HARIANTANAHAIR. Cerita sederhana tentang seekor kerbau yang tertinggal di ladang menjadi inspirasi bagi Bregada Bokeri dari Padukuhan Cebongan Kidul, Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berangkat dari cerita tutur para leluhur, kelompok ini membuktikan bahwa kisah lokal mampu menyatukan generasi sekaligus menjaga warisan budaya tetap hidup.
Bregada Bokeri tampil dalam Festival Bregada Rakyat DIY 2026 di Youth Center, Kapanewon Mlati, Minggu (18/10/2026). Mewakili Kapanewon Mlati, kelompok tersebut menghadirkan seni keprajuritan rakyat yang berakar dari sejarah lisan masyarakat setempat.
Keikutsertaan mereka bukan sekadar penampilan dalam festival budaya. Bregada Bokeri juga membawa pesan tentang pentingnya mengenali asal-usul kampung, merawat tradisi, dan meneruskan pengetahuan leluhur kepada generasi berikutnya.
Kisah Kebo Keri Menjadi Identitas Bregada Bokeri
Melansir laman mediacenter.slemankab.go.id , nama Bokeri berasal dari ungkapan kebo keri, yang berarti kerbau tertinggal. Menurut cerita tutur masyarakat setempat, kisah tersebut berawal dari peristiwa seekor kerbau milik warga yang tertinggal di ladang pada masa lalu.
Cerita itu kemudian berkembang menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Cebongan Kidul. Meski berawal dari peristiwa sederhana, kisah tersebut memiliki arti penting karena menghubungkan warga masa kini dengan sejarah kampung mereka.
Pemimpin Bregada Bokeri, Hari Yunarko, menjelaskan bahwa nama kelompoknya berakar dari warisan lisan para leluhur.
“Bregada Bokeri saking atur run tumurun para eyang ing Dusun Cebongan Kidul. Kisah kerbau yang tertinggal ini menjadi pengingat agar generasi sekarang tidak melupakan sejarah kampungnya sendiri,” ujar Hari Yunarko.
Pernyataan tersebut memperlihatkan peran cerita rakyat dalam mempertahankan identitas lokal. Melalui Bregada Bokeri, warga tidak hanya mengingat kisah masa lalu, tetapi juga menghadirkannya dalam kegiatan budaya yang dapat dinikmati masyarakat luas.
Cerita Rakyat sebagai Penghubung Antargenerasi
Tradisi lisan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya menyimpan ingatan tentang lingkungan, kebiasaan, dan pengalaman warga pada masa lalu.
Namun, perubahan zaman dapat membuat generasi muda semakin jauh dari cerita asal-usul daerahnya. Karena itu, komunitas budaya memiliki peran penting dalam mengenalkan kembali kisah lokal melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Bregada Bokeri menghadirkan pendekatan tersebut melalui seni keprajuritan rakyat. Mereka menjadikan kisah kebo keri sebagai identitas kelompok sekaligus sarana memperkenalkan sejarah lokal kepada masyarakat.
Bregada Bokeri Satukan 32 Personel Lintas Generasi
Salah satu keunikan Bregada Bokeri terletak pada komposisi anggotanya. Kelompok ini memiliki 32 personel laki-laki dengan rentang usia dari remaja setingkat SMA hingga warga senior berusia 60 tahun.
Perbedaan usia tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat melibatkan berbagai kelompok masyarakat. Para remaja berkesempatan mengenal tradisi secara langsung, sedangkan anggota senior dapat meneruskan pengalaman dan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Kebersamaan mereka juga menuntut kerja sama dalam menjaga kekompakan barisan. Setiap anggota perlu mengikuti gerakan, irama, dan tata cara penampilan agar seluruh kelompok dapat tampil selaras.
Dalam konteks tersebut, bregada tidak hanya menjadi wadah kesenian. Kegiatan ini juga membuka ruang interaksi sosial yang mempertemukan pengalaman generasi tua dengan semangat generasi muda.
Keterlibatan lintas generasi menjadi modal penting bagi keberlanjutan tradisi. Ketika anak muda ikut mengambil peran, pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada ingatan generasi terdahulu.
Festival Bregada Rakyat DIY 2026 Angkat Semangat Kebudayaan
Festival Bregada Rakyat DIY 2026 mengusung tema “Gumregah, Gumregut, Tanpa Surut”. Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan DIY bersama Sekretariat Bersama Keistimewaan DIY menggagas kegiatan tersebut sebagai ruang bagi kelompok bregada rakyat untuk menampilkan kekayaan tradisi.
Festival yang berlangsung di Youth Center, Kapanewon Mlati, itu melibatkan 18 kontingen dari Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, dan Kota Yogyakarta. Kehadiran berbagai kelompok memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyaksikan keragaman seni keprajuritan rakyat di Yogyakarta.
Bagi kelompok peserta, festival menjadi ruang untuk menunjukkan ciri khas masing-masing. Setiap bregada dapat memperkenalkan identitas komunitas melalui penampilan, tradisi, dan cerita yang melatarbelakangi keberadaan mereka.
Kegiatan seperti ini juga mempertemukan komunitas budaya dari berbagai wilayah. Pertemuan tersebut membuka peluang pertukaran pengalaman sekaligus memperkuat hubungan antarkelompok pelestari tradisi.
Prestasi Bregada Bokeri di Tingkat Kabupaten dan Provinsi
Bregada Bokeri memiliki rekam jejak prestasi dalam kegiatan budaya. Kelompok ini pernah meraih Juara I Festival Rakyat Sembada tingkat Kabupaten Sleman.
Selain itu, mereka meraih Juara Harapan II pada Festival Bregada Rakyat tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2024. Pencapaian tersebut menunjukkan pengalaman kelompok dalam mengikuti ajang seni keprajuritan rakyat.
Prestasi menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap kerja kolektif para anggota. Namun, keberadaan Bregada Bokeri juga memiliki nilai di luar penghargaan, yakni menjaga cerita lokal agar tetap dikenal masyarakat.
Melalui keikutsertaan dalam festival, kelompok ini memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan kisah kebo keri kepada khalayak yang lebih luas. Dengan demikian, cerita dari Cebongan Kidul dapat menjadi bagian dari kekayaan narasi budaya Yogyakarta.
Menjaga Warisan Lokal agar Tetap Hidup
Pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan masyarakat, terutama komunitas yang tumbuh dari lingkungan tempat tradisi tersebut berasal. Mereka memiliki kedekatan dengan cerita, kebiasaan, dan nilai yang membentuk identitas daerahnya.
Bregada Bokeri menunjukkan bahwa tradisi tidak harus berhenti sebagai cerita masa lalu. Warga dapat menghidupkannya kembali melalui seni pertunjukan, kegiatan komunitas, dan partisipasi generasi muda.
Kisah kebo keri menjadi contoh bagaimana peristiwa sederhana dapat memperoleh makna baru ketika masyarakat terus merawatnya. Cerita tersebut kini tidak hanya hidup dalam ingatan warga, tetapi juga tampil melalui barisan keprajuritan rakyat.
Dari Cebongan Kidul, Bregada Bokeri membawa pesan bahwa menjaga budaya dapat dimulai dari mengenali sejarah lingkungan sendiri. Selama masyarakat bersedia mewariskan cerita dan melibatkan generasi muda, tradisi lokal memiliki kesempatan untuk terus berkembang di tengah perubahan zaman.




























