HARIANTANAHAIR | Jakarta – Jakarta terus bergerak menuju kota global. Gedung pencakar langit bertambah, jaringan transportasi semakin luas, dan berbagai kawasan strategis terus dipercantik untuk menarik investasi maupun wisatawan. Namun, di balik wajah metropolitan yang kian modern, masih terdapat pekerjaan rumah yang tak boleh luput dari perhatian: masa depan kampung-kampung kota.
Kampung kota bukan sekadar kawasan permukiman padat. Di sanalah jutaan warga menggantungkan hidup, membangun usaha kecil, dan membentuk jejaring sosial yang telah mengakar selama puluhan tahun. Karena itu, revitalisasi kampung tidak semestinya dimaknai sebagai mengganti bangunan lama dengan bangunan baru, melainkan meningkatkan kualitas hidup tanpa menghilangkan identitas masyarakat yang telah lama tumbuh di dalamnya.
Dalam berbagai dokumen perencanaan pembangunan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menempatkan peningkatan kualitas layanan publik, pemerataan pembangunan, serta kolaborasi dengan masyarakat sebagai bagian dari arah pembangunan daerah. Partisipasi warga melalui Musrenbang maupun kanal pengaduan publik juga disebut sebagai modal penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
Pendekatan tersebut menjadi penting mengingat Jakarta tengah memasuki babak baru setelah tidak lagi menyandang status sebagai ibu kota negara. Transformasi menuju kota bisnis dan pusat ekonomi global tidak hanya membutuhkan kawasan perkantoran modern, tetapi juga lingkungan permukiman yang sehat, aman, dan produktif.
Revitalisasi kampung kota pada dasarnya merupakan investasi sosial. Ketika akses sanitasi membaik, jalan lingkungan tertata, ruang terbuka tersedia, dan drainase berfungsi optimal, manfaatnya tidak hanya dirasakan warga sekitar. Kota secara keseluruhan juga memperoleh keuntungan berupa meningkatnya kualitas lingkungan, menurunnya risiko banjir, hingga bertambahnya produktivitas masyarakat.
Persoalannya, revitalisasi sering kali masih dipahami sebatas proyek fisik. Padahal, pembangunan yang hanya berorientasi pada infrastruktur berpotensi mengabaikan dimensi sosial. Kampung memiliki karakter yang berbeda dengan kawasan hunian komersial. Di sana terdapat usaha rumahan, warung kecil, pengrajin, hingga ruang interaksi yang menjadi perekat kehidupan masyarakat.
Ketika penataan dilakukan tanpa melibatkan warga, risiko yang muncul bukan hanya perpindahan penduduk, tetapi juga hilangnya mata pencaharian dan ikatan sosial yang telah lama terbentuk. Karena itu, proses perencanaan seharusnya membuka ruang dialog sejak awal agar masyarakat tidak sekadar menjadi objek pembangunan, melainkan menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.
Jakarta sesungguhnya memiliki pengalaman panjang dalam berbagai program penataan kampung. Beragam evaluasi akademik menunjukkan bahwa keberhasilan revitalisasi tidak hanya diukur dari perubahan fisik kawasan, tetapi juga dari kemampuan mempertahankan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
Di sisi lain, arah pembangunan Jakarta menuju kota berkelas dunia juga membuka peluang baru. Revitalisasi kawasan bersejarah seperti Kota Tua, misalnya, dirancang untuk menghadirkan transportasi yang lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan daya tarik wisata. Namun, pengembangan kawasan semacam itu idealnya juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga yang tinggal di sekitarnya, bukan hanya bagi sektor pariwisata.
Kampung kota dapat menjadi bagian dari identitas Jakarta yang tidak dimiliki kota-kota lain. Banyak kawasan memiliki sejarah panjang, budaya lokal, hingga potensi ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan. Dengan dukungan pelatihan, akses pembiayaan, digitalisasi usaha mikro, serta penataan lingkungan yang baik, kampung justru bisa menjadi wajah baru pembangunan perkotaan yang inklusif.
Ke depan, tantangan Jakarta bukan hanya membangun gedung yang lebih tinggi atau jalan yang lebih lebar. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan seluruh lapisan masyarakat ikut menikmati hasil pembangunan. Kota yang maju bukan hanya dinilai dari kemegahan infrastrukturnya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga ruang hidup warganya.
Revitalisasi kampung kota menjadi ujian penting bagi arah pembangunan Jakarta. Ketika modernisasi mampu berjalan beriringan dengan pelestarian kehidupan sosial masyarakat, Jakarta tidak hanya tumbuh sebagai kota global, tetapi juga tetap menjadi rumah yang layak bagi seluruh warganya. Di situlah makna pembangunan yang sesungguhnya: bukan menggusur kehidupan lama, melainkan memperbaikinya agar mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman.
*Achi Hartoyo



























