Jakarta — Upacara sudah selesai. Bendera diturunkan. Panggung perayaan kemerdekaan dibongkar. Lagu-lagu nasional berganti dengan suara kendaraan yang kembali memenuhi jalan.
17 Agustus lewat.
Tapi bagi sebagian besar orang, hidup tidak ikut libur.
Senin kembali datang bersama ongkos transportasi, uang sekolah, cicilan, harga rumah, tagihan listrik, biaya makan, dan pekerjaan yang belum tentu menjamin bulan depan. Kemerdekaan yang dirayakan dengan parade dan pidato akhirnya berhadapan dengan kenyataan paling sederhana: apakah orang biasa masih punya ruang untuk membayangkan masa depan?
Pertanyaan itu lebih penting daripada sekadar berapa kali slogan kemerdekaan diteriakkan.
Sebab kemerdekaan tidak berhenti pada terbebasnya Indonesia dari penjajahan. Ia seharusnya berkembang menjadi kemampuan warga menentukan hidupnya sendiri. Bisa bekerja tanpa seluruh penghasilan habis untuk bertahan. Bisa tinggal di rumah yang layak tanpa harus menghabiskan separuh umur untuk membayar cicilan. Bisa menyekolahkan anak tanpa takut jatuh miskin. Bisa bepergian ke tempat kerja tanpa menghabiskan berjam-jam setiap hari di perjalanan.
Dengan kata lain: merdeka adalah ketika orang biasa bisa punya masa depan.
Masalahnya, masa depan kini terasa seperti barang mewah.
Bagi anak muda di kota besar, membeli rumah semakin menyerupai permainan matematika yang sejak awal sudah sulit dimenangkan. Harga tanah bergerak lebih cepat daripada kenaikan penghasilan. Gaji bertambah perlahan, sementara kebutuhan hidup datang tanpa kompromi.
Mereka kemudian disuruh menabung.
Tetapi bagaimana menabung jika sebagian besar pendapatan sudah habis untuk kos, transportasi, makan, listrik, pulsa, dan kebutuhan dasar lain?
Mereka disuruh meningkatkan kompetensi.
Tetapi bagaimana mengikuti pelatihan jika waktu habis untuk perjalanan pulang-pergi dan pekerjaan yang menyita tenaga?
Mereka diminta menjadi generasi produktif.
Tetapi produktivitas tanpa akses terhadap rumah, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan pekerjaan layak hanya akan menghasilkan satu hal: warga yang semakin sibuk bertahan hidup.
Di titik ini, kemerdekaan perlu dibaca ulang.
Bukan sebagai romantisme sejarah, melainkan sebagai pekerjaan rumah kebijakan publik.
Negara tidak cukup hanya memastikan pertumbuhan ekonomi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang menikmati pertumbuhan itu?
Angka pertumbuhan ekonomi dapat terlihat bagus di layar. Investasi bisa meningkat. Gedung-gedung baru berdiri. Jalan dan kawasan komersial terus berkembang.
Namun bagi warga yang masih kesulitan membayar sewa rumah, ongkos perjalanan, atau biaya pendidikan anak, pertumbuhan itu terasa seperti sesuatu yang terjadi di kota yang berbeda.
Di sinilah ukuran keberhasilan pembangunan harus digeser.
Bukan hanya berapa banyak proyek yang dibangun, tetapi berapa banyak orang biasa yang memperoleh kesempatan naik kelas.
Rumah adalah salah satunya.
Pendidikan adalah lainnya.
Transportasi juga.
Begitu pula pekerjaan.
Keempat hal itu sebenarnya saling berkaitan. Rumah yang terlalu jauh membuat ongkos transportasi membengkak. Perjalanan yang panjang mengurangi waktu bersama keluarga. Pendidikan yang tidak terjangkau mempersempit peluang memperoleh pekerjaan dengan penghasilan lebih baik. Pekerjaan dengan upah rendah membuat rumah semakin sulit dibeli.
