HarianTanahAir | Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mulai membuka ruang bagi alumni Pendidikan Kader Mubalig (PKM) Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI Jakarta untuk mengisi kegiatan dakwah di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Balai Kota dipilih sebagai titik awal pemberdayaan para dai yang selama ini dinilai belum banyak mendapat ruang.
Komitmen itu disampaikan Pramono saat menghadiri Wisuda Pendidikan Kader Mubalig Angkatan XXXII Tahun 2025 dan Studium Generale Angkatan XXXIII Tahun 2026 di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, Jumat, 17 Juli 2026.
Dalam acara tersebut, KODI mewisuda 65 kader mubalig sekaligus menerima 75 mahasiswa baru untuk mengikuti pendidikan kader mubalig angkatan berikutnya.
Keinginan agar alumni KODI diberdayakan lebih luas sebelumnya disampaikan Ketua KODI DKI Jakarta KH Jamaluddin F. Hasyim. Ia mengatakan organisasi yang berdiri sejak 1969 itu telah melahirkan ribuan mubalig, namun belum seluruh potensinya dimanfaatkan, termasuk di lingkungan pemerintah daerah.
“Masjid di lingkungan Pemprov banyak sekali belum memberdayakan dai-dai dari KODI. Mudah-mudahan setelah ini ada instruksi dari Pak Gubernur langsung soal itu,” ujar Jamaluddin.
Menurut dia, sejak kepengurusan saat ini berjalan pada 2022, KODI telah menerima sekitar 2.310 peserta dan mewisuda 1.682 orang. Jika dihitung sejak program kaderisasi dimulai puluhan tahun lalu, jumlah alumninya telah mencapai ribuan orang.
Selain pendidikan mubalig, KODI juga menjalankan pembinaan dakwah di rumah susun sederhana milik dan rumah susun sewa di Jakarta. Namun, keterbatasan anggaran membuat program tersebut baru menjangkau 12 dari sekitar 40 rumah susun yang ada. Sebagian kegiatan mendapat dukungan dari Baznas Bazis DKI Jakarta.

Menanggapi aspirasi itu, Pramono langsung meminta jajarannya membuka ruang bagi alumni KODI untuk berdakwah di Balai Kota.
“Pak Kiai, jangan khawatir. Saya minta nanti Pak Asisten untuk alumni KODI ini diberdayakan di Balai Kota. Kalau perlu kita mulai dari Balai Kota kita,” kata Pramono.
Ia bahkan meminta agar salah satu lulusan terbaik angkatan terbaru diberi kesempatan mengisi khutbah atau ceramah di Masjid Balai Kota pada Jumat pekan depan.
“Jumat depan saya minta salah satu lulusan terbaiknya di masjid kita. Saya pengin tahu bagaimana hasilnya,” ujarnya.
Bagi Pramono, Jakarta membutuhkan dakwah yang tidak hanya mengajarkan nilai-nilai agama, tetapi juga memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat yang semakin majemuk. Ia berharap para mubalig mampu menjadi penguat ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah.
Menurut dia, posisi Jakarta sebagai kota global menuntut hadirnya dakwah yang mampu menjaga toleransi sekaligus memperkuat karakter masyarakat.
“Jakarta sebagai kota global, kota yang berkebudayaan, kota yang inklusif. Benchmark-nya sekarang bukan lagi kota-kota di Indonesia, tetapi kota-kota dunia. Saudara-saudara nantinya akan mengambil peran untuk itu,” kata Pramono.
Ia menegaskan wajah Islam yang ingin dibangun di Jakarta adalah Islam yang membawa kesejukan.
“Islam yang ada di kita adalah Islam yang membawa kesejukan, rahmatan lil alamin,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pramono juga mengungkapkan rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencetak 1.000 Alquran sebagai bagian dari rangkaian peringatan lima abad Jakarta.

Gagasan itu, menurut Pramono, muncul setelah berdiskusi dengan Ketua KODI DKI Jakarta. Dari total 1.000 mushaf yang akan disiapkan, sebanyak 500 akan digunakan untuk kegiatan khataman Alquran dan 500 lainnya untuk kegiatan tadarus.
“Nanti jumlahnya 500 khataman, 500 tadarusan kita taruh di Balai Kota menyambut 5 abad Jakarta,” kata Pramono.
Rencana tersebut diharapkan menjadi bagian dari perayaan 500 tahun Jakarta yang tidak hanya menonjolkan pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat dimensi spiritual dan kebudayaan kota. Bagi Pramono, Jakarta yang menuju kota global tetap harus memiliki fondasi nilai keagamaan dan kebersamaan sebagai identitas utamanya.



























