HARIANTANAHAIR | Jakarta – Lampu-lampu warna-warni kembali menghiasi arena Jakarta Fair Kemayoran. Ribuan stan dipenuhi pengunjung yang berburu diskon, mencicipi kuliner, hingga mengenal produk-produk lokal. Perputaran uang mencapai triliunan rupiah, sementara jutaan orang datang silih berganti selama penyelenggaraan berlangsung. Di atas kertas, Jakarta Fair adalah pesta ekonomi yang nyaris selalu berhasil.
Namun, ada satu pertanyaan yang layak diajukan setelah keramaian itu usai: bagaimana nasib pelaku usaha kecil ketika lampu pameran dipadamkan?
Bagi banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Jakarta Fair memang menjadi panggung yang menjanjikan. Penjualan meningkat berkali-kali lipat dibanding hari biasa. Produk dikenal lebih luas. Relasi bisnis bertambah. Tetapi pengalaman bertahun-tahun menunjukkan satu pola yang berulang. Ramai ketika pameran berlangsung, lalu perlahan kembali sepi setelahnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan UMKM bukan semata soal mendapatkan ruang berjualan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan usaha mereka tetap hidup ketika tidak lagi berada di bawah sorotan panggung pameran.
Jakarta membutuhkan lebih dari sekadar agenda tahunan yang sukses mendatangkan pengunjung. Kota ini memerlukan ekosistem yang membuat UMKM dapat tumbuh sepanjang tahun.
Di sinilah kebijakan publik mengambil peran penting. Akses pembiayaan yang mudah, pendampingan usaha yang berkelanjutan, pelatihan digital, hingga perluasan pasar menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa selesai hanya melalui satu event.
Fraksi PKB DPRD DKI Jakarta menilai keberhasilan Jakarta Fair seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kebijakan pemberdayaan UMKM secara lebih menyeluruh. Pameran bukanlah garis akhir, melainkan pintu masuk agar pelaku usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.
Pendekatan tersebut penting karena wajah ekonomi Jakarta terus berubah. Ruang usaha semakin kompetitif. Perdagangan bergerak cepat ke platform digital. Konsumen juga semakin selektif. Tanpa pendampingan, tidak sedikit UMKM yang kesulitan mempertahankan pertumbuhan usahanya setelah momentum pameran berakhir.
Bahkan, persoalan klasik masih sering dijumpai. Ada pelaku usaha yang kesulitan memperoleh tambahan modal. Ada yang produknya diminati pasar tetapi belum mampu meningkatkan kapasitas produksi. Ada pula yang kualitas produknya baik, namun belum memiliki strategi pemasaran yang memadai.
Ironisnya, banyak pelaku UMKM sebenarnya tidak meminta bantuan yang rumit. Mereka hanya membutuhkan kesempatan yang lebih panjang daripada sekadar membuka stan selama beberapa minggu.
Mereka membutuhkan pasar yang terus bergerak, bukan antrean pembeli yang datang musiman.
Karena itu, Fraksi PKB mendorong agar pemerintah daerah memperkuat berbagai program pendampingan, mulai dari akses pembiayaan yang lebih inklusif, pelatihan pemasaran digital, fasilitasi sertifikasi produk, hingga membuka lebih banyak ruang promosi di fasilitas publik maupun melalui kolaborasi dengan BUMD dan sektor swasta.
Langkah tersebut akan membuat manfaat Jakarta Fair tidak berhenti sebagai capaian angka transaksi semata, melainkan menjadi titik awal pertumbuhan ekonomi rakyat.
Di sisi lain, Jakarta juga sedang menatap usia lima abad sebagai kota global. Predikat itu tentu tidak cukup hanya diukur dari gedung pencakar langit atau besarnya nilai investasi. Kota maju juga diukur dari seberapa besar ruang yang diberikan kepada usaha-usaha kecil untuk bertahan dan berkembang.
UMKM selama ini menjadi bantalan ekonomi masyarakat. Ketika kondisi ekonomi melambat, merekalah yang tetap membuka warung, memproduksi makanan rumahan, menjahit pakaian, membuat kerajinan, hingga menyerap tenaga kerja di lingkungan sekitar. Mereka bukan sekadar pelengkap statistik, melainkan fondasi ekonomi perkotaan.
Jakarta Fair telah membuktikan bahwa masyarakat memiliki daya beli dan antusiasme terhadap produk lokal. Kini tantangannya adalah memastikan antusiasme itu tidak berhenti ketika gerbang pameran ditutup.
Sebab ukuran keberhasilan Jakarta Fair sejatinya bukan hanya berapa juta pengunjung yang datang atau berapa triliun rupiah transaksi yang tercatat. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika pelaku UMKM tetap menerima pesanan pada bulan-bulan berikutnya, usahanya terus berkembang, dan mampu naik kelas tanpa harus menunggu Jakarta Fair tahun depan.
Pesta ekonomi memang penting. Tetapi ekonomi rakyat akan jauh lebih kuat jika kemeriahannya bisa dirasakan sepanjang tahun, bukan hanya selama sebulan.



























