HarianTanahAir.com | Jakarta – Kota sebesar Jakarta tak pernah lahir dari kerja satu tangan. Jalan-jalan yang menghubungkan sudut kota, jaringan transportasi massal, gedung-gedung pencakar langit, hingga denyut ekonomi yang tak pernah benar-benar tidur merupakan hasil dari panjangnya kolaborasi berbagai pihak. Memasuki usia lima abad, semangat gotong royong itu dinilai justru harus diperkuat.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PKB, Ida Fauziyah, dalam Coffee Morning DPRD DKI Jakarta di Gedung DPRD DKI Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026. Forum yang mempertemukan pimpinan dan anggota DPRD DKI Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Forkopimda, kalangan dunia usaha, hingga insan pers itu menjadi ruang dialog untuk membahas arah pembangunan Jakarta ke depan.
Menurut Ida, tantangan Jakarta saat ini jauh lebih kompleks dibanding sekadar membangun infrastruktur. Kota metropolitan dengan jutaan penduduk itu membutuhkan kesamaan visi antarlembaga agar setiap kebijakan saling melengkapi, bukan berjalan sendiri-sendiri.
“Diperlukan, karena membangun Jakarta tidak bisa. Jakarta harus dikeroyok bersama,” kata Ida.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa masa depan Jakarta tidak hanya berada di tangan pemerintah daerah. DPRD, pemerintah pusat, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat memiliki peran yang sama penting dalam menentukan arah kota setelah tidak lagi menyandang status sebagai ibu kota negara secara penuh.
Bagi Ida, forum seperti Coffee Morning menjadi lebih dari sekadar ajang silaturahmi. Pertemuan informal itu menjadi ruang untuk menyamakan persepsi sekaligus memperkuat koordinasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan strategis Jakarta.
Kolaborasi menjadi Modal Terbesar Jakarta
Ida menilai Jakarta memiliki modal yang tidak dimiliki banyak daerah lain di Indonesia. Selain infrastruktur yang relatif matang, kota ini juga menjadi pusat pemerintahan, bisnis, investasi, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi nasional.
Namun, seluruh potensi tersebut tidak akan menghasilkan dampak maksimal apabila setiap institusi berjalan dengan agendanya masing-masing.
Menurut dia, sinergi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan DPRD menjadi fondasi penting dalam merumuskan kebijakan daerah. Di saat yang sama, dukungan pemerintah pusat tetap diperlukan mengingat Jakarta masih memegang peran strategis sebagai pusat ekonomi nasional.
“Kalau semua mau bersinergi, saya kira yakin Jakarta benar-benar menjadi terdepan, kota terdepan di Indonesia. Dan bisa menjadi etalase kota di Indonesia,” ujarnya.
Optimisme itu bukan tanpa alasan. Jakarta masih menjadi magnet investasi, pusat perdagangan, sekaligus gerbang utama Indonesia di mata dunia. Karena itu, setiap kebijakan pembangunan harus mampu memperkuat daya saing kota, bukan hanya menyelesaikan persoalan jangka pendek.
Forum Coffee Morning DPRD DKI Jakarta sendiri mencerminkan pentingnya komunikasi lintas sektor. Kehadiran unsur pemerintah, legislatif, aparat keamanan, organisasi dunia usaha, dan media menunjukkan bahwa pembangunan kota modern membutuhkan ruang dialog yang terbuka.
Membangun Manusia, Menjaga Masa Depan Kota
Meski kolaborasi menjadi tema utama, Ida mengingatkan bahwa tujuan akhirnya tetap sama, yakni meningkatkan kualitas hidup masyarakat Jakarta. Karena itu, sinergi antarlembaga harus diarahkan pada pembangunan manusia melalui sektor pendidikan dan kesehatan.
Ia menilai kesempatan pendidikan bagi anak-anak berprestasi dari keluarga kurang mampu harus terus diperluas. Beasiswa hingga peluang menempuh pendidikan di luar negeri perlu menjadi investasi jangka panjang agar Jakarta memiliki sumber daya manusia yang mampu bersaing secara global.
Di sektor kesehatan, Jakarta juga dinilai memiliki peluang besar menjadi pusat layanan kesehatan nasional. Dengan fasilitas yang terus berkembang, masyarakat Indonesia diharapkan tidak lagi bergantung pada layanan kesehatan di luar negeri.
Bagi Ida, transformasi Jakarta menuju usia lima abad tidak cukup diukur dari bertambahnya gedung tinggi atau proyek infrastruktur baru. Kota ini harus mampu menghadirkan pelayanan publik yang berkualitas, melahirkan generasi unggul, serta membangun ekosistem yang mendorong inovasi dan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, kolaborasi tidak boleh berhenti sebagai slogan. Sinergi harus diwujudkan dalam kebijakan yang saling menguatkan, mulai dari penyusunan anggaran, pengembangan pendidikan, peningkatan layanan kesehatan, hingga penciptaan iklim investasi yang sehat.
Jakarta, pada akhirnya, bukan sekadar kumpulan bangunan megah. Kota ini adalah ruang hidup jutaan orang dengan harapan yang sama: tumbuh di kota yang maju, inklusif, dan memberi kesempatan yang setara bagi setiap warganya. Menuju lima abad, tantangan terbesar Jakarta bukan lagi membangun kotanya, melainkan memastikan seluruh pihak membangun masa depannya bersama.


























