JAKARTA — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang tidak semestinya dibaca hanya sebagai arena memilih Ketua Umum PBNU. Di balik riuh kontestasi kepemimpinan, ada pertanyaan yang jauh lebih panjang umurnya: ke mana pesantren akan dibawa ketika NU memasuki abad keduanya?
Muktamar yang akan digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menjadi momentum penting untuk merumuskan arah baru itu. PBNU sebelumnya menyebut forum ini diharapkan menjadi landasan strategis NU memasuki abad kedua.
Persoalannya, abad kedua tentu tidak bisa dijawab hanya dengan mengganti nama di pucuk organisasi. Dunia yang dihadapi pesantren hari ini sudah berbeda jauh dari dunia ketika NU didirikan. Santri hidup di tengah internet, kecerdasan buatan, perubahan iklim, ekonomi digital, mobilitas sosial, dan pasar kerja yang bergerak jauh lebih cepat daripada kurikulum pendidikan.
Pesantren pun menghadapi pertanyaan yang tak sederhana: apakah cukup mempertahankan tradisi, atau harus menemukan cara baru untuk membuat tradisi tetap relevan?
Dari Menjaga Tradisi ke Menciptakan Masa Depan
Selama ini pesantren kerap dibayangkan sebagai ruang pendidikan agama yang hidup dengan kitab kuning, sorogan, bandongan, dan kehidupan komunal para santri. Gambaran itu tidak keliru, tetapi tidak lagi lengkap.
Pesantren telah berkembang menjadi ekosistem pendidikan yang jauh lebih luas. Banyak pesantren mengelola sekolah formal, perguruan tinggi, koperasi, unit usaha, layanan kesehatan hingga lembaga pemberdayaan masyarakat. Karena itu, membicarakan masa depan pesantren berarti membicarakan masa depan jutaan anak muda yang tumbuh di dalamnya.
Di sinilah gagasan tentang pesantren transformatif menjadi relevan.
Pesantren transformatif bukan pesantren yang meninggalkan tradisi demi mengejar modernitas. Justru sebaliknya, tradisi menjadi modal untuk membaca perubahan. Nilai keislaman, kemandirian, gotong royong dan kedalaman ilmu tidak dibuang, tetapi diterjemahkan ke dalam kebutuhan zaman.
Santri tidak cukup hanya mampu membaca kitab. Mereka juga perlu mampu membaca data, teknologi, perubahan ekonomi, persoalan lingkungan dan dinamika masyarakat.
Tantangannya adalah bagaimana membuat semua itu berjalan tanpa menjadikan pesantren sekadar sekolah modern yang kehilangan ruhnya.
Muktamar ke-35 semestinya menjawab persoalan tersebut melalui sebuah blueprint abad kedua yang konkret. Bukan sekadar jargon besar yang selesai ketika forum muktamar ditutup.
Blueprint itu setidaknya perlu menjawab pertanyaan mendasar: kompetensi apa yang harus dimiliki santri 10, 20, bahkan 50 tahun mendatang? Bagaimana pesantren menghadapi kecerdasan buatan? Bagaimana lulusan pesantren masuk ke dunia kerja tanpa kehilangan identitas keagamaannya? Bagaimana pesantren bisa menjadi pusat inovasi sosial sekaligus tetap menjadi penjaga tradisi keilmuan Islam?
Pertanyaan-pertanyaan itu semakin mendesak karena Muktamar bukan berlangsung di ruang kosong. Jombang sendiri merupakan salah satu simpul penting tradisi pesantren dan sejarah NU. Pemilihan Tambakberas sebagai lokasi muktaamar membuat forum ini seperti kembali ke rumah lama untuk membicarakan masa depan yang sama sekali baru.
Persiapan di lapangan bahkan sudah bergerak jauh. Panitia lokal telah menyiapkan berbagai titik untuk registrasi, persidangan, penginapan, media center, posko kesehatan dan dapur umum.
Namun, kesiapan teknis hanyalah bagian paling mudah dari sebuah muktamar.
Yang lebih sulit adalah memastikan keputusan yang lahir dari sana tidak berhenti sebagai dokumen.
Jangan Sampai Abad Kedua Hanya Menjadi Pergantian Generasi
Ada bahaya ketika sebuah organisasi terlalu sibuk membicarakan siapa yang memimpin, tetapi lupa membicarakan untuk apa kepemimpinan itu digunakan.
Kontestasi Ketua Umum PBNU tentu penting. Ia menentukan arah organisasi dalam beberapa tahun ke depan. Namun, abad kedua NU membutuhkan horizon yang jauh lebih panjang daripada satu periode kepengurusan.
Pesantren tidak membutuhkan sekadar pemimpin baru. Ia membutuhkan cara pandang baru terhadap masa depan.
Jika tantangan abad pertama NU adalah bagaimana mempertahankan kehidupan keagamaan dan masyarakat di tengah perubahan sosial-politik yang besar, tantangan abad kedua jauh lebih kompleks. Teknologi dapat mengubah pekerjaan manusia. Krisis iklim dapat mengubah pola hidup. Arus informasi dapat membuat otoritas keilmuan semakin dipertanyakan. Bahkan kecerdasan buatan mulai masuk ke wilayah yang selama ini dianggap eksklusif milik manusia: membaca, menulis, menerjemahkan, menganalisis dan memproduksi pengetahuan.
Pesantren tidak bisa hanya menjadi penonton.
Karena itu, Muktamar ke-35 seharusnya menjadi ruang untuk menyusun peta jalan yang membuat pesantren tetap menjadi pusat pembentukan manusia, bukan sekadar pusat pembelajaran agama.
Santri masa depan harus tetap mengenal kitab, tetapi juga memahami teknologi. Tetap menguasai fikih, tetapi mampu membaca persoalan lingkungan. Tetap memiliki akar tradisi, tetapi tidak gagap menghadapi dunia global.
Di titik inilah pesantren transformatif menemukan maknanya.
Transformasi bukan berarti membuang masa lalu. Ia adalah kemampuan membawa nilai lama menyeberangi zaman yang baru.
Muktamar ke-35 akhirnya akan dikenang bukan hanya karena siapa yang terpilih menjadi Ketua Umum PBNU. Ia akan lebih penting jika mampu menjawab pertanyaan yang lebih besar: ketika NU memasuki abad kedua, manusia seperti apa yang ingin dilahirkan pesantren?
Sebab organisasi bisa berganti pengurus setiap beberapa tahun. Tetapi generasi yang dibentuk pesantren akan membawa keputusan Muktamar itu jauh lebih lama—mungkin puluhan tahun setelah nama-nama para peserta muktamar tak lagi disebut.



























