Oleh: Achi Hartoyo
Pernahkah kita merasa hidup ini seperti sudah ditulis, tetapi pada saat yang sama tetap meminta kita untuk memilih?
Begitulah.
Sejak kecil kita diajarkan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan. Rezeki, umur, pertemuan, bahkan perpisahan. Namun kita juga diminta untuk berdoa, berikhtiar, dan memperbaiki diri seolah masa depan belum selesai diputuskan. Di situlah saya sering berhenti sejenak. Jika semuanya sudah ditentukan, mengapa masih ada doa?
Jika doa mampu mengubah sesuatu, apa sebenarnya makna ketetapan?
Barangkali persoalannya bukan karena hidup terlalu rumit, melainkan karena kita terlalu terbiasa memandangnya sebagai pilihan yang sederhana: ya atau tidak, benar atau salah, berhasil atau gagal. Padahal, semakin banyak membaca, semakin sering saya menemukan bahwa baik agama maupun sains justru mengajarkan kerendahan hati yang sama. Ada wilayah yang dapat kita pahami, tetapi jauh lebih banyak yang hanya bisa kita renungkan. Di antara ketetapan dan kemungkinan itulah kita hidup, berjalan, memilih, berdoa, lalu belajar menerima bahwa tidak semua misteri diciptakan untuk segera dijawab.
Dari 0 dan 1, Lahir Semesta yang Tak Pernah Sederhana
Komputer hanya mengenal dua angka: 0 dan 1. Tidak ada abu-abu. Tidak ada “mungkin”. Hanya ada mati atau hidup, salah atau benar, ada atau tiada. Dari dua angka yang tampak sederhana itulah lahir teknologi yang hari ini menghubungkan miliaran manusia. Menariknya, kita pun sering menjalani hidup dengan cara yang serupa. Kita menilai diri sendiri secara biner: sukses atau gagal, kaya atau miskin, dicintai atau ditinggalkan, menang atau kalah. Seolah-olah kehidupan memang sesederhana tombol yang hanya memiliki dua pilihan.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Di antara gagal dan berhasil, ada proses panjang yang membentuk manusia. Di antara kehilangan dan pertemuan, ada hikmah yang baru dipahami bertahun-tahun kemudian. Bahkan sesuatu yang hari ini kita anggap musibah, kelak bisa menjadi pintu menuju kebaikan yang tak pernah kita bayangkan. Kehidupan ternyata jauh lebih luas daripada sekadar hitam dan putih.
Di sinilah kalimat La ilaha illallah menjadi lebih dari sekadar syahadat. Ia adalah cara memandang realitas. Penegasan bahwa di balik begitu banyak pilihan, kemungkinan, dan ketidakpastian, hanya ada satu kepastian yang mutlak: Allah. Segala sesuatu berubah (manusia, waktu, keadaan, bahkan keyakinan kita terhadap diri sendiri) tetapi Dia tetap. Ketika manusia sibuk mencari pegangan pada hal-hal yang sementara, tauhid mengingatkan bahwa sandaran sejati tidak pernah berpindah.
Lauhul Mahfudz: Ketika Takdir Masih Menyisakan Ruang bagi Doa
Salah satu pertanyaan yang mungkin pernah singgah di kepala kita adalah: jika semua sudah ditetapkan, untuk apa berdoa?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak pernah benar-benar sesederhana itu. Dalam tradisi Islam, kita mengenal Lauhul Mahfudz, tempat di mana seluruh ketetapan Allah telah tertulis. Tidak ada yang luput. Kelahiran, kematian, rezeki, pertemuan, bahkan langkah-langkah kecil yang kita anggap kebetulan. Semua berada dalam pengetahuan-Nya.
Namun, di saat yang sama, kita juga diajarkan untuk terus mengetuk pintu langit. Memohon kesehatan, memohon kemudahan, memohon agar jalan yang terasa buntu dibukakan. Rasulullah SAW bahkan mengajarkan bahwa doa dapat menolak bala. Sepintas, dua hal ini tampak bertentangan. Jika semuanya sudah tertulis, bagaimana mungkin doa mengubah sesuatu?
Barangkali kita sedang membayangkan takdir seperti tulisan di atas batu: kaku, dingin, dan tak mungkin bergeser. Padahal para ulama menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi karena doa pun telah berada dalam ilmu Allah. Bukan berarti manusia mengalahkan takdir, melainkan doa itu sendiri adalah bagian dari takdir. Allah telah mengetahui bahwa seorang hamba akan berdoa, lalu karena doa itulah sebuah ketetapan dijalankan dengan cara yang berbeda.
Di situlah letak keindahan ikhtiar. Kita tidak pernah diminta mengetahui akhir cerita. Kita hanya diminta menjadi tokoh yang terus berjalan di dalamnya. Berusaha sebaik mungkin, berdoa setulus mungkin, lalu menerima hasilnya dengan hati yang lapang. Sebab ketenangan bukan lahir ketika kita mampu mengendalikan masa depan, melainkan ketika kita percaya bahwa masa depan berada di tangan Dzat yang tidak pernah salah menetapkan sesuatu.
Cahaya, Celah Ganda, dan Pelajaran tentang Kerendahan Hati
Semakin banyak manusia belajar, semakin banyak pula misteri yang ditemukan.
Pada awalnya, cahaya dianggap sebagai gelombang. Lalu lahirlah berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa cahaya juga dapat bersifat seperti partikel. Elektron pun memperlihatkan perilaku yang sama melalui eksperimen celah ganda. Dalam kondisi tertentu ia tampak seperti gelombang yang menyebar, pada kondisi lain ia bertindak layaknya partikel yang memiliki posisi. Semakin dicermati, semakin sulit dijelaskan dengan intuisi sehari-hari.
