Seksolog dr Boyke Dian Nugraha mengatakan edukasi seksual bagi pasangan suami-istri bukan sekadar pengetahuan mengenai tubuh. Pasangan juga perlu memahami kebutuhan, kenyamanan, kekhawatiran, preferensi, dan batasan masing-masing.
HARIANTANAHAIR.COM I CIREBON — Rumah tangga para pengasuh pesantren jarang dibicarakan di ruang publik. Ia berada di balik dinding keluarga, sementara masyarakat lebih sering melihat sosok kiai dan bu nyai dari peran mereka sebagai pendidik, pendakwah, dan pengelola pesantren.
Namun, persoalan yang berlangsung di ruang privat itu bisa menjalar jauh ketika rumah tangga retak. Kegelisahan itulah yang menjadi latar Workshop Nasional Bu Nyai Nusantara di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon, Jawa Barat, Ahad, 13 September 2026. Sekitar 700 peserta dari Jawa Barat mengikuti kegiatan yang membahas edukasi seks, kesehatan mental, komunikasi pasangan, dan keharmonisan rumah tangga.
Tema tersebut terdengar tidak lazim untuk forum yang berlangsung di lingkungan pesantren. Justru di situlah persoalannya: hal yang dianggap tabu sering kali menjadi masalah ketika tak pernah dibicarakan secara terbuka.
Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, mengatakan gagasan workshop berawal dari keluhan yang ia dengar dalam forum open house setiap Jumat. Sejumlah pasangan pengasuh pesantren datang membawa persoalan rumah tangga yang kemudian memengaruhi aktivitas mereka di pesantren.
Masalahnya beragam, dari konflik pasangan hingga pisah ranjang dan perceraian. Imam juga menyinggung kasus pelecehan seksual yang melibatkan oknum pengasuh lembaga keagamaan yang pernah mencuat ke publik.
Menurut dia, persoalan semacam itu tidak cukup dilihat sebagai perkara individu. Relasi dalam rumah tangga juga perlu diperhatikan.
Namun Imam memberi batas yang jelas. Workshop tersebut, kata dia, bukan forum untuk membicarakan teknik hubungan seksual secara sempit. Yang hendak dibangun adalah pemahaman yang lebih utuh mengenai hubungan suami-istri: komunikasi, kesehatan mental, serta edukasi seks. “Workshop ini bukan soal teknis hubungan seksual. Itu terlalu sempit.”
Bukan Sekadar Soal Seks
Seks dalam perkawinan, dalam pembahasan workshop itu, ditempatkan sebagai bagian dari relasi yang lebih besar. Seksolog dr Boyke Dian Nugraha mengatakan edukasi seksual bagi pasangan suami-istri bukan sekadar pengetahuan mengenai tubuh. Pasangan juga perlu memahami kebutuhan, kenyamanan, kekhawatiran, preferensi, dan batasan masing-masing.
Di sinilah komunikasi menjadi penting. Hubungan yang tidak memberi ruang bagi pasangan untuk berbicara dapat membuat persoalan kecil menumpuk menjadi konflik. Sebaliknya, komunikasi yang terbuka memungkinkan pasangan memahami persoalan sebelum berkembang menjadi pertengkaran berkepanjangan.
Kesehatan mental menjadi lapisan berikutnya. Hena Rustiana, Ketua Kesehatan Mental Indonesia, menjelaskan bahwa kualitas hubungan suami-istri tidak hanya ditentukan kondisi fisik. Stres, kecemasan, kelelahan emosional, rasa tidak aman, dan konflik berkepanjangan juga dapat memengaruhi relasi pasangan.
Dengan kata lain, persoalan yang tampak sebagai masalah seksual belum tentu bermula dari seks. Bisa jadi akarnya adalah komunikasi yang buruk. Bisa pula tekanan psikologis yang menumpuk, persoalan emosional, atau hubungan yang sudah lama kehilangan ruang aman untuk berbicara.
Ketika Keluarga Menopang Pesantren
Ada alasan mengapa persoalan tersebut dianggap penting bagi keluarga pengasuh pesantren. Kiai dan bu nyai bukan hanya pasangan suami-istri. Mereka juga menjalankan peran sosial yang besar: mendidik santri, mengelola lembaga, berdakwah, sekaligus melayani masyarakat.
Karena itu, persoalan yang bermula dari rumah berpotensi memengaruhi ruang yang lebih luas. Workshop Bu Nyai Nusantara mencoba membuka pembicaraan yang selama ini cenderung disimpan di balik pintu rumah. Bukan untuk mengumbar ranah privat, melainkan untuk membekali pasangan agar mampu mengenali persoalan dan mengelolanya sebelum menjadi konflik yang lebih besar.
Penyelenggara menargetkan kegiatan serupa dapat menjangkau sekitar 5.000 peserta di berbagai daerah Indonesia. Pembiayaan kegiatan berasal dari program amal Imam Jazuli Foundation.
Pesannya sederhana, tetapi tidak ringan: keharmonisan rumah tangga bukan sekadar urusan pasangan. Bagi keluarga pengasuh pesantren, ia ikut menentukan bagaimana sebuah keluarga menjalankan amanah sosialnya.
Dan mungkin, justru karena pembicaraan tentang seks, kesehatan mental, dan relasi suami-istri masih dianggap tabu, percakapan semacam ini menjadi semakin penting. (***)


























