PEKANBARU — Menjaga tradisi keagamaan saja tidak cukup untuk menjawab persoalan bangsa. Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, menantang santri mengambil peran lebih besar dalam mengatasi kemiskinan dan ketertinggalan.
Pesan itu disampaikan Cak Imin dalam peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Dar El Hikmah, Pekanbaru, Riau, Kamis, 22 Oktober 2026. Ia menekankan pentingnya santri memperkuat kapasitas diri, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berkontribusi nyata bagi masyarakat.
Tantangan tersebut menempatkan pesantren pada persimpangan penting: mempertahankan tradisi keilmuan sekaligus memperluas peran sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan, dan penggerak ekonomi masyarakat.
Bagi Cak Imin, santri bukan sekadar pewaris sejarah perjuangan ulama. Mereka juga perlu menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang masih membelit Indonesia, termasuk kemiskinan dan rendahnya kesempatan ekonomi bagi kelompok masyarakat rentan.
Pesantren sebagai jalan keluar dari kemiskinan
Gagasan itu bukan hanya berhenti pada pidato Hari Santri. Pada 19 Oktober 2026, Cak Imin bertemu Menteri Agama Nasaruddin Umar untuk membahas penguatan pemberdayaan berbasis pesantren. Salah satu fokusnya adalah membekali santri dengan keterampilan yang relevan untuk memasuki dunia kerja dan membangun usaha.
Menurut Cak Imin, keterampilan praktis tidak semestinya hanya menjadi pelengkap pendidikan. Bekal tersebut perlu dirancang agar lulusan pesantren mampu memperoleh penghasilan, membangun usaha, bahkan menciptakan lapangan kerja.
Pesantren juga didorong mengembangkan usaha produktif sesuai potensi daerah. Salah satu contoh yang disampaikan Cak Imin adalah Pesantren Al-Ittifaq di Bandung, yang mengembangkan usaha agribisnis untuk menopang kebutuhan pesantren sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
Pendekatan ini memperluas fungsi pesantren. Lembaga pendidikan keagamaan tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga berpotensi menjadi simpul kegiatan ekonomi yang menghubungkan pendidikan, produksi, dan kesejahteraan warga.
Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan yang nyata. Keterampilan santri perlu terhubung dengan kebutuhan pasar, akses pembiayaan, pendampingan usaha, serta jaringan distribusi agar pendidikan kewirausahaan tidak berhenti sebagai materi di ruang kelas.
Tantangan berikutnya: keterampilan dan akses ekonomi
Perubahan teknologi, termasuk kecerdasan buatan dan ekonomi digital, menambah pekerjaan rumah bagi dunia pesantren. Cak Imin mendorong penguatan penguasaan teknologi agar santri memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dunia kerja.
Di sisi lain, pemberdayaan ekonomi perlu menjangkau santri dan keluarga yang paling membutuhkan. Cak Imin menyoroti pentingnya memperkuat kelompok masyarakat berpenghasilan rendah melalui ekosistem pendidikan dan usaha pesantren.
Artinya, ukuran keberhasilan pemberdayaan pesantren tidak cukup dilihat dari banyaknya pelatihan yang diselenggarakan. Hasilnya juga perlu terlihat pada meningkatnya keterampilan lulusan, terbukanya kesempatan kerja, tumbuhnya usaha produktif, dan membaiknya penghidupan keluarga santri.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 pun menjadi momentum untuk memperluas pembicaraan tentang peran santri. Tradisi keagamaan tetap menjadi fondasi, tetapi tantangan kemiskinan menuntut langkah yang lebih konkret.
Pesan Cak Imin menyisakan pekerjaan besar bagi pemerintah dan pengelola pesantren: memastikan santri tidak hanya siap mengabdi secara sosial dan spiritual, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memperkuat ekonomi dirinya, keluarganya, dan masyarakat di sekitarnya.




























