JAKARTA — Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mulai menembus papan atas peta elektoral nasional. Survei terbaru Parameter Politik Indonesia (PPI) menempatkan PKB di posisi keempat dengan elektabilitas 9,7 persen.
Angka itu membuat PKB berada di belakang Partai Gerindra, PDI Perjuangan, dan Golkar. Gerindra memimpin dengan elektabilitas 18,3 persen, disusul PDIP 14 persen dan Golkar 13 persen. Setelah PKB dengan 9,7 persen, posisi berikutnya ditempati Demokrat 7,7 persen, PKS 6,9 persen, NasDem 5,7 persen, dan PAN 5,6 persen.
Dengan demikian, PKB bukan sekadar bertahan di atas ambang batas parlemen. Partai yang identik dengan warna hijau itu kini masuk empat besar elektabilitas partai politik dalam survei nasional tersebut.
Temuan ini menjadi menarik karena jarak PKB dengan tiga partai di atasnya masih terbuka untuk dikejar. Selisih PKB dengan Golkar hanya 3,3 poin persentase. Sementara jarak dengan PDIP mencapai 4,3 poin dan dengan Gerindra 8,6 poin.
Di sisi lain, posisi PKB cukup aman dari kelompok partai di bawahnya. Demokrat berada di angka 7,7 persen atau terpaut 2 poin dari PKB.
PKB Tinggalkan Papan Tengah
Posisi keempat tersebut menunjukkan perubahan penting dalam peta persaingan partai. PKB kini tidak lagi sekadar berhadapan dengan partai-partai papan tengah. Persaingannya mulai masuk ke lingkar atas.
Survei PPI dilakukan pada 20 Juli hingga 3 Agustus 2026 melalui wawancara tatap muka terhadap 1.200 responden di 38 provinsi.
Pertanyaan yang diajukan kepada responden adalah partai apa yang akan dipilih jika pemilu legislatif digelar saat survei dilakukan.
Hasilnya menunjukkan Gerindra berada di urutan pertama dengan 18,3 persen. PDIP 14 persen, Golkar 13 persen, dan PKB 9,7 persen.
Angka tersebut juga memperlihatkan bahwa PKB menjadi salah satu dari sedikit partai yang berada cukup nyaman di atas ambang batas parlemen 4 persen. Sebaliknya, PPP hanya memperoleh 3,4 persen dan berpotensi tidak lolos ke parlemen jika parliamentary threshold tetap berada di angka 4 persen.
Tantangan PKB: Mengubah Elektabilitas menjadi Kekuatan
Namun elektabilitas 9,7 persen bukan garis finis. Justru posisi empat besar membuat pekerjaan rumah PKB menjadi lebih besar.
Masuk empat besar berarti PKB mulai dipersepsikan sebagai salah satu kekuatan utama dalam kompetisi elektoral. Tantangannya adalah menjaga angka tersebut sekaligus mempersempit jarak dengan tiga partai di atasnya.
Ada ruang yang cukup besar untuk itu.
Dengan selisih hanya 3,3 poin dari Golkar, perebutan posisi ketiga bukan sesuatu yang mustahil secara elektoral. Apalagi masih terdapat 10,2 persen responden yang belum menentukan pilihan dalam survei tersebut.
Kelompok pemilih yang belum menentukan pilihan akan menjadi medan pertarungan penting. Partai yang mampu mengubah pemilih mengambang menjadi pemilih tetap berpeluang menggeser posisi dalam klasemen.
Karena itu, angka 9,7 persen sebaiknya tidak dibaca sekadar sebagai kabar baik bagi PKB.
Ia adalah sinyal bahwa PKB sudah berada di pintu papan atas politik nasional.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah PKB mampu bertahan di parlemen.
Pertanyaannya: seberapa dekat PKB bisa mengejar tiga partai di atasnya?



