Kemiskinan akhirnya bukan lagi sekadar persoalan pendapatan. Ia menjadi lingkaran.
Karena itu, membicarakan kemerdekaan tanpa membicarakan akses adalah pembicaraan yang setengah selesai.
Apa artinya merdeka jika seorang anak lahir di keluarga miskin lalu peluang hidupnya hampir sepenuhnya ditentukan oleh tempat ia lahir?
Apa artinya merdeka jika seorang pekerja harus tinggal semakin jauh dari tempat kerja karena harga hunian di sekitar pusat ekonomi tidak masuk akal?
Apa artinya merdeka jika pendidikan yang baik hanya mudah diakses oleh mereka yang mampu membayar?
Dan apa artinya merdeka jika orang bekerja bertahun-tahun tetapi tetap tidak yakin apakah dirinya akan pernah memiliki rumah?
Kemerdekaan seharusnya justru hadir di sana: memutus hubungan antara latar belakang keluarga dan batas masa depan seseorang.
Anak dari keluarga sederhana harus bisa menjadi dokter. Anak buruh harus bisa menjadi insinyur. Anak pedagang kecil harus punya kesempatan menjadi pengusaha. Anak dari kampung tidak boleh otomatis kalah hanya karena sekolahnya tidak sebagus sekolah di pusat kota.
Negara tidak harus menjanjikan semua orang menjadi kaya.
Negara harus memastikan orang memiliki kesempatan yang masuk akal untuk memperbaiki hidupnya.
Itulah mengapa kebijakan publik tidak boleh hanya sibuk mengejar angka makro. Di balik angka kemiskinan, pengangguran, inflasi, atau pertumbuhan ekonomi, ada manusia yang sedang menghitung sisa uang sampai akhir bulan.
Ada orang tua yang menunda membeli obat karena uangnya harus digunakan untuk membayar sekolah.
Ada pekerja yang memilih tinggal jauh dari kantor karena harga rumah terlalu mahal.
Ada anak muda yang menunda menikah bukan karena tidak ingin berkeluarga, tetapi karena tidak tahu akan tinggal di mana.
Ada lulusan perguruan tinggi yang mendapatkan ijazah, tetapi tidak mendapatkan pekerjaan yang sepadan.
Mereka bukan statistik.
Mereka adalah alasan mengapa kemerdekaan harus diteruskan menjadi kebijakan.
Indonesia sudah merdeka selama puluhan tahun. Tantangannya sekarang bukan lagi merebut kemerdekaan dari bangsa lain, melainkan memastikan kemerdekaan itu tidak berhenti sebagai hak formal.
Kemerdekaan harus terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Di rumah yang layak.
Di sekolah yang berkualitas.
Di transportasi yang terjangkau.
Di pekerjaan yang memberikan kepastian.
Dan pada akhirnya, pada satu kemampuan yang sering dianggap sederhana tetapi sebenarnya sangat fundamental: kemampuan untuk merencanakan hari esok.
Sebab orang yang setiap hari hanya memikirkan bagaimana bertahan sampai akhir bulan belum sepenuhnya memiliki kebebasan.
Ia mungkin bebas secara hukum.
Tetapi pilihan hidupnya masih dibatasi oleh keadaan.
Karena itu, setelah bendera merah putih kembali disimpan, pertanyaan tentang kemerdekaan justru belum selesai.
Justru baru dimulai.
Merdeka bukan ketika negara mampu menggelar perayaan paling meriah. Merdeka adalah ketika orang biasa, tanpa koneksi dan tanpa warisan besar, tetap bisa berkata: saya punya kesempatan. Saya punya pilihan. Saya punya masa depan.
Dan barangkali, di situlah makna kemerdekaan yang paling konkret: ketika masa depan tidak hanya menjadi milik mereka yang sejak lahir sudah beruntung.



























