• About
  • Advertise
  • Careers
  • Hubungi Kami
  • Newsletter
Friday, September 18, 2026
  • Login
Harian Tanah Air
Advertisement
  • Utama
  • Nusantara
    • Nusantara
      • Politik
        Desil Bansos Tak Bisa Dipukul Rata, DPRD DKI Soroti Mahalnya Hidup di Jakarta

        Desil Bansos Tak Bisa Dipukul Rata, DPRD DKI Soroti Mahalnya Hidup di Jakarta

        DPRD DKI Setujui Perubahan APBD 2026 Rp79,56 Triliun, Tinggal Tunggu Paripurna

        DPRD DKI Setujui Perubahan APBD 2026 Rp79,56 Triliun, Tinggal Tunggu Paripurna

        Hasbiallah Ilyas Buka Musancab PKB Jakarta Pusat, Konsolidasi Mesin Partai Menuju Pemilu

        Hasbiallah Ilyas Buka Musancab PKB Jakarta Pusat, Konsolidasi Mesin Partai Menuju Pemilu

        Ber-NU Tanpa Ber-PBNU: Ironi NU Memasuki Abad Kedua, Kritik Gus Lilur Menggema Pasca Muktamar ke-35

        Ber-NU Tanpa Ber-PBNU: Ironi NU Memasuki Abad Kedua, Kritik Gus Lilur Menggema Pasca Muktamar ke-35

        Survei PPI: Elektabilitas PKB Sudah Masuk Empat Besar

        PKB Masuk Tiga Besar Partai dengan Pemilih Paling Loyal

        PKB Jakarta Selatan Susun Mesin Partai Lima Tahun ke Depan, DPAC Resmi Ditetapkan

        PKB Jakarta Selatan Susun Mesin Partai Lima Tahun ke Depan, DPAC Resmi Ditetapkan

        21 Ribu Aspirasi Masuk DPRD DKI, Jangan Sampai Reses Berakhir di Atas Kertas

        21 Ribu Aspirasi Masuk DPRD DKI, Jangan Sampai Reses Berakhir di Atas Kertas

        Desil Salah Baca Warga Jakarta, Bantuan Sosial Bisa Terputus

        Desil Salah Baca Warga Jakarta, Bantuan Sosial Bisa Terputus

        Gus Lilur: PBNU Bukan PWNU Jatim, Gus Kikin Diminta Pilih Pengurus Berdasarkan Kapasitas

        Gus Lilur: PBNU Bukan PWNU Jatim, Gus Kikin Diminta Pilih Pengurus Berdasarkan Kapasitas

      • Hukum
      • Pendidikan
      • Pokok dan Tokoh
      • Citizen Journalism
  • Megapolitan
  • Kilas Global
  • Lifestyle
    Kalau HP Mati Saat Bencana, Keluarga Harus Bertemu di Mana?

    Kalau HP Mati Saat Bencana, Keluarga Harus Bertemu di Mana?

    Jakarta Tiba-tiba Darurat, Apa yang Harus Ada di Emergency Bag?

    Jakarta Tiba-tiba Darurat, Apa yang Harus Ada di Emergency Bag?

    Desil Warga Mendadak Naik, Data Pemerintah yang Bermasalah atau Rakyat yang Mendadak Sejahtera?

    Desil Warga Mendadak Naik, Data Pemerintah yang Bermasalah atau Rakyat yang Mendadak Sejahtera?

    Anak Muda Melek Digital, Tapi Mengapa Masih Mudah Terjerat Pinjol dan Judi Online?

    Anak Muda Melek Digital, Tapi Mengapa Masih Mudah Terjerat Pinjol dan Judi Online?

    Sampah Tak Sekadar Dibuang, Fraksi PKB Dorong Warga Nikmati Nilai Ekonominya

    Sampah Tak Sekadar Dibuang, Fraksi PKB Dorong Warga Nikmati Nilai Ekonominya

    Kalau Tak Punya Uang, Anak Muda Jakarta Mau ke Mana?

    Kalau Tak Punya Uang, Anak Muda Jakarta Mau ke Mana?

