Bank sentral harus menjaga keseimbangan yang rumit: menahan inflasi tanpa mematikan pertumbuhan, menjaga stabilitas rupiah tanpa mengorbankan momentum ekonomi, serta memastikan sistem keuangan tetap sehat ketika ketidakpastian global meningkat.
HarianTanahAir | JAKARTA — Bank Indonesia memasuki babak baru. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, perempuan berada di kursi tertinggi bank sentral Indonesia. Destry Damayanti menjadi sosok yang mencatat sejarah itu.
Penunjukan Destry bukan sekadar soal representasi perempuan di lembaga ekonomi paling strategis. Kursi Gubernur Bank Indonesia adalah salah satu jabatan dengan pengaruh terbesar terhadap kehidupan ekonomi masyarakat: suku bunga, nilai tukar rupiah, inflasi, stabilitas sistem keuangan, hingga arah kebijakan moneter berada dalam lingkar kewenangannya.
Dengan demikian, sejarah yang ditorehkan Destry datang bersama pekerjaan yang tidak ringan.
Destry bukan wajah baru di lingkungan bank sentral. Ia telah menjabat Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia sejak 2019 dan kembali ditetapkan untuk periode 2024-2029. Sebelum masuk ke jajaran pimpinan BI, ia memiliki perjalanan panjang sebagai ekonom dan pengambil kebijakan.
Dari Kampus ke Pusat Kebijakan Ekonomi
Destry lahir di Jakarta pada 1963. Ia menyelesaikan pendidikan ekonomi di Universitas Indonesia sebelum melanjutkan studi Master of Science bidang Regional Science di Cornell University, Amerika Serikat, pada 1992.
Karier profesionalnya dimulai dari dunia akademik. Pada 1987-1990, Destry menjadi peneliti dan pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
Ia kemudian masuk ke pemerintahan. Pada 1992-1997, Destry bekerja di Kementerian Keuangan.
Setelah itu, ia menyeberang ke sektor swasta. Destry pernah menjadi ekonom di Citibank pada 1997-2000, sebelum dipercaya sebagai Senior Economic Advisor Duta Besar Inggris untuk Indonesia pada 2000-2003.
Kariernya berlanjut sebagai ekonom di sektor pasar modal dan perbankan. Ia menjadi Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas dan Bank Mandiri pada 2005-2015 sekaligus Direktur Eksekutif Mandiri Institute.
Jalur tersebut menunjukkan satu pola: Destry tumbuh bukan dari satu ruang ekonomi saja. Ia pernah berada di kampus, pemerintahan, perbankan, pasar modal, hingga lembaga penjaminan dan bank sentral.
Pernah Mengurus Seleksi Pimpinan KPK
Sebelum masuk BI, Destry juga pernah mendapat kepercayaan untuk menangani agenda yang jauh dari kebijakan moneter.
Pada 2015, ia ditunjuk sebagai Ketua Tim Panitia Seleksi Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi periode 2015-2019.
Pada tahun yang sama, ia dipercaya menjadi anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan untuk periode 2015-2019. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Destry menuju bank sentral.
Pada 2019, ia resmi menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia setelah ditetapkan melalui Keputusan Presiden. Lima tahun kemudian, masa jabatannya diperpanjang untuk periode 2024-2029. Kini, rekam jejak panjang itu memasuki tahap paling penting.
Bukan Sekadar Perempuan Pertama
Label “perempuan pertama” memang menarik secara sejarah. Namun ekonomi tidak mengenal simbol ketika rupiah tertekan, inflasi meningkat, atau pasar keuangan bergejolak. Di situlah tantangan Destry sebenarnya.
Bank sentral harus menjaga keseimbangan yang rumit: menahan inflasi tanpa mematikan pertumbuhan, menjaga stabilitas rupiah tanpa mengorbankan momentum ekonomi, serta memastikan sistem keuangan tetap sehat ketika ketidakpastian global meningkat.
BI sendiri dalam keputusan Rapat Dewan Gubernur pada 18-19 Agustus 2026 mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa ruang kebijakan moneter selalu berada di antara kebutuhan menjaga stabilitas dan mendorong perekonomian.
Maka, sejarah yang dibawa Destry ke kursi gubernur tidak boleh berhenti sebagai statistik gender.
Yang akan diuji adalah kualitas kebijakannya.
Ujian Sesungguhnya Ada di Rupiah dan Dompet Warga
Bagi masyarakat, pergantian gubernur bank sentral mungkin terasa abstrak.
Tetapi keputusan BI sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Suku bunga menentukan mahal atau murahnya kredit. Nilai tukar memengaruhi harga barang impor. Inflasi menentukan seberapa jauh pendapatan rumah tangga dapat membeli kebutuhan. Stabilitas sistem keuangan menentukan seberapa aman tabungan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Karena itu, keberhasilan Destry kelak tidak hanya akan diukur dari seberapa baik ia mempertahankan reputasi Bank Indonesia di mata pasar.
Ukuran yang lebih sederhana justru berada di luar gedung BI: apakah masyarakat dapat merasakan ekonomi yang lebih stabil, dunia usaha memperoleh kepastian, dan daya beli tidak terus tergerus?
Destry telah menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke kursi tersebut.
Kini sejarah mencatat namanya sebagai perempuan pertama di puncak Bank Indonesia.
Tetapi sejarah tidak akan cukup untuk menyelamatkan rupiah.
Yang akan menentukan adalah keputusan-keputusan yang dibuat setelah lampu ruang rapat menyala, angka inflasi masuk ke meja, pasar bergerak, dan ekonomi rakyat menunggu arah.
Di situlah Destry Damayanti benar-benar akan diuji.



























