HarianTanahAir.com | Jakarta – Di sudut Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan, sebuah sekolah dasar negeri berdiri dalam keadaan nyaris tak bernyawa. Atap-atap kelas telah runtuh, rangka besi menjulur seperti tulang yang patah, sementara bangku dan meja murid tertimbun debu serta pecahan genteng. Sudah hampir dua tahun bangunan itu roboh. Namun hingga kini, yang bergerak baru waktu—bukan pembangunan.
SDN Kebayoran Lama Selatan 09 menjadi potret yang menyakitkan tentang bagaimana kerusakan fisik sekolah dapat berubah menjadi krisis pelayanan publik. Di kota yang setiap tahun mengelola anggaran ratusan triliun rupiah, ratusan anak justru harus belajar berpindah-pindah ruang karena sekolah mereka belum juga dibangun kembali.
Sebanyak 274 siswa kini menumpang di SDN Kebayoran Lama Selatan 11. Keterbatasan ruang membuat kegiatan belajar mengajar berlangsung hingga tiga shift. Ada siswa yang baru masuk menjelang siang dan pulang ketika matahari mulai tenggelam.
Jam belajar yang memanjang bukan sekadar soal jadwal. Ia mengubah ritme kehidupan anak-anak. Waktu bermain menyusut, kegiatan mengaji sore banyak yang terpaksa ditinggalkan, sementara konsentrasi belajar ikut terkikis oleh kelelahan.
Peristiwa itu bermula pada 27 November 2024. Saat sekolah sedang libur bertepatan dengan pelaksanaan Pilkada, bangunan yang sebelumnya telah menunjukkan tanda-tanda kerusakan akhirnya ambruk setelah diguyur hujan deras. Beruntung tidak ada korban jiwa karena sekolah dalam keadaan kosong.
Namun keselamatan pada hari itu tidak menghapus kerugian yang harus ditanggung anak-anak selama bertahun-tahun sesudahnya.
Ketika memasuki kompleks sekolah saat ini, suasananya menyerupai bangunan yang ditinggalkan. Empat ruang kelas dan satu ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) masih berupa reruntuhan. Rangka atap menggantung tak beraturan, sementara material bangunan berserakan memenuhi ruangan.
Ironisnya, di sisi lain kompleks sekolah, lapangan dan panggung kegiatan masih tampak terawat. Alam seolah perlahan mengambil alih ruang yang ditinggalkan manusia. Rumput mulai tumbuh di sela-sela retakan, sementara debu menutupi perabot yang dulu menjadi saksi riuh suara anak-anak belajar membaca dan berhitung. Gambaran itu mengingatkan bahwa bangunan yang dibiarkan terlalu lama akan perlahan kehilangan fungsinya, sebagaimana ekosistem yang ditinggalkan tanpa pemulihan.
Pihak sekolah menyatakan seluruh proses administrasi sebenarnya telah dijalankan. Laporan kerusakan telah disampaikan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Detail Engineering Design (DED) juga telah selesai disusun pada 2025. Bahkan analisis kondisi tanah telah dilakukan oleh instansi terkait.
Namun pada papan pengumuman yang ditempel di gerbang sekolah tertulis bahwa rehabilitasi total baru diusulkan untuk dilaksanakan pada 2027. Artinya, terdapat jeda bertahun-tahun antara robohnya bangunan dan rencana pembangunan kembali.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar mengenai prioritas pembangunan pendidikan di ibu kota. Kerusakan fasilitas sekolah bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan menyangkut hak dasar anak memperoleh lingkungan belajar yang aman, layak, dan bermartabat.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa peserta didik berhak memperoleh sarana pendidikan yang memadai. Ketika ruang kelas berubah menjadi puing selama bertahun-tahun, yang hilang bukan hanya bangunan, melainkan rasa aman yang semestinya menjadi bagian dari proses belajar.
Harapan kini bertumpu pada percepatan realisasi rehabilitasi, bukan sekadar penyelesaian dokumen perencanaan. Sebab setiap semester yang berlalu berarti satu angkatan murid harus menyelesaikan masa sekolahnya tanpa pernah kembali belajar di ruang kelas milik mereka sendiri.
Di tengah gemerlap pembangunan Jakarta, reruntuhan SDN Kebayoran Lama Selatan 09 menjadi pengingat bahwa kemajuan kota tidak hanya diukur dari gedung-gedung yang menjulang. Ia juga diukur dari seberapa cepat negara hadir ketika atap sekolah anak-anak runtuh. Sebab di balik setiap puing yang dibiarkan terlalu lama, ada masa depan yang ikut menunggu untuk dibangun.



