    Gen Z Ditolak Perusahaan Bukan karena Tak Pintar, tapi Karena Satu Hal Ini

    Gen Z Ditolak Perusahaan Bukan karena Tak Pintar, tapi Karena Satu Hal Ini

    Jakarta Boleh Jadi Kota Global, Tapi Jangan Sampai Warganya Cuma Jadi Penonton

    Jakarta Boleh Jadi Kota Global, Tapi Jangan Sampai Warganya Cuma Jadi Penonton

    Merdeka Itu ketika Orang Biasa Bisa Punya Masa Depan

    Merdeka Itu ketika Orang Biasa Bisa Punya Masa Depan

    Desil dan Ilusi Kelas Menengah Indonesia

    Desil dan Ilusi Kelas Menengah Indonesia

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
  • Olahraga
  • SainTek
  • Ruang Budaya
  • Syaria News
    BRIN

    Spesies baru Ikan Gobi Udang di Banyuwangi Ditemukan

    TB Hasanuddin Soroti Status Siaga 1 TNI, Dinilai Tak Relevan dengan Pola Perang Modern di Timur Tengah

    TB Hasanuddin Soroti Status Siaga 1 TNI, Dinilai Tak Relevan dengan Pola Perang Modern di Timur Tengah

    demo buruh

    UMP Jakarta 2026 Lebih Rendah dari Bekasi dan Karawang, Said Iqbal: Tak Mencerminkan Kebutuhan Hidup Layak

    Hengky Wijaya, Anggota Komisi C DPRD DKI dari FPKB

    PKB Tegaskan Narkoba Musuh Kemanusiaan dan Ancaman Masa Depan Jakarta

    Pemerintah Kaji Kenaikan Gaji ASN 2026, Menpan RB Temui Menkeu Bahas Prioritas Anggaran

    Pemerintah Kaji Kenaikan Gaji ASN 2026, Menpan RB Temui Menkeu Bahas Prioritas Anggaran

    Trending Tags

    • Sillicon Valley
    • Climate Change
    • Election Results
    • Flat Earth
    • Golden Globes
    • MotoGP 2017
    • Mr. Robot
  • Kilas Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
  • Utama
  • Nusantara
    • Nusantara
      • Politik
        Desil Bansos Tak Bisa Dipukul Rata, DPRD DKI Soroti Mahalnya Hidup di Jakarta

        Desil Bansos Tak Bisa Dipukul Rata, DPRD DKI Soroti Mahalnya Hidup di Jakarta

        DPRD DKI Setujui Perubahan APBD 2026 Rp79,56 Triliun, Tinggal Tunggu Paripurna

        DPRD DKI Setujui Perubahan APBD 2026 Rp79,56 Triliun, Tinggal Tunggu Paripurna

        Hasbiallah Ilyas Buka Musancab PKB Jakarta Pusat, Konsolidasi Mesin Partai Menuju Pemilu

        Hasbiallah Ilyas Buka Musancab PKB Jakarta Pusat, Konsolidasi Mesin Partai Menuju Pemilu

        Ber-NU Tanpa Ber-PBNU: Ironi NU Memasuki Abad Kedua, Kritik Gus Lilur Menggema Pasca Muktamar ke-35

        Ber-NU Tanpa Ber-PBNU: Ironi NU Memasuki Abad Kedua, Kritik Gus Lilur Menggema Pasca Muktamar ke-35

        Survei PPI: Elektabilitas PKB Sudah Masuk Empat Besar

        PKB Masuk Tiga Besar Partai dengan Pemilih Paling Loyal

        PKB Jakarta Selatan Susun Mesin Partai Lima Tahun ke Depan, DPAC Resmi Ditetapkan

        PKB Jakarta Selatan Susun Mesin Partai Lima Tahun ke Depan, DPAC Resmi Ditetapkan

        21 Ribu Aspirasi Masuk DPRD DKI, Jangan Sampai Reses Berakhir di Atas Kertas

        21 Ribu Aspirasi Masuk DPRD DKI, Jangan Sampai Reses Berakhir di Atas Kertas

        Desil Salah Baca Warga Jakarta, Bantuan Sosial Bisa Terputus

        Desil Salah Baca Warga Jakarta, Bantuan Sosial Bisa Terputus

        Gus Lilur: PBNU Bukan PWNU Jatim, Gus Kikin Diminta Pilih Pengurus Berdasarkan Kapasitas

        Gus Lilur: PBNU Bukan PWNU Jatim, Gus Kikin Diminta Pilih Pengurus Berdasarkan Kapasitas

      • Hukum
      • Pendidikan
      • Pokok dan Tokoh
      • Citizen Journalism
  • Megapolitan
  • Kilas Global
  • Lifestyle
    Kalau HP Mati Saat Bencana, Keluarga Harus Bertemu di Mana?

