HarianTanahAir | Jakarta – Di sebuah kedai kopi kecil di Yogyakarta, seorang wisatawan asal Singapura memesan secangkir kopi susu dan sepotong bakpia. Tak ada lagi pertanyaan tentang nilai tukar rupiah atau biaya administrasi kartu kredit internasional. Ia hanya membuka aplikasi pembayaran di ponselnya, memindai kode QR, lalu transaksi selesai dalam hitungan detik.
Adegan sederhana seperti itu kini semakin sering terjadi. Di balik bunyi notifikasi pembayaran yang terdengar biasa, sesungguhnya sedang berlangsung perubahan besar dalam lanskap ekonomi Indonesia.
Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kini tidak lagi hanya menjadi alat pembayaran domestik. Sistem ini mulai menjelma menjadi jembatan transaksi lintas negara yang menghubungkan wisatawan, pelaku usaha, dan ekonomi digital kawasan Asia.
Bank Indonesia mencatat transaksi QRIS antarnegara pada triwulan II 2026 menghasilkan net inbound sebesar Rp1,52 triliun, berasal dari transaksi wisatawan asing di Indonesia yang jauh lebih besar dibanding transaksi warga Indonesia di luar negeri. Angka tersebut menunjukkan semakin banyak uang yang berputar di dalam negeri melalui sistem pembayaran digital nasional.
Namun, angka besar itu memunculkan pertanyaan yang lebih penting: apakah seluruh pelaku UMKM sudah benar-benar siap menyambut peluang tersebut?
Peluang Baru tidak selalu Datang Dua Kali
Selama bertahun-tahun, keterbatasan sistem pembayaran menjadi salah satu hambatan bagi usaha kecil untuk melayani konsumen internasional. Wisatawan asing sering kali harus menukar uang tunai atau menggunakan kartu kredit dengan biaya tambahan.
QRIS mengubah kebiasaan itu.
Kini pembayaran lintas negara telah terhubung dengan sejumlah negara seperti Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, hingga Tiongkok. Bank Indonesia juga tengah memperluas kerja sama dengan India, Hong Kong, dan Arab Saudi sehingga jaringan pembayaran digital Indonesia semakin luas.
Bagi sektor pariwisata, perubahan ini ibarat membuka pintu yang selama ini hanya terbuka setengah.
Warung makan, toko oleh-oleh, pengrajin batik, hingga pedagang pasar tradisional berpotensi menerima pembayaran langsung dari wisatawan asing tanpa harus memasang mesin EDC mahal ataupun rekening luar negeri.
Dalam bahasa ekonomi, hambatan transaksi menjadi semakin kecil. Dalam kehidupan sehari-hari, artinya lebih sederhana: wisatawan lebih mudah berbelanja, pedagang lebih mudah menerima uang.
Tetapi peluang tidak otomatis berubah menjadi keuntungan.
Masih banyak UMKM yang belum memiliki literasi digital memadai. Sebagian belum memahami pencatatan transaksi elektronik, keamanan siber, hingga pentingnya membangun identitas usaha secara digital. Di beberapa daerah, persoalan koneksi internet juga masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya selesai.
Digitalisasi Bukan Lagi Pilihan
QRIS sebenarnya bukan sekadar teknologi pembayaran. Ia menjadi penanda bahwa ekonomi Indonesia sedang bergerak menuju ekosistem yang semakin terkoneksi.
Data Bank Indonesia menunjukkan volume transaksi QRIS secara keseluruhan tumbuh lebih dari 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu mencerminkan perubahan perilaku masyarakat yang semakin nyaman bertransaksi secara digital.
Namun, digitalisasi bukan hanya soal menyediakan kode QR di meja kasir.
Persaingan berikutnya justru berada pada kualitas produk, pelayanan, pemasaran digital, hingga kemampuan membaca kebutuhan konsumen global. Wisatawan yang membayar menggunakan QRIS kemungkinan besar juga akan mencari informasi melalui media sosial, membaca ulasan daring, dan membandingkan harga sebelum memutuskan membeli.
Artinya, transformasi digital harus berlangsung dari hulu hingga hilir.
Indonesia memiliki lebih dari puluhan juta pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Bila semakin banyak di antaranya mampu masuk ke dalam ekosistem pembayaran digital lintas negara, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemilik usaha, tetapi juga sektor pariwisata, industri kreatif, hingga penerimaan ekonomi nasional.
QRIS telah membuka pintu.
Kini tantangannya bukan lagi menciptakan teknologi pembayaran yang modern, melainkan memastikan para pelaku usaha kecil memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya. Sebab dalam ekonomi digital, kemenangan bukan hanya dimiliki oleh mereka yang lebih besar, tetapi juga oleh mereka yang lebih cepat beradaptasi.
Pada akhirnya, satu kode QR mungkin hanya tampak seperti kotak hitam-putih yang ditempel di meja kasir. Namun di balik pola-pola kecil itu tersimpan peluang besar: membawa usaha kecil Indonesia melayani dunia, cukup lewat satu kali pindai.



























