HARIANTANAHAIR.COM I JAKARTA — Ponsel membuat transaksi keuangan menjadi semakin mudah. Namun, kemudahan itu juga membawa pintu masuk bagi berbagai jebakan: pinjaman online ilegal, paylater yang digunakan tanpa perhitungan, hingga judi online.
Ironisnya, generasi yang tumbuh bersama teknologi justru menjadi salah satu kelompok yang paling rentan menghadapi risiko tersebut.
Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS mengingatkan generasi muda agar tidak terlena oleh kemudahan layanan keuangan digital. Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS Farid Azhar Nasution menyoroti pentingnya pemahaman sebelum menggunakan berbagai produk keuangan yang kini hanya berjarak beberapa sentuhan jari.
Peringatan itu muncul di tengah paradoks literasi dan inklusi keuangan. Di Lampung, misalnya, indeks literasi keuangan tercatat 72,3 persen, lebih tinggi daripada rata-rata nasional sebesar 69,6 persen. Namun, indeks inklusi keuangannya masih 90,9 persen, di bawah rata-rata nasional yang mencapai 93,6 persen.
Angka tersebut menunjukkan persoalan keuangan tidak selesai hanya dengan semakin banyaknya aplikasi, layanan, atau akses transaksi. Memiliki akses terhadap produk keuangan tidak selalu berarti memahami risiko di baliknya.
Masalahnya, di ruang digital, keputusan finansial sering kali dibuat terlalu cepat. Butuh beberapa menit untuk mengajukan pinjaman. Lebih singkat lagi untuk mengaktifkan paylater. Sementara itu, judi online menawarkan ilusi kemenangan dengan mekanisme yang sama mudahnya: cukup membuka layar dan menekan tombol.
Kemudahan itulah yang bisa berubah menjadi perangkap.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan masalah pinjaman ilegal belum juga surut. Sepanjang 1 Januari hingga 30 Juli 2026, OJK menerima 25.729 pengaduan terkait entitas ilegal. Sebanyak 22.394 pengaduan di antaranya berkaitan dengan pinjaman online ilegal.
Dalam periode yang sama, Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal atau Satgas PASTI menemukan dan menghentikan 951 entitas pinjol ilegal.
Angka itu memperlihatkan bahwa pemberantasan pinjol ilegal seperti permainan kucing dan tikus. Ketika satu aplikasi atau situs ditutup, modus lain dapat muncul dengan wajah baru, nama baru, bahkan promosi yang semakin sulit dibedakan dari layanan keuangan legal.
Di titik inilah generasi muda menghadapi persoalan yang lebih rumit daripada sekadar “boros”.
Mereka hidup dalam ekosistem digital yang mendorong konsumsi instan. Barang bisa dibeli sekarang dan dibayar belakangan. Pinjaman dapat cair tanpa harus datang ke kantor. Tawaran keuntungan cepat muncul bersamaan dengan notifikasi media sosial. Batas antara kebutuhan, keinginan, dan spekulasi semakin kabur.
Paylater, misalnya, bukan persoalan jika digunakan secara terukur. Namun, ketika fasilitas pembayaran tertunda dipakai untuk menutup kebutuhan sehari-hari tanpa perhitungan kemampuan membayar, kemudahan bisa berubah menjadi beban.
Persoalan menjadi lebih serius ketika tekanan finansial bertemu dengan tawaran jalan pintas seperti judi online atau pinjaman ilegal.
OJK sendiri telah meminta lembaga perbankan melakukan penguatan pemeriksaan dan pemblokiran terhadap puluhan ribu rekening yang terindikasi terkait aktivitas judi online. Hingga pertengahan 2026, upaya pemberantasan perjudian daring masih menjadi salah satu agenda besar pengawasan sektor keuangan.
Karena itu, peringatan LPS kepada generasi muda sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang cara mengelola uang. Ini juga soal kemampuan bertahan di tengah ekonomi digital yang membuat seseorang bisa berutang, berbelanja, bahkan kehilangan uang hanya dalam hitungan menit.
Generasi muda hari ini mungkin lebih cepat memahami aplikasi daripada generasi sebelumnya. Tetapi menjadi melek digital tidak otomatis berarti melek finansial.
Di tengah derasnya promosi “beli sekarang, bayar nanti”, “pinjam langsung cair”, dan janji keuntungan instan, kemampuan paling penting justru bukan seberapa cepat seseorang bisa melakukan transaksi.
Melainkan seberapa sering ia mampu berhenti sejenak sebelum menekan tombol setuju.
Sebab di era digital, satu keputusan finansial memang hanya membutuhkan satu klik.
Tetapi untuk keluar dari akibatnya, kadang dibutuhkan waktu bertahun-tahun.



























