HARIANTANAHAIR | Jakarta – Bagi banyak orang tua, selembar rapor kerap menjadi tolok ukur utama untuk menilai masa depan anak. Angka-angka di kolom matematika, IPA, atau bahasa sering kali dianggap mewakili seluruh kemampuan seorang anak. Padahal, di balik setiap anak, terdapat cara belajar, potensi, dan kecerdasan yang berbeda-beda.
Pandangan itulah yang mengemuka dalam diskusi parenting yang menghadirkan Konselor Islam sekaligus Wakil Sekretaris DPW PKB DKI Jakarta, Mia Silmiah Sazely, di Jakarta (28/6). Dalam paparannya, Mia mengajak para orang tua untuk melihat kecerdasan anak secara lebih utuh, bukan hanya dari pencapaian akademik.
Menurut Mia, kecerdasan bukanlah sesuatu yang dibentuk oleh satu faktor tunggal. Ada banyak unsur yang saling memengaruhi sejak anak bahkan belum dilahirkan.
“Kecerdasan pada anak merupakan gabungan beberapa faktor yaitu genetika, makanan, lingkungan, pola asuh, bahkan kehidupan ketika masih menjadi janin sudah berpengaruh pada kecerdasannya kelak dan faktor-faktor lainnya,” ujarnya.
Pandangan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa proses tumbuh kembang anak merupakan perjalanan panjang. Asupan gizi, kualitas interaksi dalam keluarga, lingkungan tempat anak bertumbuh, hingga pola pengasuhan sehari-hari menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kemampuan anak.
Di tengah budaya kompetisi yang semakin kuat, tidak sedikit orang tua yang secara tidak sadar membandingkan anak dengan teman sebayanya. Nilai ujian menjadi sumber kebanggaan sekaligus kecemasan. Anak yang tidak unggul di bidang akademik kerap dianggap kurang cerdas.
Padahal, menurut Mia, setiap anak sesungguhnya telah membawa keunikan masing-masing.
“Setiap anak unik dan cerdas, namun terkadang orang tua belum menyadari bahwa kecerdasan tidak hanya seputar akademik saja. Kecerdasan bukan hanya ketika nilai matematika tinggi, nilai IPA tinggi, tetapi kecerdasan itu banyak sekali macamnya, seperti kecerdasan bahasa, kecerdasan kinestetik, kecerdasan sosial, dan lain-lain,” katanya.
Pemahaman tersebut penting karena setiap anak memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan potensinya. Ada anak yang mudah memahami angka, ada yang piawai berkomunikasi, ada pula yang memiliki kepekaan sosial tinggi atau kemampuan menggerakkan orang lain. Kemampuan-kemampuan itu, jika dikenali sejak dini, dapat berkembang menjadi modal berharga di masa depan.
Karena itu, Mia mengingatkan agar orang tua tidak menjadikan nilai akademik sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan anak.
“Oleh karena itu tidak bijak rasanya jika orang tua hanya melihat kecerdasan pada anak dari nilai akademiknya saja,” ujarnya.
Alih-alih memberikan tekanan agar anak selalu menjadi yang terbaik di kelas, orang tua justru diharapkan menjadi pendamping yang mampu mengamati, mengenali, dan mengembangkan potensi yang dimiliki anak. Peran keluarga, menurutnya, bukan sekadar mendorong prestasi, melainkan juga membangun rasa percaya diri dan ruang yang aman bagi anak untuk bertumbuh.
“Maka sebagai orang tua yang bijak dapat mencari dan memahami kecerdasan pada masing-masing anak sehingga kecerdasan tersebut dapat terus dikembangkan dan diasah sehingga menjadi suatu potensi sukses di masa depan anak,” tutur Mia.
Di era ketika keberhasilan sering diukur melalui angka dan peringkat, pesan itu terasa semakin relevan. Sebab, dunia kerja maupun kehidupan sosial kini membutuhkan lebih dari sekadar kecakapan akademik. Kreativitas, kemampuan beradaptasi, komunikasi, kepemimpinan, hingga empati menjadi kualitas yang sama pentingnya.
Mungkin, yang paling dibutuhkan anak bukanlah tuntutan untuk selalu menjadi juara kelas. Melainkan orang tua yang bersedia meluangkan waktu untuk mengenali siapa mereka sebenarnya. Sebab, setiap anak memiliki cara sendiri untuk menjadi cerdas, dan setiap kecerdasan layak mendapat kesempatan untuk tumbuh.



























