HARIANTANAHAIR | Jakarta – Di usia hampir lima abad, Jakarta terus berbenah menjadi kota yang modern dan kompetitif. Jaringan transportasi publik terus berkembang, kawasan bisnis bertambah, dan ruang-ruang publik semakin banyak dimanfaatkan warga. Namun di balik wajah metropolitan itu, masih ada persoalan mendasar yang belum sepenuhnya terselesaikan: akses terhadap air bersih.
Air bersih merupakan kebutuhan paling dasar bagi setiap warga. Namun, bagi sebagian masyarakat Jakarta, memperoleh air layak konsumsi masih menjadi tantangan. Di sejumlah wilayah, penggunaan air tanah masih menjadi pilihan utama karena belum seluruh kawasan terjangkau layanan perpipaan atau karena pertimbangan biaya.
Ketergantungan terhadap air tanah telah lama menjadi perhatian para ahli tata kota. Pengambilan air tanah secara berlebihan berkontribusi terhadap penurunan muka tanah, yang kemudian meningkatkan risiko banjir rob di kawasan pesisir. Persoalan ini menjadi semakin kompleks ketika dihadapkan pada perubahan iklim dan kenaikan muka air laut.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah bersama badan usaha milik daerah terus memperluas jaringan perpipaan sebagai bagian dari upaya mengurangi eksploitasi air tanah. Program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan akses air bersih, tetapi juga menjadi bagian dari strategi menjaga keberlanjutan lingkungan Jakarta.
Di sisi lain, pertumbuhan penduduk dan kebutuhan air yang terus meningkat menuntut pembangunan infrastruktur yang mampu mengimbangi laju perkembangan kota. Penyediaan air bersih tidak lagi dapat dipandang sebagai sekadar layanan dasar, melainkan bagian dari fondasi pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.
Pengamat tata kota menilai kota modern tidak hanya diukur dari banyaknya gedung pencakar langit atau panjang jalan layang yang dibangun. Kualitas hidup masyarakat justru ditentukan oleh kemampuan kota memenuhi kebutuhan dasar secara merata, mulai dari air bersih, sanitasi, transportasi, hingga ruang terbuka hijau.
Bagi Jakarta yang tengah menatap usia 500 tahun, tantangan tersebut menjadi semakin relevan. Status sebagai pusat ekonomi nasional membawa konsekuensi meningkatnya kebutuhan terhadap layanan publik yang berkualitas. Infrastruktur yang andal harus berjalan seiring dengan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Persoalan air juga berkaitan erat dengan ketahanan kota menghadapi masa depan. Kota yang mampu menyediakan air bersih secara merata akan lebih siap menghadapi tekanan perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, maupun perkembangan kawasan permukiman baru. Sebaliknya, jika eksploitasi air tanah terus berlangsung tanpa pengendalian, dampaknya tidak hanya dirasakan generasi saat ini, tetapi juga masyarakat di masa mendatang.
Momentum menuju usia lima abad semestinya menjadi ruang refleksi bahwa pembangunan kota bukan hanya tentang menghadirkan simbol kemajuan, melainkan memastikan setiap warga memperoleh hak atas layanan dasar yang layak. Air bersih menjadi salah satu indikator penting keberhasilan sebuah kota dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Jakarta telah menunjukkan berbagai kemajuan dalam pembangunan perkotaan. Namun, perjalanan menuju kota yang benar-benar layak huni masih membutuhkan konsistensi kebijakan, investasi infrastruktur, serta partisipasi masyarakat. Sebab pada akhirnya, kota yang maju bukan hanya kota yang megah dipandang mata, melainkan kota yang mampu menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik bagi seluruh warganya.
Menjelang usia 500 tahun, Jakarta dihadapkan pada pertanyaan sederhana namun mendasar: apakah setiap warganya telah memperoleh akses terhadap air bersih yang aman dan berkelanjutan? Jawaban atas pertanyaan itu akan menjadi salah satu penentu wajah Jakarta pada abad-abad berikutnya.
*Achi Hartoyo



























