HARIANTANAHAIR.COM | JAKARTA — Bau sampah yang menyengat di kawasan permukiman Jagakarsa, Jakarta Selatan, menjadi keluhan warga yang mengaku belum mendapat penyelesaian meski telah berulang kali menyampaikan aduan. Persoalan ini kembali memunculkan pertanyaan tentang efektivitas penanganan sampah di tingkat lapangan, di tengah berbagai program pengelolaan sampah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Salah seorang warga Jagakarsa, Reva, mengaku terganggu oleh bau sampah yang tercium hampir setiap hari. Ia menyebut telah menyampaikan keluhan kepada pengurus RT dan tokoh masyarakat setempat. Namun, menurut dia, aduan tersebut belum membuahkan hasil.
Sejumlah warga lain, kata Reva, juga telah menyampaikan keluhan melalui saluran pengaduan yang tersedia, termasuk Citizen Relationship Management (CRM) milik Pemprov DKI Jakarta. Meski demikian, mereka mengaku belum merasakan perubahan berarti di lingkungan tempat tinggalnya.
Keluhan tersebut menjadi gambaran persoalan yang dihadapi warga ketika saluran pengaduan belum menghasilkan penyelesaian yang dirasakan langsung. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar titik penumpukan sampah, persoalannya bukan sekadar kebersihan lingkungan, melainkan juga kenyamanan menjalani aktivitas sehari-hari.
Garda Bangsa Siap Teruskan Aduan ke Gubernur
Menindaklanjuti keluhan warga, Ketua Garda Bangsa DKI Jakarta, H. Ivan Siswanto, turun langsung ke lokasi untuk menemui masyarakat dan mendengarkan persoalan yang mereka hadapi.
Ivan menyatakan siap menjembatani aspirasi warga kepada Gubernur DKI Jakarta melalui Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di DPRD DKI Jakarta. Ia berharap aduan tersebut dapat ditindaklanjuti hingga persoalan di lapangan memperoleh penyelesaian.
Langkah itu diharapkan tidak berhenti pada penyampaian aspirasi. Warga membutuhkan kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab, tindak lanjut atas laporan, serta langkah konkret untuk mengatasi sumber bau sampah yang mengganggu permukiman.
Jakarta Hasilkan 9.000 Ton Sampah per Hari
Persoalan di Jagakarsa muncul di tengah besarnya tantangan pengelolaan sampah di Ibu Kota. Berdasarkan rekomendasi akhir Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta sebagaimana dirujuk dalam bahan pemberitaan, Jakarta menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah setiap hari.
Volume tersebut menunjukkan besarnya pekerjaan yang harus ditangani pemerintah daerah, mulai dari pengumpulan, pengangkutan, hingga pengolahan sampah. Di tingkat permukiman, penanganan yang terlambat dapat membuat tumpukan sampah menjadi sumber bau dan mengganggu aktivitas warga.
Karena itu, keberhasilan kebijakan persampahan tidak cukup diukur dari banyaknya program atau konsep yang diumumkan. Pelaksanaannya perlu terlihat melalui pengangkutan yang teratur, penanganan titik penumpukan, serta tindak lanjut pengaduan masyarakat yang jelas dan terukur.
Aduan warga Jagakarsa kini menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan respons konkret. Garda Bangsa DKI Jakarta menyatakan siap membawa persoalan tersebut melalui jalur aspirasi politik di DPRD. Sementara itu, warga menunggu hal yang paling mendasar: lingkungan tempat tinggal yang bersih dan bebas dari bau sampah menyengat.




























