HarianTanahAir.com | Jakarta – Selama bertahun-tahun, pembangunan pendidikan di Indonesia lebih sering diukur dari ruang kelas baru, kurikulum, hingga teknologi pembelajaran. Namun ada satu persoalan mendasar yang acap kali luput dari perhatian: sanitasi.
Padahal, lingkungan belajar yang sehat merupakan prasyarat paling dasar bagi lahirnya sumber daya manusia berkualitas. Di banyak pondok pesantren, persoalan itu masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Atas dasar itu, Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar meluncurkan Program 10.000 MCK untuk pesantren di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Musri, Cianjur, Selasa (4/8). Program tersebut ditujukan untuk memperkuat fasilitas sanitasi di ribuan pesantren yang selama ini masih menghadapi keterbatasan sarana dasar.
Bagi sebagian orang, pembangunan toilet mungkin terdengar sebagai program yang sederhana. Namun dalam perspektif pembangunan manusia, sanitasi bukan sekadar urusan kebersihan. Sanitasi menentukan kualitas kesehatan, produktivitas belajar, hingga martabat lingkungan pendidikan.
Muhaimin menilai kemajuan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari lingkungan belajar yang layak. Menurutnya, pesantren sebagai pusat pembentukan karakter dan ilmu pengetahuan membutuhkan dukungan fasilitas dasar yang memadai agar proses pendidikan berjalan optimal.
Persoalan Lama yang Baru Mendapat Sorotan
Realitas di lapangan menunjukkan masih banyak pesantren yang dihuni ribuan santri tetapi hanya memiliki puluhan unit kamar mandi dan toilet. Rasio tersebut bukan hanya menyulitkan aktivitas sehari-hari, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan dan menurunkan kualitas hidup santri.
Ironisnya, persoalan sanitasi jarang masuk dalam perdebatan besar mengenai reformasi pendidikan. Diskursus publik lebih banyak berkutat pada digitalisasi sekolah, kurikulum, atau kecerdasan buatan, sementara kebutuhan paling mendasar sering kali tertinggal.
Padahal pemerintah sendiri tengah menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu prioritas nasional. Berbagai program pendidikan, peningkatan kualitas guru, revitalisasi sekolah, hingga penguatan karakter menjadi bagian dari agenda pembangunan pendidikan 2026.
Dalam konteks itu, pembangunan fasilitas sanitasi di pesantren dapat dipandang sebagai pelengkap yang menyentuh aspek paling mendasar dari kualitas pendidikan: kesehatan lingkungan belajar.
Pesantren Tak Lagi Hanya Menunggu
Program 10.000 MCK juga memperlihatkan perubahan pendekatan dalam pembangunan pesantren. Jika sebelumnya perhatian lebih banyak diarahkan pada bantuan operasional atau pembangunan ruang belajar, kini isu sanitasi mulai ditempatkan sebagai bagian dari investasi jangka panjang terhadap kualitas pendidikan.
Wakil Ketua DPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum PKB Cucun Ahmad Syamsurijal menegaskan bahwa perhatian terhadap pesantren merupakan bagian dari komitmen perjuangan PKB. Menurutnya, kader partai tidak boleh melupakan pesantren sebagai basis pengabdian kepada masyarakat.
Tantangan berikutnya tentu bukan sekadar membangun 10.000 unit MCK. Yang jauh lebih penting adalah memastikan program tersebut benar-benar menjangkau pesantren yang membutuhkan, dibangun dengan standar sanitasi yang layak, dan dipelihara secara berkelanjutan.
Sebab pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh buku yang dibaca atau teknologi yang digunakan. Ia juga ditentukan oleh hal-hal yang sering dianggap remeh: air bersih yang mengalir, toilet yang layak, dan lingkungan yang sehat. Di sanalah fondasi sumber daya manusia unggul sebenarnya mulai dibangun.
*Achi Hartoyo



























