Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, memecahkan masalah, beradaptasi, bernegosiasi hingga menyelesaikan konflik menjadi pekerjaan rumah bagi sebagian pekerja muda.
HarianTanahAir | JAKARTA — Ijazah semakin banyak, tetapi pintu kantor justru terasa makin sempit. Generasi Z yang mulai membanjiri pasar kerja menghadapi paradoks: mereka tumbuh sebagai generasi paling akrab dengan teknologi, tetapi sebagian perusahaan justru mulai berpikir dua kali untuk merekrut mereka.
Masalahnya bukan semata kemampuan teknis. Survei General Assembly menunjukkan lebih dari seperempat eksekutif mengaku tidak akan merekrut fresh graduate saat ini. Salah satu alasan utama yang muncul adalah lemahnya soft skills—kemampuan yang tidak selalu tercermin dari nilai akademis atau sertifikat keahlian.
Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, memecahkan masalah, beradaptasi, bernegosiasi hingga menyelesaikan konflik menjadi pekerjaan rumah bagi sebagian pekerja muda.
Di sinilah persoalan mulai rumit. Dunia pendidikan selama bertahun-tahun sibuk mencetak lulusan yang siap mengikuti ujian. Dunia kerja membutuhkan orang yang siap menghadapi manusia.
Pandemi Mengubah Cara Gen Z Belajar Bekerja
Pandemi Covid-19 ikut meninggalkan jejak. Laporan Gartner menunjukkan 46 persen pekerja Gen Z mengaku pandemi membuat pencapaian tujuan pendidikan atau karier mereka menjadi lebih sulit.
Mereka melewati periode penting dalam pembentukan keterampilan sosial melalui layar komputer. Ruang kelas berubah menjadi ruang virtual. Diskusi tatap muka berkurang. Kesempatan bernegosiasi, membangun jejaring, berbicara di depan publik dan beradaptasi dengan lingkungan kerja ikut terpangkas.
Akibatnya terasa ketika mereka masuk kantor. Kemampuan teknis mungkin sudah dimiliki. Mereka bisa mengoperasikan perangkat lunak, memahami media sosial, mengolah data atau menggunakan berbagai perangkat digital. Namun pekerjaan tidak hanya membutuhkan kemampuan mengklik dan mengetik.
Ada atasan yang harus diyakinkan. Ada rekan kerja yang harus diajak berkompromi. Ada klien yang harus dihadapi. Ada tenggat yang tidak bisa dinegosiasikan. Dalam situasi semacam itu, soft skills menjadi pembeda.
Ketika Manajer Ikut Kewalahan
Masalahnya tidak berhenti pada meja HR. Riset Intelligent.com mencatat satu dari lima manajer pernah mempertimbangkan untuk mengundurkan diri karena stres mengelola pekerja Gen Z. Sebanyak 75 persen manajer juga mengaku karyawan Gen Z membutuhkan lebih banyak waktu dan sumber daya dibandingkan karyawan dari generasi lain.
Angka tersebut menunjukkan ada persoalan dalam hubungan antara generasi muda dan struktur perusahaan. Namun menjadikan Gen Z sebagai kambing hitam juga terlalu sederhana.
Generasi ini memasuki dunia kerja dengan pandangan yang berbeda. Mereka lebih terbuka membicarakan kesehatan mental, menginginkan batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta cenderung mempertanyakan budaya kerja yang dianggap tidak masuk akal.
Bagi sebagian perusahaan, sikap itu bisa dibaca sebagai kurang tahan banting. Bagi Gen Z, bisa jadi itu justru bentuk keberanian menolak budaya kerja yang dianggap tidak sehat. Di antara dua perspektif tersebut, kantor menjadi arena tawar-menawar baru.
Perusahaan Tak Bisa Sekadar Menyalahkan Gen Z
Menutup pintu bagi fresh graduate mungkin terlihat sebagai jalan keluar cepat. Tetapi dalam jangka panjang, strategi itu bisa menjadi bumerang. Perusahaan kehilangan kesempatan membentuk tenaga kerja sejak awal. Regenerasi kepemimpinan pun terancam. Padahal Gen Z memiliki keunggulan yang sulit diabaikan: akrab dengan teknologi, cepat beradaptasi, inovatif, dan membawa perspektif baru.
Karena itu, persoalannya bukan apakah Gen Z layak bekerja. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah perusahaan siap mengajari mereka bekerja?
Survei ResumeBuilder menunjukkan 45 persen perusahaan telah menyediakan kelas soft skills bagi karyawan Gen Z. Dua pertiga perusahaan yang menjalankan program tersebut menilai hasilnya sukses. Artinya, ada jalan lain selain menolak.
Perusahaan bisa membangun program onboarding yang lebih serius, menyediakan mentor, melatih komunikasi profesional dan memberi ruang bagi pekerja muda untuk belajar dari kesalahan.
Begitu pula kampus. Lulusan tidak cukup hanya membawa IPK dan gelar. Mereka harus dibekali kemampuan berbicara, bekerja dalam tim, menghadapi kritik, menyelesaikan konflik dan memahami etika profesional.
Gen Z Harus Belajar, Perusahaan Juga Harus Berubah
Dunia kerja tidak akan menyesuaikan diri sepenuhnya dengan satu generasi. Gen Z tetap harus belajar bahwa profesionalisme membutuhkan disiplin, tanggung jawab dan kemampuan menerima kritik.
Tetapi perusahaan juga perlu mengakui satu hal: Gen Z bukan produk jadi. Mereka adalah tenaga kerja yang sedang dibentuk. Menuntut lulusan baru memiliki pengalaman, kedewasaan profesional dan kemampuan interpersonal sempurna sejak hari pertama sama saja dengan meminta pohon menghasilkan buah sebelum sempat tumbuh.
Jika perusahaan terus mengeluhkan Gen Z tanpa menyediakan ruang pembelajaran, persoalannya bukan lagi tentang generasi yang tidak siap bekerja. Bisa jadi, perusahaanlah yang tidak siap mendidik generasi baru.
Dan ketika pintu kerja ditutup terlalu lebar bagi anak muda, yang dipertaruhkan bukan cuma nasib satu generasi. Tetapi juga masa depan tenaga kerja dan regenerasi dunia usaha itu sendiri. (***)



























