HarianTanahAir.com | Jakarta — Jakarta sedang bersiap memasuki babak baru. Menjelang usia ke-500 pada 2027, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membawa visi besar: menjadikan ibu kota sebagai kota global yang kompetitif, nyaman dihuni, dan menarik bagi investasi internasional. Target itu tidak lagi sekadar jargon setelah status ibu kota negara beralih ke Nusantara. Kini, Jakarta dituntut membuktikan bahwa ia mampu berdiri sebagai pusat ekonomi, bisnis, dan jasa bertaraf dunia.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bahkan aktif membuka peluang kerja sama internasional untuk mempercepat transformasi tersebut. Dalam pertemuannya dengan sejumlah pejabat Singapura, salah satu fokus yang dibahas adalah pengembangan transportasi publik, pembangunan perkotaan berorientasi transit (Transit Oriented Development/TOD), regenerasi kawasan, hingga peningkatan kualitas hidup warga.
Namun pertanyaan mendasarnya sederhana: apakah warga Jakarta sudah benar-benar merasakan hidup di kota global?
Kota global bukan sekadar dipenuhi gedung pencakar langit, pusat keuangan, atau jaringan transportasi modern. Kota global juga diukur dari seberapa mudah masyarakat mengakses ruang publik, menikmati udara bersih, memperoleh hunian yang layak, serta bergerak tanpa menghabiskan separuh harinya di jalan.
Di atas kertas, Jakarta memang mengalami banyak kemajuan. MRT dan LRT terus berkembang. Jaringan TransJakarta menjadi salah satu sistem Bus Rapid Transit (BRT) terbesar di dunia. Revitalisasi trotoar dan ruang terbuka juga semakin masif dalam beberapa tahun terakhir.
Tetapi realitas di lapangan masih menyisakan pekerjaan rumah yang tidak kecil.
Kemacetan masih menjadi bagian dari rutinitas jutaan warga. Harga rumah terus menjauh dari kemampuan sebagian besar masyarakat kelas menengah. Kualitas udara Jakarta juga masih kerap masuk kategori tidak sehat pada hari-hari tertentu, sementara ketimpangan kualitas pelayanan publik antarwilayah belum sepenuhnya teratasi.
Persoalan lain yang tak kalah mendesak adalah sampah. Setiap hari sekitar 8.000 ton sampah dari Jakarta dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Gunungan sampah yang telah melampaui kapasitas itu menjadi simbol bahwa kota metropolitan ini belum sepenuhnya berhasil menyelesaikan persoalan dasarnya. Pemerintah menargetkan penghentian praktik open dumping dan penutupan bertahap Bantargebang pada 2027, tetapi tantangan penyediaan sistem pengelolaan sampah baru masih sangat besar.
Ironisnya, kota yang ingin menjadi pemain global masih bergulat dengan persoalan yang sangat lokal.
Kota-kota dunia seperti Singapura, Tokyo, hingga Seoul memang dikenal karena kekuatan ekonominya. Namun yang membuat kota-kota itu dihormati bukan semata nilai investasinya, melainkan kualitas hidup warganya. Transportasi publik berjalan tepat waktu, ruang hijau mudah diakses, trotoar nyaman dilalui, pelayanan publik efisien, dan lingkungan relatif bersih.
Jakarta sedang menuju ke arah itu, tetapi jalannya masih panjang.
Transformasi menuju kota global tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik. Gedung tinggi tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan. Investasi besar tidak selalu berbanding lurus dengan kenyamanan hidup warga. Kota akan disebut global ketika manfaat pembangunan benar-benar dirasakan oleh masyarakat dari berbagai lapisan, bukan hanya terlihat dalam laporan investasi atau foto-foto kawasan bisnis.
Momentum menuju usia 500 tahun seharusnya menjadi kesempatan untuk mengubah cara pandang terhadap pembangunan. Ukuran keberhasilan Jakarta semestinya tidak lagi hanya dilihat dari besarnya investasi yang masuk atau jumlah proyek yang selesai dibangun, tetapi juga dari berkurangnya waktu tempuh warga, membaiknya kualitas udara, bertambahnya ruang publik yang inklusif, serta semakin mudahnya masyarakat memperoleh hunian yang layak.
Jakarta memiliki modal besar untuk menjadi kota global. Ekonomi yang kuat, posisi strategis, dan infrastruktur yang terus berkembang menjadi fondasi penting. Namun, status kota global pada akhirnya bukan gelar yang diberikan oleh lembaga internasional ataupun slogan pemerintah.
Status itu akan lahir ketika warganya sendiri dapat mengatakan bahwa hidup di Jakarta terasa lebih mudah, lebih sehat, lebih aman, dan lebih manusiawi daripada sebelumnya. Sebab, kota terbaik bukan hanya yang berhasil menarik investasi, melainkan yang mampu membuat penduduknya betah untuk tetap tinggal.



























