HARIANTANAHAIR.COM | JAKARTA — Rupiah mencoba bangkit setelah sehari sebelumnya menembus batas psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan Rabu, 30 September 2026, mata uang Garuda menguat ke kisaran Rp17.900-an per dolar AS.
Mengutip data perdagangan pasar, rupiah bergerak menguat pada awal perdagangan setelah pada Selasa, 29 September, sempat terperosok hingga Rp18.010 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan Selasa, rupiah kembali menguat ke sekitar Rp17.960 per dolar AS.
Penguatan itu menjadi napas pendek bagi rupiah yang sepanjang pekan ini berada di bawah tekanan. Sehari sebelumnya, rupiah bahkan mencatat posisi terlemah sejak awal Agustus ketika dolar AS menembus Rp18.000. Reuters mencatat tekanan tersebut terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan harga minyak dunia.
Tekanan terhadap rupiah bukan semata berasal dari dalam negeri. Kenaikan yield US Treasury membuat aset berbasis dolar kembali menarik bagi investor. Pada saat yang sama, harga minyak yang tinggi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan kebutuhan valuta asing negara-negara pengimpor energi.
Bank Indonesia mengatakan terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, termasuk transaksi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan transaksi NDF di pasar offshore.
Tekanan juga datang dari kebutuhan dolar korporasi menjelang akhir kuartal III serta arus keluar dana dari aset negara berkembang. BI menyebut kondisi tersebut ikut memengaruhi pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir.
Meski kembali menguat, posisi rupiah masih jauh dari kata aman. Pemerintah dalam asumsi nilai tukar RAPBN 2027 menetapkan kurs Rp17.500 per dolar AS. Angka perdagangan rupiah saat ini masih berada di atas asumsi tersebut.
Cadangan devisa Indonesia sendiri masih menjadi salah satu bantalan. BI mencatat cadangan devisa mencapai US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. Bank sentral menyatakan akan terus menjaga stabilitas rupiah sembari memastikan mekanisme pasar tetap berjalan.
Rupiah dengan demikian belum benar-benar keluar dari zona tekanan. Penguatan pada Rabu pagi lebih tepat dibaca sebagai pemulihan setelah guncangan sehari sebelumnya, sementara arah dolar AS, harga minyak, yield obligasi Amerika, dan arus modal global masih menjadi faktor yang menentukan langkah mata uang Garuda berikutnya.




























