HARIANTANAHAIR | Jakarta ~ Krisis sampah belum benar-benar berakhir. Di berbagai kota, tempat pembuangan akhir (TPA) semakin mendekati batas kapasitas, sementara volume sampah yang dihasilkan masyarakat terus bertambah setiap hari. Persoalan ini tidak lagi sekadar urusan kebersihan, melainkan telah menjadi tantangan lingkungan, kesehatan, dan tata kelola perkotaan.
Pemerintah bahkan menyebut Indonesia tengah menghadapi kondisi darurat sampah nasional. Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan timbulan sampah nasional mencapai lebih dari 140 ribu ton per hari. Namun, hanya sekitar seperempat yang berhasil dikelola dengan baik, sementara sisanya berpotensi mencemari lingkungan melalui praktik pembuangan yang belum memenuhi standar.
Masalah terbesar berada di hilir. Banyak TPA di Indonesia masih menggunakan sistem open dumping atau pembuangan terbuka. Selain menimbulkan bau dan pencemaran, metode ini juga mempercepat penumpukan sampah hingga mengurangi usia pakai TPA. Pemerintah mencatat sebagian besar TPA di Indonesia masih menghadapi persoalan tersebut dan sedang didorong untuk bertransformasi menuju sistem yang lebih ramah lingkungan.
Bagi Jakarta, ancaman itu bukan sekadar teori. Ketergantungan pada TPST Bantargebang selama puluhan tahun menunjukkan bahwa kapasitas pembuangan sampah memiliki batas. Beberapa insiden longsor gunungan sampah dalam beberapa tahun terakhir menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak bisa terus diselesaikan hanya dengan memperluas area pembuangan.
Pengalaman berbagai daerah menunjukkan bahwa solusi harus dimulai dari sumbernya. Pemilahan sampah rumah tangga, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, penguatan bank sampah, hingga pengolahan sampah organik menjadi kompos menjadi langkah yang semakin mendesak. Pemerintah pusat juga menargetkan percepatan pemilahan sampah sebagai bagian dari reformasi tata kelola sampah nasional.
Di sisi lain, teknologi pengolahan sampah mulai dilirik sebagai pelengkap. Pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi dan bahan bakar alternatif dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada TPA. Meski demikian, sejumlah proyek juga menghadapi tantangan, mulai dari penerimaan masyarakat hingga dampak lingkungan yang harus dikendalikan secara ketat.
Pelajaran penting bagi Jakarta adalah bahwa krisis sampah tidak akan selesai hanya dengan menambah armada pengangkut atau mencari lokasi pembuangan baru. Kota ini membutuhkan perubahan cara pandang. Sampah harus dilihat sebagai tanggung jawab bpeersama, bukan sekadar urusan petugas kebersihan atau pemerintah daerah.
Pada akhirnya, masa depan kota tidak hanya ditentukan oleh gedung yang dibangun atau jalan yang diperlebar. Ia juga ditentukan oleh bagaimana sebuah kota mengelola sampah yang dihasilkannya setiap hari. Sebab ketika gunungan sampah terus tumbuh lebih cepat daripada solusi yang disiapkan, yang dipertaruhkan bukan hanya kebersihan kota, melainkan kualitas hidup seluruh warganya.



























