“Jangan sampai kita hanya sibuk dengan siapa yang menjadi ketua, tetapi lupa memikirkan NU setelah Muktamar mau dibawa ke mana,” ujarnya.
HarianTanahAir | Jombang ~ Suhu politik menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mulai menghangat. Dukungan terhadap kandidat Ketua Umum (Ketum) PBNU periode 2026–2031 bermunculan, disertai dinamika antarpendukung yang mulai mengarah pada aksi saling serang.
Di tengah menguatnya kontestasi tersebut, Sekretaris Wilayah (Sekwil) DPW PKB DKI Jakarta, H. Mohammad Fauzi, mengingatkan agar Muktamar NU tidak terjebak hanya pada persoalan perebutan kursi Ketua Umum.
Menurut Fauzi, pertarungan mengenai siapa yang akan memimpin PBNU memang merupakan bagian dari dinamika organisasi. Namun, yang jauh lebih penting adalah apa yang akan dilakukan NU setelah Muktamar selesai.
“Kontestasi calon Ketua Umum Tanfidziyah PBNU periode 2026–2031 memang sudah mulai memanas. Bahkan ada kecenderungan antar-tim pendukung mulai saling serang secara terbuka. Ini sesuatu yang sebenarnya harus dihindari,” kata Fauzi kepada HarianTanahAir.Com melalui sambungan telepon, Senin (24/8/2026).
Jangan Sampai Muktamar Hanya Jadi Ajang Berebut Kekuasaan
Fauzi menilai, dinamika pencalonan Ketua Umum PBNU semestinya diimbangi dengan pembahasan serius mengenai visi, misi dan program NU lima tahun ke depan.
Ia mempertanyakan mengapa pembicaraan mengenai agenda besar NU setelah Muktamar justru belum terdengar sekuat hiruk-pikuk dukungan terhadap kandidat.
“Banyak tokoh NU sekarang terlalu sibuk mencari dukungan suara untuk kandidat masing-masing. Tetapi yang belum banyak terdengar adalah visi, misi dan programnya setelah terpilih,” ujarnya.
Menurut dia, pragmatisme dalam sebuah kontestasi organisasi mungkin sulit dihindari. Namun, jangan sampai pragmatisme tersebut justru mengalahkan substansi Muktamar.
“Pragmatisme dalam pemilihan sepertinya tidak bisa dihindari. Tetapi setelah terpilih, lalu apa yang akan dikerjakan? Ini yang belum terlihat,” tegas Fauzi.
Tantangan NU Bukan Sekadar Soal Politik
Fauzi mengingatkan bahwa tantangan NU ke depan jauh lebih kompleks dibanding sekadar persoalan politik praktis.
NU, kata dia, harus mampu membaca perubahan sosial, perkembangan teknologi, perubahan karakter generasi muda hingga tantangan global yang semakin cepat.
Menurutnya, Muktamar seharusnya menjadi momentum untuk menjawab pertanyaan besar: NU akan dibawa ke mana dalam lima tahun ke depan?
“Bagaimana NU beradaptasi dengan perubahan global? Bagaimana pesantren harus berbenah? Bagaimana kita menjaga tradisi dan amaliah Aswaja An-Nahdliyah agar tetap hidup di tengah perubahan zaman?” katanya.
Fauzi menilai pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih strategis untuk dibahas dalam Muktamar dibandingkan sekadar siapa yang mendapatkan dukungan terbanyak.
Tradisi NU Jangan Sampai Ditinggalkan Generasi Muda
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Fauzi adalah semakin berjaraknya sebagian generasi muda dari tradisi dan amaliah Nahdliyin.
Ia mencontohkan sejumlah tradisi seperti pembacaan Maulid, Berjanji serta kajian kitab yang menurutnya mulai kurang diminati oleh sebagian generasi muda, terutama Gen Z dan Gen Alfa.
“Jangan sampai tradisi, kultur dan amaliah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah menjadi seperti barang usang karena mulai ditinggalkan,” ujarnya.
Padahal, menurut Fauzi, tradisi tersebut merupakan salah satu identitas penting NU yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, tantangannya bukan sekadar mempertahankan tradisi secara tekstual, tetapi bagaimana mengemas dan mengaktualisasikannya agar tetap relevan bagi generasi muda.
“Amaliah dan tradisi NU seperti Maulid, Berjanji dan mengaji kitab sudah mulai ditinggalkan. Setidaknya, tidak lagi banyak dilirik oleh generasi Gen Z dan Gen Alfa. Ini yang harus menjadi perhatian,” katanya.
Muktamar Harus Melahirkan Roadmap NU
Fauzi berharap para muktamirin tidak hanya datang untuk menentukan siapa Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.
Lebih dari itu, Muktamar NU ke-35 harus menghasilkan peta jalan organisasi yang jelas dan menjawab tantangan zaman.
Menurutnya, NU perlu merumuskan strategi penguatan pesantren, kaderisasi generasi muda, transformasi digital, pengembangan ekonomi umat, pendidikan, penguatan tradisi Aswaja hingga respons terhadap perubahan global.
“Jangan sampai kita hanya sibuk dengan siapa yang menjadi ketua, tetapi lupa memikirkan NU setelah Muktamar mau dibawa ke mana,” ujarnya.
Fauzi menegaskan, semakin besar tantangan yang dihadapi NU, semakin penting pula Muktamar menghasilkan gagasan dan program yang konkret.
“Agenda NU ke depan jauh lebih penting daripada pragmatisme politik yang sempit. Jangan sampai NU justru tertinggal dan ditinggalkan zaman,” pungkasnya.
Muktamar NU ke-35
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.
Momentum tersebut diharapkan tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga ruang konsolidasi untuk menentukan arah perjalanan NU menghadapi tantangan lima tahun mendatang.
Meta Description:
Muktamar NU ke-35 mulai memanas. Mohammad Fauzi mengingatkan NU jangan hanya sibuk soal perebutan Ketum, tetapi harus memikirkan agenda organisasi pasca-Muktamar. (AKH)



























