Jika seseorang rajin beribadah, mengapa ia masih bisa mengalami depresi? Pertanyaan itu sebenarnya berangkat dari anggapan bahwa kedekatan spiritual semestinya membuat seseorang terbebas dari penderitaan. Padahal, kehidupan beragama tidak menjanjikan manusia bebas dari ujian, tekanan, kesedihan, atau rasa kehilangan.
HARIANTANAHAIR.COM | JAKARTA — “Mungkin kurang ibadah.” Kalimat itu cukup sering terdengar ketika seseorang sedang mengalami persoalan kesehatan mental. Maksudnya bisa saja baik: mengajak seseorang kembali mendekat kepada Tuhan. Namun dalam situasi tertentu, kalimat tersebut justru dapat berubah menjadi beban.
Seseorang yang sedang depresi bukan hanya berhadapan dengan rasa sedih. Ia bisa mengalami kehilangan energi, gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, hingga merasa hidup tidak lagi memiliki makna.
Ketika kondisi tersebut kemudian langsung dikaitkan dengan lemahnya iman, persoalannya menjadi semakin rumit. Orang yang sedang membutuhkan pertolongan bisa justru merasa bersalah karena menganggap dirinya gagal menjalankan agama.
“Padahal, mengalami depresi tidak otomatis berarti seseorang kurang iman,”ujar Mia Silmiah Sazely, M.Si, C.MHE, C.PP, Konselor dan Praktisi Koseling Islam, yang juga Dosen Bimbingan Konseling Islam di Universitas Al Azhar Indonesia, yang juga Wakil Sekretaris Wilayah DPW PKB Jakarta, saat menjadi narasumber dalam podcast “CERITA INDONESIA – Merekam Indonesia, Menyuarakan Ceritanya” di Studio Lahtube.com yang tayang pada Selasa (22/9/2026), malam.
Persoalan kesehatan mental memiliki banyak faktor. Kondisi psikologis, pengalaman hidup, tekanan sosial, lingkungan, relasi, faktor biologis, hingga berbagai persoalan lain dapat saling berkelindan. Karena itu, memahami depresi membutuhkan pendekatan yang tidak menyederhanakan persoalan manusia hanya menjadi satu sebab.
Ketika Ibadah Tidak Membuat Seseorang Kebal dari Penderitaan
Ada pertanyaan yang kerap muncul: jika seseorang rajin beribadah, mengapa ia masih bisa mengalami depresi? Pertanyaan itu sebenarnya berangkat dari anggapan bahwa kedekatan spiritual semestinya membuat seseorang terbebas dari penderitaan. Padahal, kehidupan beragama tidak menjanjikan manusia bebas dari ujian, tekanan, kesedihan, atau rasa kehilangan.
Dalam perspektif Islam, manusia tetaplah makhluk yang memiliki keterbatasan. Ia dapat mengalami sakit pada tubuh, sekaligus mengalami kelelahan dan penderitaan pada sisi psikologisnya. Karena itu, mengalami masa sulit tidak dengan sendirinya menunjukkan kegagalan spiritual.
Spiritualitas justru dapat menjadi salah satu sumber kekuatan dalam menghadapi masa sulit. Ibadah, doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, maupun hubungan dengan komunitas keagamaan dapat memberikan rasa tenang, makna, harapan, dan dukungan bagi sebagian orang.
Namun spiritualitas dan bantuan profesional tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan berdampingan.
Jika seseorang mengalami gejala yang mengganggu kehidupan sehari-hari, hubungan sosial, pekerjaan, pendidikan, atau keselamatannya, mencari bantuan psikolog maupun psikiater merupakan bagian dari ikhtiar.
Berobat tidak berarti seseorang tidak bertawakal. Justru usaha mencari pertolongan dapat dipahami sebagai bagian dari upaya manusia menghadapi masalah yang sedang dihadapinya.
Jangan Jadikan Agama sebagai Alat untuk Menghakimi
Masalahnya bukan pada ajakan untuk beribadah. Masalah muncul ketika agama digunakan sebagai kesimpulan tunggal terhadap persoalan yang kompleks.
Mengatakan kepada seseorang yang sedang depresi, “Kamu kurang ibadah,” mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi orang yang sedang berada dalam kondisi rentan, kalimat tersebut dapat diterima sebagai tuduhan: seolah-olah penderitaannya terjadi karena ia tidak cukup dekat dengan Tuhan.
Di sinilah pentingnya empati. Alih-alih buru-buru memberikan penilaian, keluarga dan lingkungan dapat mulai dengan mendengarkan. Menanyakan apa yang sedang terjadi. Menawarkan bantuan. Menemani mencari pertolongan jika diperlukan.