    Kalau HP Mati Saat Bencana, Keluarga Harus Bertemu di Mana?

    Jakarta Tiba-tiba Darurat, Apa yang Harus Ada di Emergency Bag?

    Jakarta Tiba-tiba Darurat, Apa yang Harus Ada di Emergency Bag?

    Desil Warga Mendadak Naik, Data Pemerintah yang Bermasalah atau Rakyat yang Mendadak Sejahtera?

    Desil Warga Mendadak Naik, Data Pemerintah yang Bermasalah atau Rakyat yang Mendadak Sejahtera?

    Anak Muda Melek Digital, Tapi Mengapa Masih Mudah Terjerat Pinjol dan Judi Online?

    Anak Muda Melek Digital, Tapi Mengapa Masih Mudah Terjerat Pinjol dan Judi Online?

    Sampah Tak Sekadar Dibuang, Fraksi PKB Dorong Warga Nikmati Nilai Ekonominya

    Sampah Tak Sekadar Dibuang, Fraksi PKB Dorong Warga Nikmati Nilai Ekonominya

    Kalau Tak Punya Uang, Anak Muda Jakarta Mau ke Mana?

    Kalau Tak Punya Uang, Anak Muda Jakarta Mau ke Mana?

    Gen Z Ditolak Perusahaan Bukan karena Tak Pintar, tapi Karena Satu Hal Ini

    Gen Z Ditolak Perusahaan Bukan karena Tak Pintar, tapi Karena Satu Hal Ini

    Jakarta Boleh Jadi Kota Global, Tapi Jangan Sampai Warganya Cuma Jadi Penonton

    Jakarta Boleh Jadi Kota Global, Tapi Jangan Sampai Warganya Cuma Jadi Penonton

    Merdeka Itu ketika Orang Biasa Bisa Punya Masa Depan

    Merdeka Itu ketika Orang Biasa Bisa Punya Masa Depan

    Desil dan Ilusi Kelas Menengah Indonesia

    Desil dan Ilusi Kelas Menengah Indonesia

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
  • Olahraga
  • SainTek
  • Ruang Budaya
  • Syaria News
    BRIN

    Spesies baru Ikan Gobi Udang di Banyuwangi Ditemukan

    TB Hasanuddin Soroti Status Siaga 1 TNI, Dinilai Tak Relevan dengan Pola Perang Modern di Timur Tengah

    TB Hasanuddin Soroti Status Siaga 1 TNI, Dinilai Tak Relevan dengan Pola Perang Modern di Timur Tengah

    demo buruh

    UMP Jakarta 2026 Lebih Rendah dari Bekasi dan Karawang, Said Iqbal: Tak Mencerminkan Kebutuhan Hidup Layak

    Hengky Wijaya, Anggota Komisi C DPRD DKI dari FPKB

    PKB Tegaskan Narkoba Musuh Kemanusiaan dan Ancaman Masa Depan Jakarta

    Pemerintah Kaji Kenaikan Gaji ASN 2026, Menpan RB Temui Menkeu Bahas Prioritas Anggaran

    Pemerintah Kaji Kenaikan Gaji ASN 2026, Menpan RB Temui Menkeu Bahas Prioritas Anggaran

    Trending Tags

    • Sillicon Valley
    • Climate Change
    • Election Results
    • Flat Earth
    • Golden Globes
    • MotoGP 2017
    • Mr. Robot
  • Kilas Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
Harian Tanah Air
No Result
View All Result
Home Opini

Gus Kikin Menang, Apa yang Berubah di NU Lima Tahun ke Depan?

by Mas Achi
September 3, 2026
in Opini, Utama
0
Gus Kikin Menang, Apa yang Berubah di NU Lima Tahun ke Depan?

