HARIANTANAHAIR.COM I JAKARTA — Telepon seluler kini menjadi semacam kompas dalam kehidupan sehari-hari. Ketika tersesat, tinggal membuka peta. Saat ingin memastikan anggota keluarga sudah sampai, cukup mengirim pesan. Ketika terjadi sesuatu, nomor telepon menjadi jalan pertama untuk meminta kabar.
Masalahnya, bagaimana jika dalam situasi darurat semua itu tiba-tiba berhenti bekerja?
Sinyal bisa hilang. Baterai bisa habis. Jaringan komunikasi dapat terganggu. Ponsel bahkan bisa rusak atau tertinggal ketika seseorang harus segera menyelamatkan diri.
Dalam kondisi seperti itu, pertanyaan sederhana bisa menjadi sangat penting: jika anggota keluarga terpisah, di mana tempat untuk bertemu?
Jawabannya sebaiknya tidak dicari ketika bencana sudah terjadi.
Keluarga dapat menentukan satu titik kumpul sejak sekarang. Tempatnya tidak harus rumit. Bisa berupa rumah salah satu anggota keluarga, pos keamanan lingkungan, balai warga, tempat ibadah, sekolah, atau lokasi lain yang relatif mudah dikenali dan aman.
Yang penting, semua anggota keluarga mengetahui tempat tersebut dan memahami kapan harus menuju ke sana.
Rencana ini menjadi semakin penting bagi keluarga yang sehari-hari beraktivitas di lokasi berbeda. Orang tua mungkin bekerja di pusat kota, anak bersekolah di kawasan lain, sementara anggota keluarga lainnya berada di rumah. Ketika komunikasi terputus, masing-masing orang membutuhkan pegangan selain layar ponsel.
Titik kumpul juga perlu disepakati dengan mempertimbangkan kondisi darurat. Jangan memilih lokasi yang berada di kawasan rawan banjir, dekat bangunan yang berisiko runtuh, atau berada di jalur evakuasi. Jika memungkinkan, siapkan pula satu lokasi alternatif apabila titik utama tidak dapat diakses.
Hal lain yang kerap dilupakan adalah cara menentukan kapan harus pergi ke titik kumpul. Misalnya, setelah evakuasi dari rumah, setelah kondisi sekitar dinyatakan aman, atau pada waktu tertentu jika komunikasi tidak kunjung tersambung.
Tidak perlu menunggu bencana untuk membicarakannya. Justru ketika suasana masih normal, keputusan semacam ini lebih mudah dibuat.
Ada satu pertanyaan sederhana yang bisa dibicarakan di meja makan:
“Kalau suatu hari kita terpisah dan HP tidak bisa dipakai, kita ketemu di mana?”
Pertanyaannya terdengar sederhana. Namun dalam keadaan darurat, jawaban atas pertanyaan itu bisa jauh lebih berharga daripada sinyal penuh di layar ponsel.
Semoga titik kumpul tersebut tidak pernah benar-benar digunakan.
Namun kesiapsiagaan memang bukan tentang menunggu bencana datang. Ia tentang memastikan keluarga memiliki rencana ketika hal-hal yang selama ini dianggap selalu tersedia. Sinyal, listrik, internet, dan ponsel, tiba-tiba tidak bisa diandalkan.



