Sebab tidak semua orang yang sedang mengalami depresi membutuhkan nasihat panjang. Kadang-kadang, yang paling dibutuhkan adalah seseorang yang bersedia hadir tanpa menghakimi.
Stigma terhadap kesehatan mental juga membuat banyak orang terlambat mencari pertolongan. Mereka takut dianggap lemah, kurang bersyukur, kurang beriman, atau mencari perhatian. Padahal, kesehatan mental merupakan bagian dari kesehatan manusia secara keseluruhan.
Generasi Muda dan Tekanan yang Tidak Selalu Terlihat
Persoalan ini menjadi semakin relevan di tengah kehidupan modern. Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat selalu baik-baik saja. Pencapaian orang lain hadir setiap hari di layar: pekerjaan, pendidikan, perjalanan, hubungan, gaya hidup, hingga kondisi finansial.
Perbandingan yang terus-menerus dapat menjadi salah satu sumber tekanan. Di sisi lain, generasi muda juga berhadapan dengan persoalan nyata: tuntutan pendidikan, pekerjaan, biaya hidup, relasi, ekspektasi keluarga, ketidakpastian masa depan, hingga kebutuhan untuk selalu terlihat baik di hadapan publik.
Tidak semua tekanan terlihat dari luar. Seseorang bisa tetap bekerja, tersenyum, bertemu teman, bahkan menjalankan ibadah, tetapi di dalam dirinya sedang berjuang menghadapi sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Karena itu, kesehatan mental tidak semestinya dibaca hanya dari penampilan seseorang.
Ketika Ikhtiar Bertemu Tawakal
Membicarakan kesehatan mental dari perspektif Islam bukan berarti mengganti psikolog atau psikiater dengan nasihat agama. Sebaliknya, pendekatan spiritual dapat ditempatkan sebagai salah satu bagian dari perjalanan seseorang menghadapi penderitaan.
Di sinilah konsep ikhtiar dan tawakal menjadi penting. Ikhtiar berarti berusaha. Tawakal berarti menyerahkan hasil kepada Allah setelah manusia melakukan usaha yang dapat dilakukannya.
Dalam konteks kesehatan mental, mencari bantuan profesional dapat menjadi bentuk ikhtiar. Menjalankan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah dapat menjadi sumber kekuatan spiritual. Dukungan keluarga dan lingkungan menjadi bagian dari sistem pendukung.
Tidak harus memilih salah satunya. Sebab manusia bukan hanya tubuh yang perlu dirawat, bukan pula sekadar pikiran yang perlu dianalisis. Ia memiliki dimensi sosial, emosional, dan spiritual yang saling berhubungan.
Jadi, Depresi Bukan Berarti Kurang Iman?
Pertanyaan itu tidak tepat jika dijawab dengan menyederhanakan penderitaan seseorang menjadi ukuran kualitas imannya.
Depresi adalah persoalan kesehatan yang dapat membutuhkan perhatian dan pertolongan. Pada saat yang sama, agama dan spiritualitas bagi sebagian orang dapat menjadi sumber makna, pengharapan, ketenangan, dan kekuatan untuk menjalani proses pemulihan.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan, “Mengapa dia kurang iman?” Melainkan, “Apa yang sedang dia alami dan bagaimana kita bisa membantunya?” Perubahan cara pandang itu sederhana, tetapi penting.
Orang yang sedang mengalami depresi tidak selalu membutuhkan penghakiman. Ia mungkin membutuhkan ruang untuk bercerita, keluarga yang mau memahami, lingkungan yang tidak memberi stigma, serta bantuan profesional ketika kondisinya memang membutuhkan.
Sebab mengalami masa sulit bukan berarti seseorang kehilangan iman. Dan mencari pertolongan bukan berarti kehilangan tawakal.
Lalu, jika depresi bukan berarti iman yang lemah, apa sebenarnya yang terjadi? Bagaimana psikologi menjelaskan depresi, kecemasan, tekanan hidup, pengaruh media sosial, dan persoalan kesehatan mental generasi muda? Serta bagaimana Islam memandang manusia yang sedang mengalami penderitaan jiwa?
Simak pembahasannya dalam episode “Jika DEPRESI BUKAN BERARTI IMAN Yang Lemah, Lalu Karena Apa? Yuk, Cari Tahu Jawaban dan Solusinya!” di YouTube HarianTanahAir.
Karena memahami kesehatan mental bukan hanya soal mencari jawaban, tetapi juga belajar menjadi manusia yang lebih mampu mendengar dan mendampingi. (***)

























