bukan lagi hanya di darat, tetapi juga di udara, di dunia maya,” kata Muhaimin.
HarianTanahAir | JAKARTA — Pertarungan politik tak lagi hanya berlangsung di jalanan, panggung kampanye, atau ruang parlemen. Media sosial kini menjadi arena perebutan pengaruh yang bergerak dalam hitungan detik. Partai yang lamban beradaptasi berisiko kehilangan perhatian publik.
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar alias Gus Muhaimin menyampaikan pesan itu saat membuka Digital Media Academy di Kantor DPP PKB, Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Jumat, 16 Oktober 2026.
“Jangan menganggap kalian hanya pasukan tempur di media. Kalian adalah pasukan politik, karena medan pertempuran sekarang bukan lagi hanya di darat, tetapi juga di udara, di dunia maya,” kata Muhaimin.
Pernyataan itu menegaskan perubahan cara partai berkomunikasi dengan masyarakat. Di ruang digital, informasi dapat menyebar luas dalam waktu singkat. Persepsi publik pun terbentuk sebelum sebuah isu sempat dibahas panjang lebar di forum resmi.
Namun, bagi Muhaimin, kecepatan saja tidak cukup. Produksi konten harus dibarengi gagasan yang kuat dan kemampuan mengemas pesan secara kreatif.
“Kalau intensitasnya banyak dan kualitasnya bagus, akan lebih mudah menjadi viral. Tetapi kualitas itu bukan hanya soal video, melainkan juga isi, pesan, kreativitas, dan kecerdasan dalam mengemas informasi,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi tantangan bagi mesin komunikasi PKB. Kehadiran di media sosial bukan semata-mata soal seberapa sering kader mengunggah konten atau seberapa besar angka penontonnya. Partai juga perlu memastikan pesan yang disampaikan memiliki substansi dan relevan dengan persoalan masyarakat.
Muhaimin mengingatkan bahwa PKB sejak awal telah menggunakan beragam saluran komunikasi, mulai dari televisi, surat kabar, buletin, hingga selebaran. Perubahan teknologi, menurut dia, menuntut partai menyesuaikan cara menyampaikan gagasan tanpa kehilangan arah perjuangannya.
“PKB tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pertarungan digital. Kita harus hadir membawa gagasan, menyuarakan kepentingan rakyat, dan membangun kepercayaan masyarakat,” katanya.
Sebanyak 89 peserta dari tim Media Center 38 Dewan Pengurus Wilayah PKB se-Indonesia mengikuti Digital Media Academy. Pelatihan yang berlangsung pada 16–17 Oktober 2026 itu dirancang untuk memperkuat kapasitas tim media partai menghadapi dinamika komunikasi politik digital.
Muhaimin menekankan bahwa popularitas semestinya bukan tujuan akhir. Media digital, menurut dia, harus menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan politik, memperjuangkan kepentingan rakyat, memperkuat kemandirian bangsa, dan mendorong pembangunan yang berpihak kepada masyarakat.
Pesannya jelas: PKB perlu hadir di ruang digital. Tantangannya adalah memastikan kehadiran itu tidak berhenti pada perebutan perhatian, tetapi juga menghasilkan kepercayaan.




























