HARIANTANAHAIR.COM | JAKARTA — Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mencatat elektabilitas 7,1 persen dalam survei nasional Poltracking Indonesia. Angka ini menempatkan PKB di posisi keempat, di bawah Partai Gerindra, PDI Perjuangan, dan Partai Golkar.
Hasil survei yang dirilis pada Senin, 19 Oktober 2026, itu menjadi sinyal bahwa PKB masih memiliki tempat dalam peta persaingan politik nasional. Namun, angka elektabilitas bukan garis finis. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga kepercayaan pemilih agar tidak berhenti sebagai angka dalam survei.
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda menyampaikan hasil tersebut berdasarkan survei yang digelar pada 30 September hingga 7 Oktober 2026. Survei melibatkan 1.220 responden melalui wawancara tatap muka, dengan metode multistage random sampling, margin of error sekitar 2,9 persen, dan tingkat kepercayaan 95 persen.
Dalam survei tersebut, Gerindra memperoleh elektabilitas 22,9 persen, disusul PDIP 13,4 persen dan Golkar 9,1 persen. PKB berada di urutan berikutnya dengan 7,1 persen, diikuti PKS 5,8 persen dan Demokrat 5,4 persen. NasDem mencatat 3,9 persen.
Elektabilitas Bukan Sekadar Angka
Posisi empat besar memberikan modal politik bagi PKB. Namun, mempertahankan dukungan publik membutuhkan kerja yang lebih panjang daripada sekadar menjaga popularitas.
Sebab, survei yang sama juga memotret tantangan bagi partai politik secara umum. Sebanyak 49 persen responden menilai peran partai politik dalam menyalurkan aspirasi masyarakat tidak baik. Hanya 35,3 persen yang menilainya baik.
Temuan ini memperlihatkan jarak antara posisi partai dalam persaingan elektoral dan penilaian masyarakat terhadap fungsi partai sebagai penyalur aspirasi.
Bagi PKB, pekerjaan rumahnya bukan hanya mempertahankan elektabilitas, melainkan memastikan aspirasi masyarakat benar-benar diterjemahkan menjadi agenda dan kebijakan yang dirasakan manfaatnya.
Di Jakarta, ukuran kerja politik itu dekat dengan kehidupan sehari-hari: akses pendidikan, kesempatan kerja, transportasi publik, biaya hidup, hingga layanan dasar yang terjangkau. Isu-isu tersebut menentukan apakah politik hadir sebagai solusi atau sekadar menjadi percakapan di ruang kekuasaan.
Karena itu, capaian survei perlu dibaca sebagai dorongan untuk memperkuat kerja nyata, bukan alasan untuk berpuas diri. Kepercayaan publik akan terus diuji oleh konsistensi wakil rakyat dalam mendengar, memperjuangkan, dan mengawal kebutuhan warga.
PKB dan Tantangan Menjaga Kepercayaan
Hasil Poltracking juga menunjukkan bahwa PKB termasuk tujuh partai yang berpotensi lolos ke DPR RI apabila ambang batas parlemen tetap sebesar 4 persen. Meski demikian, hasil survei merupakan potret preferensi responden pada periode pengumpulan data, bukan jaminan hasil pemilu mendatang.
Elektabilitas bisa menjadi modal, tetapi keberlanjutan dukungan bergantung pada banyak faktor, termasuk rekam jejak, kualitas kader, dan relevansi agenda politik dengan kebutuhan masyarakat.
Bagi PKB, pesan dari survei ini jelas: posisi di empat besar patut dicatat, tetapi kepercayaan rakyat harus terus diperjuangkan.




