Bagi para ilmuwan, semua itu adalah jalan panjang untuk memahami alam semesta. Bagi kita, kisah itu menghadirkan pelajaran yang lain. Bahwa realitas tidak selalu tunduk pada cara berpikir yang kita anggap paling masuk akal. Ada banyak hal yang benar-benar terjadi meskipun belum sepenuhnya mampu kita pahami.
Bukankah kehidupan pun sering demikian?
Ada pertemuan yang terasa kebetulan, tetapi mengubah seluruh arah hidup. Ada kegagalan yang baru kita syukuri bertahun-tahun kemudian. Ada doa yang tidak segera dikabulkan, tetapi ternyata sedang diarahkan menuju sesuatu yang jauh lebih baik. Kita baru memahami polanya setelah cukup jauh melangkah.
Mungkin karena itu, ilmu pengetahuan yang sejati justru melahirkan kerendahan hati. Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin ia sadar bahwa masih ada samudra yang belum disentuh. Sains tidak menghapus misteri. Ia justru menunjukkan betapa luasnya wilayah yang belum kita mengerti. Dan di titik itulah, kesombongan perlahan berubah menjadi kekaguman.
Kucing Schrodinger dan Kehidupan yang Baru Menjadi Nyata saat Dijalani
Manusia barangkali adalah makhluk yang paling sering hidup di masa depan.
Kita mencemaskan pekerjaan yang belum tentu hilang. Mengkhawatirkan penyakit yang belum tentu datang. Takut ditolak oleh orang yang bahkan belum sempat kita temui. Pikiran kita berlari jauh mendahului waktu, seolah-olah semua kemungkinan buruk sudah menjadi kenyataan.
Eksperimen pikiran tentang Kucing Schrodinger menggambarkan seekor kucing yang, dalam kerangka teori kuantum, berada dalam keadaan yang belum dapat dipastikan sebelum hasilnya diketahui. Terlepas dari tujuan ilmiahnya, gagasan itu menghadirkan metafora yang menarik tentang kehidupan: sering kali kita menghabiskan tenaga menghadapi sesuatu yang sesungguhnya belum terjadi.
Padahal hidup tidak pernah meminta kita menjalani seribu kemungkinan sekaligus. Hidup hanya meminta kita menjalani hari ini. Menyelesaikan pekerjaan yang ada di depan mata. Mengucapkan kata-kata yang baik kepada orang-orang terdekat. Memperbaiki diri sedikit demi sedikit. Selebihnya adalah wilayah yang tidak berada dalam kuasa kita.
Mungkin itulah makna tawakal yang paling sering terlupakan. Tawakal bukan berhenti berusaha, apalagi menyerah pada keadaan. Tawakal adalah keberanian untuk melakukan semua yang mampu kita lakukan, lalu melepaskan hasilnya kepada Allah. Sebab kita tidak pernah mengetahui masa depan secara utuh. Hanya Allah yang mengetahui seluruh kemungkinan sekaligus seluruh kepastian.
Pada akhirnya, hidup memang selalu berada di antara ketetapan dan kemungkinan. Kita tidak memegang pena yang menulis takdir, tetapi kita diberi kesempatan untuk mengisi setiap lembar perjalanan dengan doa, ikhtiar, dan amal terbaik. Dan barangkali, ketenangan bukan datang ketika semua pertanyaan berhasil dijawab. Ketenangan hadir ketika kita percaya bahwa di balik setiap pertanyaan, selalu ada Allah yang telah mengetahui jawabannya sejak awal.
Mungkin itulah sebabnya hidup tidak pernah benar-benar dapat dipahami hanya dengan logika yang sederhana. Kita memang diajarkan untuk memilih antara yang baik dan yang buruk. Namun kita juga diajarkan untuk percaya bahwa di balik setiap peristiwa ada kehendak yang melampaui jangkauan nalar. Semakin jauh kita berjalan, semakin kita menyadari bahwa hidup bukan sekadar persoalan memilih antara 0 atau 1. Di balik semua kemungkinan itu, selalu ada satu Dzat yang mengetahui keseluruhan cerita, bahkan ketika kita baru membaca halaman pertamanya.
Pada Akhirnya, Kita Pulang kepada Satu Kepastian
Semakin lama menjalani hidup, semakin kita menyadari bahwa tidak semua hal diciptakan untuk dipahami. Ada takdir yang baru terlihat indah setelah bertahun-tahun berlalu. Ada doa yang terasa tak dijawab, padahal sedang disiapkan dalam bentuk yang lebih baik. Ada pengetahuan yang justru melahirkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Mungkin memang demikian cara Allah mendidik manusia: bukan dengan memberikan seluruh kepastian, melainkan dengan mengajarkan bagaimana tetap melangkah di tengah ketidakpastian.
Barangkali itulah makna terdalam dari La ilaha illallah. Bukan sekadar kalimat yang diucapkan oleh lisan, melainkan cara memandang kehidupan. Ketika kita menyadari bahwa hanya Allah satu-satunya kepastian, kecemasan perlahan berubah menjadi ikhtiar, keraguan berubah menjadi doa, dan kesombongan berubah menjadi kerendahan hati. Kita tidak pernah diminta mengetahui seluruh isi Lauhul Mahfudz, memahami seluruh misteri alam semesta, atau menebak apa yang akan terjadi esok hari. Kita hanya diminta menjadi hamba yang terus berusaha, terus berdoa, dan terus percaya bahwa di balik setiap ketetapan-Nya, selalu ada hikmah yang mungkin baru akan kita pahami ketika perjalanan ini benar-benar sampai di tujuan.


