Photo NU-online

0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

HarianTanahAir | Jakarta — Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama tidak hanya memilih ketua umum baru. NU juga mengubah cara memilih pemimpin, mempertegas jarak dengan politik praktis, dan menetapkan peta jalan hingga 2050. Gus Kikin kini memikul pekerjaan yang jauh lebih besar daripada sekadar meneruskan kepemimpinan Gus Yahya.

JOMBANG — Tepuk tangan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, belum sepenuhnya reda ketika KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2026–2031, Senin, 31 Agustus 2026.

Keputusan itu sekaligus menutup salah satu kontestasi paling diperhatikan dalam Muktamar Ke-35 NU. Sebelumnya, lima nama masuk dalam daftar kandidat: Gus Kikin, KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Shochib atau Gus Salam, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, serta KH Abdul Ghofar Rozin atau Gus Rozin. Dalam tabulasi usulan peserta, Gus Kikin berada di posisi teratas dengan 472 suara.

Namun kemenangan Gus Kikin bukan satu-satunya cerita penting dari muktamar yang berlangsung 27–31 Agustus 2026 itu.

Ada perubahan yang lebih mendasar: NU sedang berusaha mengatur ulang hubungan antara organisasi, kekuasaan politik, dan agenda lima tahunannya.

Dari Gus Yahya ke Gus Kikin

Gus Kikin menggantikan Gus Yahya yang memimpin PBNU sejak Muktamar Ke-34 di Lampung pada Desember 2021.

Lima tahun lalu, Gus Yahya datang dengan agenda yang cukup jelas: membangun kemandirian warga NU dan memperbesar peran NU dalam perdamaian dunia. Ia juga menekankan pentingnya sinergi dengan pemerintah untuk mempercepat program organisasi.

Kini tongkat estafet berpindah kepada Gus Kikin.

Perpindahan itu menarik karena latar belakang Gus Kikin sangat lekat dengan dunia pesantren. Ia merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, sekaligus pernah memimpin PWNU Jawa Timur. Ia juga merupakan cicit KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU.

Tetapi ukuran keberhasilan Gus Kikin tidak akan berhenti pada silsilah atau pengalaman pesantren.

Justru setelah terpilih, pertanyaan yang lebih sulit muncul: apa yang akan dilakukan NU dengan mandat lima tahun tersebut?

Sebab Muktamar Ke-35 telah meninggalkan sejumlah pekerjaan rumah yang tidak kecil.

NU Mengunci Arah hingga 2050

Salah satu keputusan strategis muktamar adalah pengesahan Peta Jalan NU Digdaya 2050.

Ini bukan sekadar program kerja lima tahunan. Peta jalan tersebut dirancang sebagai strategi jangka panjang untuk membawa NU menjadi organisasi yang kuat, tangguh, dipercaya, dan bermartabat ketika memasuki perjalanan abad keduanya.

Menurut pimpinan Komisi Program, Alissa Wahid, Muktamar Ke-35 mencetak sejarah karena untuk pertama kalinya forum perumusan program muktamar menghasilkan peta jalan jangka panjang yang jelas.

Dengan begitu, kepemimpinan Gus Kikin tidak bekerja dari halaman kosong.

Ada horizon 2050 yang harus diterjemahkan menjadi kerja konkret lima tahun pertama.

Di sinilah tantangannya.

Peta jalan yang bagus bisa berubah menjadi dokumen administratif jika tidak diterjemahkan sampai tingkat PWNU, PCNU, pesantren, lembaga pendidikan, hingga warga NU di akar rumput.

Cara Memilih Ketum juga Berubah

Muktamar ke-35 juga mengubah lanskap pemilihan Ketua Umum PBNU.

Peserta muktamar menyepakati mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) untuk menentukan Ketua Umum. Setelah lima kandidat disetujui Rais Aam terpilih, sembilan anggota AHWA kemudian bermusyawarah dan secara mufakat menetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU 2026–2031.

Mekanisme ini membuat kontestasi kepemimpinan NU tidak berakhir seperti pemilihan umum dengan adu suara langsung antarkandidat.

Tetapi ada konsekuensi lain: legitimasi pemimpin baru akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga persatuan setelah kontestasi.

Gus Kikin sendiri sebelum terpilih sudah mengingatkan bahwa kebersamaan harus menjadi hal terpenting dalam muktamar.

