JOMBANG — Nama KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin melesat paling tinggi dalam tabulasi bakal calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031. Ia mengantongi 472 suara, unggul 210 suara dari pesaing terdekatnya, KH Zulfa Mustofa.
Namun angka itu belum cukup untuk mengantarkan Gus Kikin ke kursi Ketua Umum PBNU.
Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Senin dinihari, 31 Agustus 2026, memang menghasilkan lima nama dengan suara terbanyak. Tetapi kelima nama tersebut hanya menjadi bahan yang dibawa ke Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) untuk dimusyawarahkan.
Di sinilah pertarungan bergeser.
Lima nama teratas hasil tabulasi adalah KH Abdul Hakim Mahfudz dengan 472 suara, KH Zulfa Mustofa 262 suara, KH Abdussalam Sochib 261 suara, KH Yahya Cholil Staquf 258 suara, dan KH Nusron Wahid 207 suara.
Selisih suara itu memperlihatkan satu hal: Gus Kikin memiliki dukungan paling besar di antara nama-nama yang masuk tabulasi.
Tetapi sistem pemilihan yang akhirnya disepakati Muktamar membuat tabulasi bukanlah garis finis.
Sebelumnya, forum Muktamar ke-35 NU menyepakati Ketua Umum PBNU dipilih melalui mekanisme AHWA. Artinya, suara dukungan dari PCNU, PWNU, dan PCINU menjadi pintu masuk, bukan keputusan akhir.
Nama-nama yang telah diusulkan kemudian diperiksa kelayakannya berdasarkan aturan organisasi. Setelah memenuhi syarat, lima nama tersebut diserahkan kepada AHWA untuk dimusyawarahkan.
Dengan mekanisme ini, 472 suara Gus Kikin menjadi modal politik yang kuat. Namun modal itu harus diterjemahkan menjadi penerimaan di antara para kiai yang memiliki mandat menentukan arah akhir kepemimpinan PBNU.
Ada paradoks di sini.
Gus Kikin berada di puncak tabulasi, tetapi tidak otomatis menjadi pemenang. Sebaliknya, kandidat dengan suara lebih rendah masih memiliki peluang yang sama untuk dipertimbangkan selama memenuhi persyaratan dan mendapat ruang dalam musyawarah AHWA.
Karena itu, tabulasi Muktamar kali ini bukan sekadar daftar peringkat. Ia juga menjadi peta kasar kekuatan dukungan di tubuh NU.
Zulfa Mustofa hanya terpaut satu suara dari Abdussalam Sochib. Yahya Cholil Staquf berada di posisi keempat dengan 258 suara. Sementara Nusron Wahid menempati posisi kelima dengan 207 suara.
Nama-nama lain sebenarnya masih muncul dalam daftar usulan, di antaranya KH Yusuf Chudori, H Saifullah Yusuf, KH Abdul Ghaffar Rozin, H Gudfan Arif, dan H Kamaruddin Amin. Namun mereka tidak masuk lima besar yang dibawa ke proses berikutnya.
Menariknya, sejumlah nama yang sebelumnya ramai disebut dalam bursa akhirnya tidak berada dalam lima besar. Ini menunjukkan bahwa dinamika Muktamar tidak sepenuhnya bisa dibaca dari popularitas tokoh sebelum forum berlangsung.
Di arena Muktamar, suara organisasi menjadi ukuran pertama.
Setelah itu, keputusan berada di ruang musyawarah.
Situasi tersebut membuat proses pemilihan Ketua Umum PBNU menjadi lebih dari sekadar kompetisi jumlah suara. Ada pertimbangan kepatutan, rekam jejak, kapasitas kepemimpinan, serta kemampuan menyatukan organisasi yang kemungkinan ikut bermain dalam musyawarah AHWA.
Terlebih, Muktamar ke-35 NU berlangsung ketika organisasi tengah menghadapi dinamika internal yang cukup keras. Perdebatan mengenai mekanisme pemilihan bahkan harus diselesaikan melalui voting sebelum forum menyepakati AHWA sebagai jalur pemilihan Ketua Umum.
Karena itu, siapa pun yang akhirnya dipilih AHWA tidak hanya membutuhkan kemampuan memimpin PBNU. Ia juga harus mampu mengakhiri ketegangan yang muncul selama proses menuju Muktamar.
Pada titik ini, keunggulan Gus Kikin menjadi menarik.
472 suara adalah angka terbesar. Jaraknya cukup jauh dari kandidat lain. Tetapi sistem AHWA membuat angka tersebut harus diuji sekali lagi di meja para kiai.
Dan ketika keputusan berada di tangan sembilan anggota AHWA, politik angka berubah menjadi politik musyawarah.
Gus Kikin sudah memenangkan tabulasi. Pertanyaannya kemudian bukan lagi siapa yang paling banyak mendapat suara, melainkan siapa yang paling mampu meyakinkan para kiai bahwa dirinya adalah pilihan terbaik untuk memimpin NU lima tahun ke depan.



























