HarianTanahAir | Jakarta ~ Ada organisasi yang kekuatannya terletak pada gedung, struktur, atau jumlah anggotanya. Nahdlatul Ulama punya sesuatu yang lebih tua dari semua itu: keteladanan.
Karena itu, menjelang Muktamar ke-35 NU, persoalan terbesar NU mungkin bukan siapa yang akan memimpin, melainkan apakah para pemimpinnya masih layak diteladani.
Pertanyaan itu disampaikan Wakil Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jakarta KH Taufik Damas. Menurut dia, NU tidak sedang kekurangan ulama, tokoh, lembaga, maupun forum. Yang sedang diuji justru sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih sulit: perilaku para pemimpinnya.
“NU tidak kekurangan ulama, tokoh, lembaga, atau forum. Yang sedang diuji justru keteladanan,” kata Taufik kepada NU Online Jakarta, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di sebuah organisasi sebesar NU, ia seperti cermin yang diletakkan di tengah ruangan.
Sebab jabatan dapat diwariskan melalui mekanisme organisasi. Struktur bisa disusun. Forum bisa digelar. Keputusan bisa ditulis dalam lembar berita acara. Tetapi wibawa tidak lahir dari semua itu.
Wibawa tumbuh ketika ucapan dan tindakan tidak berjalan ke arah yang berlawanan.
Ketika Kesederhanaan Berhenti di Panggung
Taufik mengingatkan bahwa masalah keteladanan muncul ketika seorang pemimpin berbicara tentang kesederhanaan tetapi mempertontonkan kemewahan, menyerukan khidmah tetapi sibuk mengejar jabatan, atau berbicara tentang persatuan sembari memelihara perpecahan.
Di titik itu, yang rusak bukan hanya reputasi seorang pemimpin.
Yang ikut terkikis adalah kepercayaan terhadap nilai yang dibawanya.
Ini penting bagi NU. Sebab organisasi yang lahir dari tradisi pesantren tidak dibangun semata-mata melalui logika birokrasi modern. Otoritas kiai selama berabad-abad tumbuh dari kombinasi ilmu, kesederhanaan, keikhlasan, keberanian moral, dan kedekatan dengan masyarakat.
Kiai dihormati bukan sekadar karena namanya tercetak dalam struktur kepengurusan.
Ia dihormati karena kehidupannya menjadi semacam kitab yang bisa dibaca tanpa sampul.
Maka ketika perilaku pemimpin mulai bertentangan dengan nilai yang disampaikan, persoalannya menjadi jauh lebih serius daripada sekadar konflik personal. Ada jarak yang mulai terbentuk antara organisasi dan jamaahnya.
Taufik mengatakan, keteladanan tidak bisa diperbaiki dengan menambah slogan. Ia membutuhkan perubahan perilaku.
Di sinilah Muktamar ke-35 NU menjadi penting.
Muktamar memang merupakan forum tertinggi organisasi. Tetapi ia bukan sekadar ruang untuk memilih kepemimpinan baru. Dalam persiapannya, sejumlah materi yang berpotensi memunculkan perbedaan pandangan (terutama mengenai kepemimpinan) memang menjadi perhatian panitia.
Artinya, pertarungan gagasan dan kepentingan hampir tak mungkin dihindari.
Yang justru perlu dijaga adalah bagaimana pertarungan itu berlangsung.
NU memiliki sejarah panjang menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah. Karena itu, tantangan Muktamar bukan membuat semua orang sepakat. Tantangannya adalah memastikan perbedaan tidak mengubah persaudaraan menjadi permusuhan dan kompetisi tidak menjelma menjadi perebutan kuasa tanpa batas.
Jabatan sebagai Amanah, Bukan Fasilitas
Taufik memberi batas yang tegas tentang kepemimpinan NU.
Pemimpin harus berani mengatakan tidak ketika kepentingan pribadi bertabrakan dengan kepentingan umat. Ia juga harus mampu menjaga jarak dari kekuasaan apabila kedekatan dengan penguasa mulai mengancam independensi organisasi.
Jabatan, katanya, harus ditempatkan sebagai amanah, bukan fasilitas.
Kalimat ini menjadi relevan karena NU bukan organisasi kecil yang hidup di ruang hampa. Pengaruh sosialnya besar, jejaringnya luas, dan sejarahnya melekat dengan perjalanan Indonesia.
Karena itu, arah kepemimpinan NU selalu memiliki konsekuensi lebih luas daripada urusan internal organisasi.
Yang dipertaruhkan bukan hanya siapa yang memegang kendali atas struktur PBNU. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: NU macam apa yang ingin dibawa ke masa depan?
Apakah NU akan menjadi organisasi yang semakin sibuk mengurus konfigurasi kekuasaan, atau tetap menjadi rumah besar tempat ilmu, tradisi, pelayanan umat, dan moralitas bertemu?
Muktamar ke-35 seharusnya menjawab pertanyaan itu.
Sebab publik mungkin bisa melupakan siapa yang menang dalam sebuah kontestasi. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana para pemimpinnya bertindak setelah mendapatkan jabatan.
Taufik mengingatkan bahwa masa depan NU tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi oleh teladan seperti apa yang ditampilkan pemimpinnya.
Pada akhirnya, umat lebih mudah mengikuti apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.
Dan mungkin di situlah ujian terbesar NU menjelang Muktamar ke-35: bukan mencari pemimpin yang paling pandai berbicara tentang nilai, melainkan mereka yang kehidupannya tidak membuat nilai-nilai itu kehilangan makna.



























