HARIANTANAHAIR.COM | JAKARTA — Pertumbuhan kecerdasan buatan bukan sekadar soal chip, server, dan listrik. Di balik setiap sistem AI yang semakin canggih, ada kebutuhan air untuk mendinginkan pusat data dan menopang pembangkit listrik. Ketika industri digital berekspansi, siapa yang menanggung ongkos lingkungannya?
Ledakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa janji efisiensi ke berbagai sektor. Pekerjaan yang sebelumnya memakan waktu berjam-jam dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Informasi semakin mudah diakses, sementara perusahaan berlomba mengembangkan teknologi yang lebih pintar.
Namun, kemajuan digital menyimpan konsekuensi yang jarang terlihat di layar. Di balik layanan AI yang tampak serba virtual, berdiri infrastruktur fisik yang rakus sumber daya: pusat data, deretan server berdaya komputasi tinggi, sistem pendingin, dan pembangkit listrik. Salah satu kebutuhan yang ikut membengkak adalah air.
Persoalannya bukan semata-mata berapa banyak air yang digunakan sebuah pusat data. Yang lebih mendasar ialah dari mana air itu berasal, bagaimana penggunaannya memengaruhi ketersediaan air di sekitarnya, dan apakah masyarakat memiliki informasi yang cukup untuk mengawasi dampaknya.
Server Panas, Air Tertekan
Pusat data merupakan tulang punggung layanan digital modern. Ketika ribuan prosesor bekerja untuk melatih model AI atau menjawab permintaan pengguna, panas di dalam fasilitas meningkat. Jika tidak dikelola dengan baik, suhu tinggi dapat mengganggu kinerja dan merusak perangkat.
Sistem pendingin menjadi kebutuhan operasional. Sebagian pusat data menggunakan air untuk membantu membuang panas, termasuk melalui teknologi pendinginan evaporatif. Air yang menguap dalam proses tersebut tidak langsung kembali ke sumbernya sebagai air yang siap digunakan.
Kebutuhan air juga muncul di luar bangunan pusat data. Produksi listrik untuk menjalankan server dapat membutuhkan air, bergantung pada teknologi pembangkit yang digunakan. Pembuatan semikonduktor dan cip pun melibatkan air dalam berbagai tahapan produksi.
Artinya, jejak air AI tidak berhenti pada keran atau instalasi pendingin sebuah pusat data. Ada konsumsi langsung di fasilitas, ada pula konsumsi tidak langsung yang tersembunyi dalam rantai pasok energi dan perangkat keras.
Laporan Pacific Institute yang terbit pada September 2026 menekankan bahwa konsumsi air pusat data mungkin relatif kecil jika dibandingkan dengan total penggunaan air pada skala nasional atau global. Namun, dampaknya dapat menjadi signifikan di wilayah tertentu, terutama daerah yang pasokan airnya terbatas.
Masalahnya terletak pada konsentrasi kebutuhan. Pusat data dapat beroperasi terus-menerus, sementara air yang menopangnya juga dibutuhkan rumah tangga, pertanian, industri, dan ekosistem setempat.




























