JAKARTA – Jarak Jakarta dan Tasikmalaya kini berpeluang ditempuh lebih singkat melalui jalur udara. Maskapai Rimbun Air menguji coba penerbangan dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, menuju Bandara Wiriadinata, Tasikmalaya, pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berharap jalur ini tidak sekadar mempermudah perjalanan, tetapi juga membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi kawasan Priangan Timur.
Uji coba tersebut menggunakan pesawat ATR 72-600 milik Rimbun Air. Penerbangan ini menjadi langkah awal untuk mengukur potensi pasar sekaligus memastikan kesiapan operasional sebelum layanan reguler dijalankan.
Dedi Mulyadi menyambut langsung penerbangan perdana tersebut. Ia mengapresiasi peran Wakil Jaksa Agung RI Asep Nana Mulyana yang turut membantu membuka akses penerbangan menuju Tasikmalaya.
Menurut Dedi, kehadiran jalur udara ini patut dimanfaatkan masyarakat Jawa Barat, terutama warga Tasikmalaya dan daerah sekitarnya.
“Ini warga Jawa Barat harus berterima kasih dengan orang Tasik yang kebetulan menjabat menjadi Wakil Jaksa Agung. Beliau telah membantu mempermudah layanan penerbangan dari Jakarta ke Tasik,” kata Dedi.
Asep Nana Mulyana mengatakan, pembukaan akses penerbangan tersebut merupakan upaya bersama untuk memperkuat konektivitas antarkota. Ia berharap kemudahan transportasi dapat meningkatkan aktivitas ekonomi di Tasikmalaya maupun wilayah sekitarnya.
Bukan Sekadar Memangkas Jarak
Dampak yang diharapkan dari penerbangan ini tidak hanya menyentuh Kota Tasikmalaya. Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, Kota Banjar, hingga Pangandaran berpotensi ikut menikmati manfaatnya.
Selama ini, perjalanan darat Jakarta–Tasikmalaya membutuhkan waktu berjam-jam. Ketersediaan transportasi udara berpotensi memangkas waktu perjalanan dan memudahkan mobilitas pelaku usaha, wisatawan, maupun masyarakat yang memiliki kepentingan bisnis dan pemerintahan.
Bagi dunia usaha, konektivitas menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan daya tarik sebuah daerah. Akses yang lebih cepat dapat mempermudah pertemuan bisnis, distribusi mobilitas pekerja, serta membuka peluang investasi.
Sektor pariwisata juga berpotensi mendapatkan keuntungan. Tasikmalaya dan kawasan Priangan Timur memiliki beragam potensi wisata, mulai dari wisata alam, budaya, hingga destinasi pesisir di wilayah selatan Jawa Barat.
Namun, manfaat ekonomi tersebut tidak otomatis muncul hanya dengan menghadirkan penerbangan. Ketersediaan penumpang, harga tiket, frekuensi perjalanan, serta kesinambungan operasional akan menentukan apakah rute ini benar-benar bisa bertahan.
Belajar dari Pengalaman Bandara Daerah
Pengembangan rute Jakarta–Tasikmalaya merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperkuat jaringan penerbangan di sejumlah daerah.
Sebelumnya, Dedi Mulyadi juga mendorong pengaktifan kembali Bandara Husein Sastranegara di Bandung. Pada 2 Juli 2025, ia menghadiri penerbangan perdana Susi Air rute Bandung–Yogyakarta.
Dedi menilai pengembangan penerbangan daerah harus dilakukan secara bertahap dengan membangun pasar penumpang dan ekosistem penerbangan.
Sementara itu, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka diarahkan untuk memperkuat penerbangan internasional, terutama perjalanan haji dan umrah.
Meski demikian, rencana menghidupkan kembali penerbangan komersial di Tasikmalaya bukan tanpa tantangan. Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, H. Wahid, sebelumnya mengingatkan pemerintah daerah agar melakukan kajian menyeluruh.
Ia menyoroti pengalaman penerbangan sebelumnya yang tidak bertahan lama akibat minimnya penumpang. Menurut dia, keberlanjutan maskapai sangat bergantung pada kemampuan penjualan tiket dan keterjangkauan tarif bagi masyarakat.
Peringatan tersebut menjadi penting agar penerbangan perdana tidak sekadar menjadi seremoni yang meriah, tetapi kemudian kehilangan penumpang dan kembali berhenti beroperasi.
Ujian Sesungguhnya Ada pada Keberlanjutan
Uji coba Jakarta–Tasikmalaya kini membuka peluang baru bagi konektivitas Priangan Timur. Namun, pekerjaan berikutnya justru lebih berat: memastikan rute tersebut memiliki pasar yang cukup untuk menopang operasional maskapai.
Pemerintah daerah perlu memastikan akses menuju bandara, integrasi dengan transportasi darat, promosi wisata, serta keterlibatan pelaku usaha berjalan beriringan.
Jika dikelola secara konsisten, Bandara Wiriadinata berpotensi menjadi pintu masuk aktivitas ekonomi baru bagi kawasan Priangan Timur.
Sebaliknya, jika persoalan pasar dan tarif tidak diperhitungkan sejak awal, penerbangan ini berisiko mengulang cerita lama: dibuka dengan optimisme, tetapi berhenti ketika antusiasme penumpang mulai surut.
Pada akhirnya, keberhasilan penerbangan Jakarta–Tasikmalaya bukan diukur dari mulusnya pesawat mendarat di Bandara Wiriadinata. Ukurannya adalah seberapa lama rute itu bertahan dan seberapa besar manfaat ekonominya dirasakan masyarakat.




