Kini pesan itu diuji.

Sebab setelah pemilihan selesai, yang harus disatukan bukan lagi suara dalam ruang sidang, melainkan jaringan NU yang membentang dari pusat hingga daerah.

Politik Diberi Jarak

Perubahan lain tak kalah penting adalah keputusan mengenai masa jeda dari jabatan politik.

Muktamar mengesahkan kembali ketentuan masa iddah politik selama satu tahun bagi calon Rais Aam dan Ketua Umum PBNU yang sebelumnya aktif dalam jabatan politik.

Artinya, seseorang yang masih aktif dalam jabatan politik tidak bisa serta-merta masuk dalam kontestasi kepemimpinan tertinggi NU tanpa melewati masa jeda tersebut.

Keputusan itu menjadi sinyal penting.

NU tampaknya ingin mempertegas batas antara organisasi kemasyarakatan dan kepentingan politik praktis.

Ini relevan karena NU selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar bisa dilepaskan dari politik Indonesia. Banyak tokohnya berkiprah di pemerintahan, parlemen, maupun partai politik.

Namun organisasi sebesar NU membutuhkan ruang untuk menjaga independensi sikapnya.

Karena itu, aturan iddah politik bukan sekadar soal siapa boleh menjadi ketua umum. Ia merupakan upaya membangun pagar kelembagaan.

Dari Pajak sampai Bitcoin

Muktamar juga menunjukkan bahwa persoalan NU semakin jauh dari sekadar urusan internal organisasi.

Dalam Bahtsul Masail Maudhu’iyah, misalnya, NU membahas pajak berkeadilan, i’adatun nazhar, dan nilai-nilai keulamaan.

Di bidang teknologi dan ekonomi digital, Muktamar Ke-35 juga memberikan pandangan mengenai Bitcoin.

Bitcoin dinilai sebagai harta dan alat tukar dalam perspektif fikih, tetapi bukan sebagai mata uang yang sah digunakan di Indonesia.

Ada pula pembahasan mengenai data DNA. NU menegaskan bahwa pemanfaatan dan komersialisasi data DNA tidak boleh dilakukan sembarangan dan harus memperhatikan izin pemilik.

Ini menunjukkan perubahan lain dalam wajah NU.

Persoalan keumatan yang dihadapi organisasi tidak lagi hanya soal fikih ibadah.

Data pribadi, kecerdasan teknologi, aset digital, pajak, pendidikan, ketenagakerjaan, hingga hak korban kekerasan masuk ke ruang pembahasan.

NU sedang berhadapan dengan masyarakat yang problemnya berubah jauh lebih cepat daripada perubahan struktur organisasi.

Bahkan Dana Pendidikan Ikut Dipersoalkan

Salah satu keputusan yang paling mudah bersinggungan dengan kebijakan pemerintah adalah soal Program Makan Bergizi Gratis.

Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar Ke-35 meminta penggunaan anggaran pendidikan untuk membiayai MBG dihentikan.

Isu ini bukan perkara kecil.

RAPBN 2027 mengalokasikan sekitar Rp240 triliun untuk MBG dari pos yang berkaitan dengan anggaran pendidikan. Angka itu disebut setara sekitar 29 persen dari anggaran pendidikan.

Dengan mengambil posisi tersebut, NU menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah pun bisa menjadi objek kritik dan kajian keagamaan ketika bersentuhan dengan kepentingan pendidikan.

Ini menarik karena pada periode sebelumnya Gus Yahya juga menempatkan hubungan dengan pemerintah sebagai salah satu instrumen untuk mempercepat program NU.

Di era Gus Kikin, hubungan tersebut akan diuji pada satu hal: seberapa jauh NU dapat bekerja sama dengan pemerintah tanpa kehilangan daya kritisnya.

Pekerjaan Rumah Gus Kikin

Karena itu, kemenangan Gus Kikin sebenarnya baru babak pertama.

Ada sedikitnya empat pekerjaan besar yang menunggu.

Pertama, menerjemahkan NU Digdaya 2050 menjadi program yang terasa di tingkat bawah.

Kedua, menyatukan kembali seluruh faksi setelah kontestasi muktamar. Muktamar bukan hanya menghasilkan pemenang, tetapi juga meninggalkan kandidat dan pendukung yang harus tetap mendapat ruang dalam organisasi.

