HARIANTANAHAIR.COM | JAKARTA — Ledakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa peluang investasi baru bagi Indonesia. Namun, di balik pertumbuhan pusat data (data center), tersimpan persoalan yang tak kalah mendasar: siapa yang menjamin kebutuhan air industri tidak mengorbankan akses air bersih masyarakat?
Pusat data menjadi infrastruktur penting bagi perkembangan AI, komputasi awan, dan ekonomi digital. Semakin besar kebutuhan komputasi, semakin besar pula tuntutan terhadap infrastruktur pendukung, termasuk listrik dan sistem pendingin yang dapat menyedot air dalam jumlah signifikan.
Laporan e-Conomy SEA 2025 mencatat sekitar 80 persen pengguna digital Indonesia menggunakan layanan berbasis AI setiap hari. Pendapatan aplikasi AI juga tumbuh 127 persen dalam setahun. Angka ini memperlihatkan besarnya pasar digital Indonesia sekaligus tekanan yang berpotensi muncul terhadap sumber daya alam.
Persoalannya, air bukan sekadar komponen operasional industri. Bagi masyarakat, air bersih merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda atau digantikan begitu saja.
Peluang Bisnis atau Beban Baru?
Direktur Utama Perumda Air Minum Gapura Tirta Rahayu, Riana Afriadi, melihat ekspansi pusat data sebagai peluang bagi perusahaan penyedia air untuk memperkuat bisnis dan infrastruktur.
Menurut dia, pelanggan industri berskala besar dapat menghasilkan pendapatan tambahan yang digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki jaringan perpipaan, memperbarui fasilitas, hingga memperluas pelayanan kepada masyarakat.
“Sebesar apa pun potensi sumber air yang kita miliki, tanpa didukung infrastruktur yang memadai, kemampuan untuk mengolah dan mendistribusikan air tetap akan terbatas,” kata Riana, seperti dikutip Bisnis.com, Kamis, 8 Oktober 2026.
Pandangan itu menyiratkan bahwa persoalan air tidak berhenti pada ketersediaan sumber baku. Kemampuan mengolah, menyalurkan, dan mengalokasikan air juga menentukan apakah pertumbuhan industri dapat berjalan tanpa mengganggu kebutuhan rumah tangga.
Riana mencontohkan Purwakarta, yang memiliki alokasi air baku untuk sistem penyediaan air minum yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Sebagian kapasitas tersebut berpeluang digunakan untuk kebutuhan industri dengan tetap memprioritaskan masyarakat.
Namun, peluang itu tidak serta-merta menjadi jaminan. Ketersediaan air di atas kertas belum tentu mencerminkan kemampuan suatu wilayah memasok industri secara berkelanjutan, terutama ketika kebutuhan warga, kapasitas pengolahan, dan kondisi lingkungan turut diperhitungkan.
Karena itu, tambahan pendapatan dari pelanggan industri baru akan bermakna bagi masyarakat jika benar-benar diikuti peningkatan layanan. Tanpa perencanaan dan pengawasan yang memadai, pertumbuhan bisnis penyedia air berisiko berjalan lebih cepat daripada pemerataan akses air bersih.
Ketika Pendingin Server Membutuhkan Air
Kebutuhan air pusat data sangat dipengaruhi teknologi pendingin yang digunakan. Sistem cooling tower dan evaporative cooling, misalnya, memanfaatkan air dalam proses pelepasan panas. Sebaliknya, teknologi seperti air-cooled chiller, closed-loop, dan dry cooling dapat menjadi pilihan untuk menekan konsumsi air, bergantung pada desain dan kondisi operasional fasilitas.
Artinya, besarnya investasi tidak semestinya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pembangunan pusat data. Efisiensi penggunaan air, sumber pasokan, serta kemampuan mendaur ulang air perlu diperhitungkan sejak tahap perencanaan.
Persoalan ini bukan sekadar kekhawatiran teoritis. The Jakarta Post melaporkan pembangunan proyek pusat data besar di Jatiluhur, Jawa Barat, dihentikan sementara pada akhir September 2026, sekitar sepekan setelah peletakan batu pertama. Proyek itu menuai desakan peninjauan dari masyarakat karena proyeksi konsumsi airnya disebut setara dengan kebutuhan harian 220 ribu orang.
Di Batam, ekspansi pusat data juga diwarnai protes warga yang mengeluhkan gangguan pasokan air bersih. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan industri digital dapat memunculkan persoalan nyata ketika kebutuhan sumber daya tidak dikelola sejalan dengan kepentingan masyarakat.
Investasi Besar, Tanggung Jawab Tak Kalah Besar
Selain air, pusat data membutuhkan listrik dalam jumlah besar untuk menjalankan server dan sistem pendingin. Karena itu, kesiapan infrastruktur digital tidak cukup diukur dari ketersediaan lahan, jaringan telekomunikasi, dan kemudahan investasi. Daya dukung lingkungan harus menjadi bagian dari perhitungan sejak awal.
Anggota Dewan Energi Nasional Satya Yudha menilai Indonesia memiliki peluang mengembangkan pusat data yang terintegrasi dengan energi terbarukan dan sistem penyediaan air berkelanjutan.
“Indonesia memiliki ruang untuk mengembangkan kombinasi antara infrastruktur digital, energi terbarukan, dan sumber daya air,” kata Satya, seperti dikutip Bisnis.com.
Gagasan itu penting, tetapi implementasinya membutuhkan lebih dari sekadar komitmen industri. Pemerintah perlu memastikan alokasi air baku transparan, kebutuhan rumah tangga menjadi prioritas, serta penggunaan air oleh industri dapat dipantau dan dievaluasi.
Teknologi hemat air juga perlu didorong sesuai karakteristik masing-masing lokasi. Daerah yang memiliki keterbatasan sumber air semestinya tidak diperlakukan sama dengan wilayah yang masih mempunyai kapasitas pasokan memadai.
Di sisi lain, manfaat ekonomi dari investasi pusat data perlu dihitung secara menyeluruh. Pendapatan bagi penyedia air, penyerapan tenaga kerja, dan penguatan infrastruktur harus dibandingkan dengan kebutuhan energi, konsumsi air, serta dampak lingkungan yang mungkin muncul.
Indonesia memang berpeluang meraup manfaat dari pertumbuhan ekonomi digital. Namun, investasi yang menjanjikan keuntungan besar tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan yang merata.
Kemajuan digital semestinya mempermudah kehidupan masyarakat, bukan membuat kebutuhan paling mendasar menjadi semakin rentan. Ketika pusat data berlomba menopang kecerdasan buatan, pemerintah tetap harus memastikan satu hal: air bersih tidak boleh menjadi harga yang dibayar warga demi pertumbuhan industri.




























