“Partainya enggak mau memberitahu, enggak mau ngajak, enggak mau ngasih kesempatan,” kata Cak Imin, kepada tim media PKB Jakarta, Senin (26/10/2026) mengkritik sikap partai politik yang tidak membuka ruang partisipasi bagi masyarakat.
HARIANTANAHAIR | JAKARTA — Rendahnya partisipasi masyarakat dalam politik tak bisa semata-mata dianggap sebagai bentuk apatisme warga. Partai politik juga perlu mengevaluasi diri: sudahkah mereka membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam proses politik?
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, yang akrab disapa Cak Imin, menilai partai politik turut bertanggung jawab jika masyarakat enggan terlibat dalam politik. Sebab, partisipasi tidak akan tumbuh jika masyarakat tidak pernah diajak, diberi pemahaman, atau mendapat kesempatan untuk berkontribusi.
Hal itu disampaikan Cak Imin saat ditemui di kediamannya di Kemang, Jakarta Selatan.
Menurut dia, partai politik tidak seharusnya hanya menuntut masyarakat agar peduli terhadap kebijakan pemerintah. Partai juga harus hadir untuk menjembatani kepedulian itu agar bisa disalurkan melalui jalur politik.
“Partainya enggak mau memberitahu, enggak mau ngajak, enggak mau ngasih kesempatan,” kata kata Cak Imin, kepada tim media PKB Jakarta, Senin (26/10/2026) mengkritik sikap partai politik yang tidak membuka ruang partisipasi bagi masyarakat.
Cak Imin juga menyoroti anggapan bahwa bergabung dengan partai politik tidak memberikan keuntungan. Menurut dia, ukuran manfaat berpolitik tidak selalu berupa keuntungan materi.
“Kalau ikut partai enggak dapat untung. Ya, cari untung memang enggak, tapi kepedulian mereka tersalurkan. Itu yang penting,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menempatkan partai politik pada posisi yang perlu dikritisi. Di tengah tuntutan agar masyarakat lebih peduli terhadap persoalan publik, partai semestinya tidak berhenti pada ajakan untuk memilih dalam pemilu. Mereka juga perlu menyediakan ruang bagi warga untuk memahami persoalan, menyampaikan aspirasi, dan ikut mengawal kebijakan.
Sebab, partisipasi politik tidak lahir hanya dari imbauan. Ia membutuhkan akses, kesempatan, dan saluran yang memungkinkan masyarakat terlibat secara nyata.
Jika partai politik ingin mengikis sikap apatis, pekerjaan rumahnya bukan semata-mata meyakinkan masyarakat agar tertarik pada politik. Partai juga harus membuktikan bahwa keterlibatan warga memang dibutuhkan, bukan hanya ketika suara mereka diperebutkan dalam pemilu. (***)




























