Biomedis membantu menjelaskan mekanisme penuaan dan upaya menjaga fungsi tubuh, sedangkan nilai spiritual menawarkan cara memaknai pertambahan usia, keterbatasan fisik, dan kebermanfaatan hidup.
HARIANTANAHAIR.COM | JAKARTA — Penuaan tak sekadar meninggalkan kerutan di wajah. Di balik rambut memutih dan otot yang melemah, ada proses biologis kompleks yang memengaruhi metabolisme, daya ingat, hingga kesehatan manusia. Lantas, haruskah menjadi tua ditakuti?
Menjadi tua adalah kepastian biologis. Namun, di tengah budaya yang memuja penampilan awet muda, penuaan kerap diperlakukan sebagai musuh yang harus dikalahkan. Produk anti-aging, perawatan kecantikan, hingga berbagai metode memperlambat penuaan tumbuh dari satu kecemasan yang sama: keinginan untuk mempertahankan masa muda selama mungkin.
Persoalannya, penuaan bukan sekadar urusan kulit yang mulai berkerut. Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami perubahan pada tingkat sel, metabolisme, massa otot, hingga fungsi otak. Risiko penyakit degeneratif pun meningkat. Artinya, menjaga diri tetap sehat jauh lebih kompleks daripada sekadar menyamarkan tanda-tanda penuaan di wajah.
Pertanyaan mendasarnya bukan hanya bagaimana memperlambat penuaan, melainkan juga bagaimana memahami proses tersebut dan menjalani usia tua tanpa kehilangan kualitas hidup.
Dalam episode terbaru Cerita Indonesia, persoalan ini dibahas dari dua perspektif yang saling melengkapi: biomedis dan Islam. Bersama Prof. Harliansyah, Ph.D. (Med. Biochem), perbincangan mengupas apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh ketika manusia menua.
Dari sisi biomedis, pembahasan mencakup perubahan sel, metabolisme, protein, serta peran stres oksidatif dalam proses penuaan. Perubahan massa otot dan fungsi otak juga menjadi bagian penting untuk memahami mengapa kemampuan fisik dan kognitif manusia dapat berubah seiring waktu.
Pemahaman ini penting untuk membedakan upaya menjaga kesehatan dari obsesi mempertahankan penampilan muda. Sebab, memperlambat sebagian proses penuaan bukan berarti menghentikan waktu atau menghindari seluruh risiko penyakit yang datang bersama pertambahan usia.
Namun, apakah usia lanjut otomatis membuat seseorang kehilangan produktivitas? Pertanyaan itu membawa diskusi melampaui laboratorium dan teori biologis. Usia tua kerap dilekatkan dengan ketergantungan, penurunan kemampuan, dan berakhirnya masa produktif. Padahal, perubahan fisik tidak serta-merta menghapus kesempatan seseorang untuk berkarya, belajar, maupun memberikan manfaat bagi lingkungannya.
Dalam perspektif Islam, umur dapat dimaknai sebagai amanah. Bertambahnya usia bukan semata-mata penanda berkurangnya kekuatan fisik, melainkan juga kesempatan untuk memperbaiki diri, menjaga kesehatan, memperbanyak amal, dan memperluas manfaat bagi sesama.
Tubuh bukan sekadar instrumen untuk mengejar penampilan. Menjaganya tetap sehat merupakan bagian dari ikhtiar menjalani kehidupan dengan baik. Pada saat yang sama, menerima penuaan bukan berarti menyerah pada penurunan kesehatan atau mengabaikan kebutuhan merawat diri.
Di titik inilah sains dan nilai agama bertemu. Biomedis membantu menjelaskan mekanisme penuaan dan upaya menjaga fungsi tubuh, sedangkan nilai spiritual menawarkan cara memaknai pertambahan usia, keterbatasan fisik, dan kebermanfaatan hidup.
Melawan usia, dengan demikian, mungkin bukan soal menghapus kerutan atau mengejar kemudaan tanpa batas. Yang lebih penting adalah menjaga tubuh tetap berfungsi, mempertahankan kualitas hidup, serta memastikan bahwa bertambahnya usia tidak menghentikan keinginan untuk terus belajar dan berkontribusi.
Bagaimana sains menjelaskan proses penuaan? Sejauh mana manusia dapat memperlambatnya? Dan bagaimana Islam memandang kesehatan, umur, serta produktivitas ketika seseorang memasuki usia lanjut?
Temukan jawabannya dalam episode Cerita Indonesia bersama Prof. Harliansyah, Ph.D. (Med. Biochem).
Tonton selengkapnya di kanal YouTube Cerita Indonesia — Merekam Indonesia, Menyiarkan Ceritanya. Sebuah perbincangan tentang sains, kesehatan, dan makna menjadi tua, dipersembahkan oleh HarianTanahAir bekerja sama dengan Lahtube Studio.




























