HARIANTANAHAIR.COM I Jakarta — Pilihan politik rupanya tidak selalu berubah setelah bilik suara ditinggalkan. Bagi sebagian pemilih, partai yang dipilih pada Pemilu 2024 masih menjadi pilihan jika pemungutan suara digelar hari ini.
Survei pada Agustus 2026 menunjukkan PKB, PDIP, dan Golkar berada di kelompok partai dengan tingkat loyalitas pemilih tertinggi. Mayoritas pemilih ketiga partai tersebut menyatakan masih akan memilih partai yang sama seperti pada Pemilu 2024.
Temuan ini menarik karena loyalitas pemilih bukan sekadar angka elektoral. Di baliknya terdapat hubungan yang lebih panjang antara partai dan basis pemilih: identifikasi politik, kedekatan dengan masyarakat, hingga kemampuan partai menjaga komunikasi setelah kontestasi berakhir.
Bagi PKB, loyalitas tersebut menjadi modal politik sekaligus pekerjaan rumah.
Sebab, mempertahankan pemilih setelah pemilu bisa jadi lebih sulit daripada mendapatkannya ketika masa kampanye. Pemilih tidak hanya melihat bendera partai atau slogan politik, tetapi juga bagaimana partai hadir ketika persoalan masyarakat muncul.
Di titik inilah kerja politik diuji.
PKB memiliki basis pemilih yang selama ini dikenal kuat, termasuk di kalangan masyarakat Nahdliyin. Namun loyalitas politik bukan cek kosong. Perubahan isu, munculnya figur baru, dinamika internal partai, serta kinerja wakil rakyat dapat menggeser pilihan pemilih.
Karena itu, tingginya loyalitas pemilih terhadap PKB perlu diterjemahkan menjadi kerja yang semakin dekat dengan masyarakat.
Di Jakarta, kerja tersebut dapat dimulai dari persoalan yang paling konkret: pendidikan, ekonomi warga, lapangan kerja, transportasi, perlindungan kelompok rentan, hingga akses terhadap layanan publik.
Loyalitas pemilih pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang dipilih di hari pencoblosan. Ia juga tentang apakah sebuah partai tetap diingat setelah suara diberikan.
Bagi Fraksi PKB DPRD DKI Jakarta, temuan ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik harus dirawat melalui kerja-kerja yang nyata, terbuka, dan menyentuh kebutuhan warga Jakarta.
Karena politik yang bertahan bukan hanya politik yang menang dalam pemilu, tetapi politik yang tetap hadir setelah pemilu selesai.



























