JAKARTA – Ekonomi syariah Indonesia menghadapi tantangan di tengah dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pertumbuhan aset perbankan syariah belum mampu memperbesar pangsa pasar, sementara daya saing industri halal dan penghimpunan zakat masih menyisakan pekerjaan besar.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi kebijakan pemerintah dalam mengembangkan ekonomi syariah sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi. Persoalan ini tidak hanya menyangkut kinerja perbankan syariah. Ekosistem ekonomi syariah juga mencakup industri halal, pasar modal syariah, keuangan sosial Islam, serta penguatan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Ekonomi Syariah Kehilangan Prioritas dalam Agenda Nasional?
Salah satu sorotan utama adalah tidak disebutkannya ekonomi syariah secara eksplisit dalam Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan RAPBN 2027. Padahal, Asta Cita 3 dan RPJMN 2025–2029 menempatkan ekonomi syariah sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional.
Kondisi tersebut memunculkan perhatian terhadap kesinambungan antara perencanaan pembangunan dan pelaksanaan kebijakan. Pengembangan ekonomi syariah membutuhkan arah yang jelas, koordinasi antarlembaga, serta dukungan program dan anggaran yang terukur.
Selain itu, posisi Indonesia dalam State of the Global Islamic Economy edisi 2025/2026 dilaporkan turun dari peringkat ketiga menjadi keempat. Penurunan ini menjadi salah satu indikator tantangan daya saing Indonesia dalam ekosistem ekonomi Islam global.
Aset Perbankan Syariah Tumbuh, Pangsa Pasar Justru Menyusut
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa perbankan syariah masih mencatatkan pertumbuhan positif hingga Juni 2026. Aset tumbuh 11,15 persen secara tahunan, pembiayaan meningkat 11,29 persen, dan dana pihak ketiga bertambah 13,01 persen.
Namun, pertumbuhan tersebut belum cukup memperkuat posisi perbankan syariah dalam industri keuangan nasional. Pangsa pasarnya turun dari 7,72 persen pada Desember 2024 menjadi 7,36 persen pada Juni 2026.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan nominal belum tentu menghasilkan peningkatan daya saing relatif. Ketika perbankan konvensional berkembang lebih cepat, pangsa pasar perbankan syariah dapat menyusut meskipun aset dan pembiayaannya terus meningkat.
Karena itu, industri perlu memperluas basis nasabah, meningkatkan kualitas layanan, serta memperkuat inovasi produk. Langkah tersebut penting untuk memperbesar kontribusi perbankan syariah terhadap pembiayaan usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Industri Halal dan Zakat Masih Menyimpan Potensi Besar
Tantangan berikutnya muncul dalam pengembangan industri halal. Sertifikasi halal yang dilaporkan mencapai 24 juta produk belum otomatis mendorong peningkatan ekspor dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama pasar halal dunia.
Sertifikasi perlu berjalan bersama peningkatan kapasitas produksi, kualitas produk, akses pembiayaan, dan perluasan jaringan distribusi. Tanpa dukungan tersebut, pelaku usaha akan kesulitan mengubah pengakuan halal menjadi keunggulan kompetitif di pasar internasional.
Di sektor keuangan sosial Islam, penghimpunan zakat nasional juga masih jauh dari potensinya. Data yang dirujuk dalam laporan tersebut menyebut penghimpunan zakat baru mencapai 13,7 persen dari potensi sekitar Rp327 triliun.
Kesenjangan ini menunjukkan perlunya penguatan tata kelola, transparansi, dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pengelola zakat. Pemanfaatan teknologi digital serta integrasi program pemberdayaan ekonomi dapat membantu memperluas penghimpunan dan penyaluran zakat.
Pemerintah Perlu Memperkuat Strategi Ekonomi Syariah
Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi syariah memerlukan pendekatan yang lebih terpadu. Pemerintah perlu menyelaraskan kebijakan, memperkuat industri keuangan syariah, dan mendorong industri halal agar menghasilkan nilai tambah ekonomi.
Selain itu, pelaku usaha membutuhkan akses pembiayaan, pendampingan, dan peluang memasuki pasar ekspor. Sementara itu, lembaga zakat perlu memperkuat akuntabilitas agar dana sosial Islam memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Ekonomi syariah memiliki peluang besar untuk mendukung pertumbuhan yang inklusif. Namun, peluang tersebut membutuhkan strategi yang konsisten, indikator keberhasilan yang terukur, dan koordinasi antara pemerintah, industri, lembaga keuangan, serta masyarakat.
Dengan demikian, tantangan ekonomi syariah bukan sekadar menjaga pertumbuhan aset. Agenda yang lebih besar ialah meningkatkan pangsa pasar, memperkuat daya saing global, dan memastikan seluruh ekosistem ekonomi syariah memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian Indonesia.




