Ketiga, menjaga jarak yang sehat dengan politik praktis tanpa membuat NU kehilangan pengaruhnya dalam menentukan arah kebijakan publik.

Keempat, mengubah keputusan Bahtsul Masail menjadi kekuatan intelektual NU di tengah persoalan baru, dari AI, data DNA, aset kripto, perubahan iklim, ketenagakerjaan, hingga pendidikan.

Tim formatur yang telah dibentuk akan menjadi salah satu kunci awal. Tim ini bertugas menyusun kepengurusan PBNU 2026–2031 dan terdiri dari unsur tiga wilayah serta tuan rumah Muktamar.

Komposisi pengurus akan menjadi sinyal pertama mengenai wajah NU lima tahun mendatang.

Apakah NU akan menjadi organisasi yang lebih ramping dan profesional? Lebih kuat di akar rumput? Lebih dekat dengan pesantren? Atau justru lebih aktif memainkan peran strategis dalam kebijakan publik?

Jawabannya akan terlihat bukan dalam pidato penutupan, melainkan dalam daftar pengurus dan program kerja yang mulai berjalan setelah muktamar.

Gus Kikin dan NU yang Berbeda

Ada ironi kecil dalam kemenangan Gus Kikin.

Ia dipilih melalui mekanisme yang mengedepankan musyawarah sembilan kiai AHWA. Tetapi mandat yang diterimanya sangat modern: membawa organisasi menghadapi ekonomi digital, perubahan sosial, krisis lingkungan, persoalan pendidikan, dan generasi muda yang semakin jauh dari pola organisasi lama.

NU memasuki lima tahun baru dengan dua kebutuhan yang tampaknya berlawanan.

Menjaga tradisi, tetapi tidak boleh gagap menghadapi perubahan.

Gus Kikin membawa modal pesantren, pengalaman organisasi, dan legitimasi sejarah keluarga besar Tebuireng. Namun modal itu hanya akan berarti jika diterjemahkan menjadi kebijakan yang dirasakan warga NU.

Muktamar Ke-35 telah menetapkan siapa yang memegang kemudi.

Kini yang ditunggu bukan lagi siapa pemenangnya.

Melainkan ke mana kapal besar NU akan diarahkan.

 

Mas Achi

Mas Achi

Next Post
KH. Imam Jazuli, Lc., MA

Memasuki Abad Kedua NU: Saatnya Rekonsiliasi, Konsolidasi, dan Menyiapkan Kader Peradaban

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Kriminalitas Jakarta Meningkat, Tekanan Ekonomi dan Narkoba Dinilai Jadi Pemicu

Kriminalitas Jakarta Meningkat, Tekanan Ekonomi dan Narkoba Dinilai Jadi Pemicu

3 months ago
Jelang Muktamar ke-35 NU, Hasbiallah Ilyas: Kembalikan NU ke Akar Rumput, Fokus Ekonomi Umat

Jelang Muktamar ke-35 NU, Hasbiallah Ilyas: Kembalikan NU ke Akar Rumput, Fokus Ekonomi Umat

1 month ago

Popular News

    Connect with us

    Newsletter

    Dapatkan berita terbaru, Informasi terkini dan kabar menarik langsung di email Anda. Berlangganan Newslatter kami agar tidak ketinggalan update penting tiap hari.

    Category

    • Kilas Bisnis
    • Kilas Global
    • Lifestyle
    • Megapolitan
    • Nusantara
    • Olahraga
    • Opini
    • Politik
    • Ruang Budaya
    • SainTek
    • Syaria News
    • Utama

    About Us

    HarianTanahAir.com adalah situs berita dan informasi yang menghadirkan kabar terbaru, aktual, dan relevan untuk pembaca.

    • About
    • Advertise
    • Careers
    • Hubungi Kami
    • Newsletter

    ©HarianTanahAir.Com_2026

    No Result
    View All Result
    • HarianTanahAir.Com
    • Utama
    • Kilas Global
    • Megapolitan
    • Syaria News
    • Olahraga
    • Politik
    • Lifestyle
    • SainTek

    ©HarianTanahAir.Com_2026

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In