HarianTanahAir | Jakarta — Jumat pagi, 10 Juli 2026, udara di kawasan Taman Cempaka, Cipayung, Jakarta Timur, masih menyisakan embun. Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika puluhan bibit pohon mulai diturunkan dari kendaraan pengangkut. Di antara rerumputan yang masih basah, para relawan, pejabat pemerintah, kader partai, hingga warga berdiri berbaur. Hari itu, mereka datang bukan untuk rapat politik atau kampanye. Mereka datang membawa cangkul, sekop, dan bibit pohon.
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menamai kegiatan itu Pesta Pohon, sebuah gerakan penanaman pohon serentak yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB. Mengusung tema “Menghijaukan Bumi, Menanam Harapan”, kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dan berlangsung hingga siang.
Di tengah kota yang terus bertumbuh oleh beton, pohon menjadi simbol yang sederhana sekaligus penting. Ia tidak berbicara, tetapi bekerja setiap hari: menyerap karbon, menurunkan suhu, menahan air hujan, dan menjadi ruang hidup bagi burung serta serangga. Kota modern sering kali lupa bahwa kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh jalan layang, gedung tinggi, atau pusat perbelanjaan, tetapi juga oleh seberapa banyak ruang yang masih memberi kesempatan alam untuk bernapas.
Jakarta memahami pelajaran itu dengan cara yang tidak selalu menyenangkan. Musim kemarau menghadirkan suhu yang semakin tinggi, sementara musim hujan membawa risiko genangan yang masih menjadi pekerjaan rumah. Di tengah tantangan perubahan iklim, keberadaan pohon semakin dipandang sebagai bagian dari infrastruktur kota, bukan sekadar elemen estetika.
Karena itu, gerakan menanam pohon kerap dimaknai lebih luas daripada aktivitas seremonial. Satu pohon mungkin tidak mengubah wajah kota dalam sehari. Namun, ribuan pohon yang dirawat selama bertahun-tahun dapat mengubah kualitas udara, memperbaiki daya resap tanah, hingga menciptakan ruang teduh yang semakin langka di kawasan perkotaan.
Pesta Pohon PKB menghadirkan sejumlah pejabat nasional dan daerah. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar hadir membuka kegiatan. Turut mendampingi Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki dan Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza.
Sejumlah legislator juga tampak mengikuti penanaman pohon, antara lain anggota DPR RI Rina Sa’adah dan Hasbiallah Ilyas, serta anggota DPRD DKI Jakarta Ahmad Moetaba. Dari unsur pemerintah daerah hadir Wali Kota Administrasi Jakarta Timur Munjirin, Kepala Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Timur Dwi Saridarti Ponangsera, Camat Cipayung Diman, serta Lurah Cilangkap Suratno.
Kehadiran pemerintah daerah menjadi penanda bahwa upaya penghijauan tidak dapat dilakukan sendiri oleh komunitas ataupun partai politik. Pohon membutuhkan perawatan bertahun-tahun setelah ditanam. Tanpa penyiraman, pemangkasan, dan pengawasan, bibit hanya akan menjadi angka dalam laporan kegiatan.
Yang membuat suasana pagi itu berbeda justru datang dari warga. Di antara peserta tampak anggota Betawi Rescue (B.E.R.A.S.) Cabang Kecamatan Kramat Jati, Ikatan Pemulung Indonesia Cabang Kelurahan Pinang Ranti, Karang Taruna Kecamatan Cipayung, serta KOMPAK (Komunitas Masyarakat Pemberdayaan Kemanusiaan) Lubang Buaya. Mereka bukan sekadar undangan, melainkan bagian dari tangan-tangan yang benar-benar menggali tanah dan menanam bibit.
Keterlibatan berbagai komunitas memperlihatkan bahwa isu lingkungan semakin melampaui batas institusi. Pemulung memahami nilai sebuah kota yang bersih. Relawan kebencanaan melihat bagaimana hilangnya tutupan hijau memperbesar risiko banjir dan longsor. Karang Taruna mengenal ruang terbuka sebagai tempat tumbuhnya aktivitas sosial anak muda. Semua memiliki alasan berbeda, tetapi bertemu pada satu titik: menjaga lingkungan adalah kepentingan bersama.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kota dengan ruang hijau yang memadai memiliki suhu permukaan lebih rendah dibanding kawasan yang minim vegetasi. Pohon juga berperan menyaring polutan udara serta meningkatkan kesehatan mental masyarakat melalui keberadaan ruang publik yang lebih nyaman. Di kota besar seperti Jakarta, manfaat itu semakin relevan ketika kepadatan penduduk terus meningkat.
Karena itu, penanaman pohon tidak semestinya berhenti sebagai agenda tahunan. Tantangan terbesar justru dimulai setelah acara selesai. Bibit perlu dipastikan tumbuh, bukan sekadar ditanam untuk kebutuhan dokumentasi. Keberhasilan sebuah gerakan penghijauan lebih tepat diukur dari pohon yang tetap hidup lima atau sepuluh tahun kemudian daripada jumlah bibit yang ditanam pada hari pertama.
Di sinilah Pesta Pohon menjadi menarik untuk dibaca sebagai pesan politik. Politik tidak selalu hadir melalui pidato panjang atau perdebatan kebijakan. Ia juga dapat hadir melalui tindakan sederhana yang manfaatnya baru terasa bertahun-tahun kemudian. Menanam pohon adalah investasi jangka panjang, sesuatu yang hasilnya mungkin dinikmati oleh orang lain yang bahkan tidak ikut menanam.
Bagi generasi yang lahir hari ini, pohon yang ditanam di Taman Cempaka mungkin baru akan benar-benar rindang ketika mereka memasuki bangku sekolah atau perguruan tinggi. Mereka mungkin tidak mengenal siapa yang memegang sekop pada pagi itu. Yang mereka rasakan hanyalah keteduhan, udara yang lebih sejuk, atau burung yang kembali singgah di dahan.
Barangkali memang begitu cara alam bekerja. Ia tidak meminta tepuk tangan. Pohon tidak memilih siapa yang berhak berteduh di bawahnya. Ia memberi manfaat kepada siapa saja.
Di tengah hiruk-pikuk politik yang sering diukur dari seberapa cepat sebuah program menghasilkan dampak, menanam pohon mengajarkan pelajaran berbeda: perubahan yang paling berarti sering kali membutuhkan kesabaran. Sebab, masa depan tidak diwariskan melalui janji, melainkan melalui apa yang benar-benar ditanam hari ini.



























