HarianTanahAir | Jakarta — Jombang kembali dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU). Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menetapkan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sebagai lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026. Keputusan tersebut menjadikan Jombang kembali menggelar forum permusyawaratan tertinggi NU setelah sebelumnya menjadi tuan rumah Muktamar ke-33 pada 2015.
Penunjukan Jombang memperpanjang daftar kota yang pernah menjadi saksi perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu sejak berdiri pada 1926. Dalam kurun satu abad, Muktamar NU telah berpindah dari satu kota ke kota lain, mencerminkan perkembangan organisasi sekaligus dinamika kehidupan sosial-keagamaan di Indonesia.
Sejumlah kota yang pernah menjadi penyelenggara antara lain Surabaya sebagai lokasi muktamar pertama pada 1926, kemudian disusul Banjarmasin, Semarang, Yogyakarta, Cirebon, Menes, Malang, Solo, Jakarta, Medan, Makassar, hingga kembali ke sejumlah kota yang memiliki sejarah kuat dengan perkembangan NU seperti Jombang.
Jombang sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Kabupaten ini dikenal sebagai salah satu pusat pesantren terbesar di Indonesia dan menjadi tempat berdirinya Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas yang didirikan oleh KH Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri NU. Pengalaman menjadi tuan rumah Muktamar pada 2015 dinilai menjadi modal penting dalam penyelenggaraan forum tahun ini.
Selain menjadi ajang pemilihan kepemimpinan organisasi, Muktamar NU juga menjadi forum strategis untuk merumuskan arah kebijakan keagamaan, pendidikan, sosial, dan kebangsaan. Selama satu abad penyelenggaraannya, setiap kota tuan rumah menyimpan dokumentasi yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah NU dan perkembangan Islam di Indonesia.
Dokumentasi mengenai kota-kota penyelenggara Muktamar NU periode 1926–2026 memperlihatkan bagaimana forum lima tahunan tersebut terus berpindah dari satu daerah ke daerah lain sebagai simbol kedekatan organisasi dengan basis warga nahdliyin di berbagai wilayah Nusantara.
*Achi Hartoyo



























